bukamata.id – Pemandangan langit pagi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mendadak berubah drastis menjadi lautan warna kuning pekat hingga merah menyala. Pukul 10.00 WITA, alih-alih mendapati sinar matahari yang hangat, seorang warga di sebuah kompleks perumahan justru dikejutkan oleh atmosfer kelabu kemerahan yang pekat hingga membuat matahari tertutup rapat. Suasana yang begitu asing dan mencekam ini memicu rekaman video amatir yang langsung viral di media sosial, dengan luapan keputusasaan warga yang menuliskan keterangan, “Apakah ini masih di bumi?”
Video kondisi ekstrem tersebut tak ayal menyedot perhatian publik secara luas dan memicu gelombang simpati serta keheranan dari para warganet di media sosial. Visual alam yang berubah drastis itu bahkan membuat banyak netizen merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat di layar kaca.
“Malah kayak salah satu adegan di film Zathura,” komentar salah satu netizen yang merasa pemandangan tersebut bak adegan sinematik ruang angkasa yang menakutkan.
Namun di balik perbandingan visual yang terkesan surealis tersebut, doa dan keprihatinan mendalam mengalir deras dari publik untuk masyarakat yang terdampak langsung bencana ini.
“Ya Allah semoga selamat dan sehat selalu kalian di sana,”* tulis seorang warganet mendoakan keselamatan warga Kalimantan.
Sensitivitas dan rasa keprihatinan juga dirasakan oleh warga di daerah lain yang merasakan betapa beratnya berjuang di tengah polusi dan cuaca buruk, terlebih bagi mereka yang memiliki buah hati.
“Kita di dieu sedih ya, ga hujan2 debu banyak apalagi Tuparev tuh dan bbrp perbaikan. Tapi ada yg lebih menyedihkan lagi😢 yg punya anak2 pasti ngerti sedihnya seperti apa,”* ungkap netizen lainnya yang turut merasakan empati mendalam atas nasib anak-anak yang terpaksa menghirup udara beracun saban hari.
Atmosfer Seperti Kamar Gas dan Ancaman PM2.5
Fenomena langit menyerupai planet Mars atau ruangan penuh gas beracun ini bukanlah efek filter digital, melainkan realitas pahit akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian tak terkendali. Aktivis Dayak, Emmanuella Shinta, yang merekam kondisi langsung dari lapangan dengan mengenakan masker respirator dan kacamata pelindung, menegaskan bahwa kota tersebut telah berubah menjadi ruang gas raksasa tempat warga harus berjuang bertahan hidup tanpa celah untuk melarikan diri.
Konsentrasi partikulat berbahaya melambung tinggi di udara. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya (Jekan Raya) bahkan tercatat mencapai angka 4.055, yang dikategorikan sebagai tingkat sangat Berbahaya dan jauh melampaui ambang batas aman. Angka ekstrem ini menunjukkan betapa beracunnya udara yang dihirup oleh masyarakat setiap detiknya.
Jeritan Hati Warga: “Bagaimana Kami Bernafas?”
Krisis ekologis ini telah memasuki bulan ketiga di beberapa wilayah, memicu keputusasaan mendalam di kalangan masyarakat. Dalam sebuah rekaman video lain yang memperlihatkan pengendara sepeda motor melintasi jalanan berkabut kuning pekat, seorang warga meluapkan permohonan darurat kepada pemerintah pusat.
“Buat Prabowo, segera tetapkan ini sebagai bencana nasional, Pak! Kami warga Palangkaraya, warga Kalimantan, sudah nggak tahan lagi sama asap kuning kayak gini, Pak. Gimana kami bernafas, Pak? Gimana? Udah tiga bulan kayak gini, Pak… Lama-lama kami mati!” seru seorang warga dengan penuh emosi di atas kendaraannya.
Kondisi ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas luar ruangan, tetapi juga memicu kepanikan massal. Buruknya kualitas udara akibat karhutla membuat warga serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) harus berswadaya mendirikan “rumah aman asap” demi menyelamatkan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
Dampak Luas hingga Wilayah Bangka Belitung dan Singapura
Dampak karhutla pada pertengahan Oktober 2026 ini tidak hanya terpusat di Kalimantan Tengah. Tragedi serupa turut melanda Dusun Serdang di Bangka Belitung, di mana amukan api yang dipicu oleh kekeringan ekstrem dan angin kencang telah meluluhlantakkan ratusan rumah warga. Warga setempat, Ernawati, menceritakan bagaimana api merambat cepat ke pemukiman karena sumber air yang mengering serta tiupan angin yang kuat, memaksa ratusan jiwa kehilangan tempat tinggal dan mengungsi di bawah tenda-tenda darurat.
Gelombang asap pekat dari kebakaran hutan di Indonesia bahkan melintasi batas negara. Laporan dari Singapura dan Kuala Lumpur menunjukkan bahwa partikulat asap turut memperburuk kualitas udara di negara-negara tetangga, menempatkan Singapura sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia akibat dampak ikutan asap dari Indonesia.
Respon Pemerintah dan Langkah Mitigasi
Menanggapi eskalasi krisis yang kian mengkhawatirkan, Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas penanganan karhutla di Istana Merdeka, Jakarta. Dalam arahannya, Presiden menyoroti penurunan luas lahan yang terbakar jika dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya. Berdasarkan laporan yang diterima, luas lahan yang sebelumnya mencapai ratusan ribu hektar kini diklaim telah berhasil ditekan di bawah 1.000 hektar berkat intervensi dan kerja cepat aparat di lapangan.
Kendati demikian, data lapangan, gelombang simpati publik, serta jeritan warga di Palangkaraya menunjukkan bahwa krisis kesehatan dan lingkungan masih berada di tingkat darurat tertinggi. Penetapan mitigasi jangka panjang serta langkah penegakan hukum yang tegas dinilai menjadi kunci utama agar langit Kalimantan tidak lagi berubah menjadi “ruang gas” yang mengancam eksistensi kehidupan manusia di bumi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











