bukamata.id – Perjalanan Persib Bandung di kancah Asia musim 2025/2026 ternyata harus dibayar sangat mahal. Bukan cuma soal keringat di lapangan, tapi juga tumpukan denda dari AFC yang nilainya kini sudah menembus angka fantastis, yakni Rp1,1 miliar.
Ambisi Maung Bandung untuk berprestasi di Liga Champions Asia Two (LCA 2) justru dibayangi oleh rentetan hukuman akibat pelanggaran regulasi dan perilaku suporter yang tidak terkendali.
Kronologi “Hujan Denda” dari AFC
Dosa pertama Persib bermula pada Oktober 2025. Masalahnya sepele namun fatal: administrasi tiket yang tidak mencantumkan nomor kursi. Akibatnya, denda Rp33 juta langsung melayang.
Namun, itu hanya permulaan. Berikut adalah rincian sanksi yang terus membengkak:
- Tragedi Lawan Selangor FC (November 2025): Gara-gara flare, pelemparan botol, hingga kursi yang tetap tidak bernomor, AFC menjatuhkan denda Rp436 juta. Tak hanya uang, kapasitas stadion pun dipangkas 25% sebagai hukuman tambahan.
- Insiden Bangkok United (Desember 2025): Pelanggaran makin berat dengan menyalanya sembilan flare dan akses keluar stadion yang mampet. Kali ini, denda melonjak jadi Rp503 juta.
- Kericuhan di Ratchaburi (April 2026): Meski bermain tandang, suporter Persib terlibat gesekan dengan pendukung tuan rumah. AFC yang menganggap ini sebagai pelanggaran berulang kembali mendenda klub sebesar Rp148 juta.
Ancaman Sanksi Lebih Berat Menanti
Sayangnya, angka Rp1,1 miliar ini belum tentu final. Persib saat ini sedang was-was menunggu keputusan sidang Komite Disiplin AFC terkait laga kontra Ratchaburi pada 18 Februari lalu.
Meski laga berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Persib, insiden penonton yang nekat turun ke lapangan usai laga menjadi sorotan tajam. Jika berkaca pada rekam jejak sebelumnya, Maung Bandung terancam hukuman yang jauh lebih pedih, baik secara finansial maupun larangan penonton.
Asisten Pelatih dan Pemain Juga Kena “Getah”
Denda ini makin panjang jika menghitung sanksi personal. Asisten pelatih, Miro Petric, harus merogoh kocek sekitar Rp166 juta akibat tindakan indisipliner, sementara pemain asing Uilliam Barros juga tak luput dari denda sebesar Rp25 juta.
Fenomena ini menjadi alarm keras bagi manajemen dan suporter. Jika perilaku di dalam dan luar lapangan tidak segera diperbaiki, prestasi yang dikejar di Asia justru bisa berakhir dengan kebangkrutan reputasi dan finansial.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










