bukamata.id – Bencana tanah longsor berskala besar menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Peristiwa ini menjadi salah satu longsor terparah di wilayah tersebut karena tidak hanya menimbun puluhan rumah warga, tetapi juga menimpa prajurit TNI Angkatan Laut (AL) yang tengah berada di lokasi.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengonfirmasi bahwa 23 personel Marinir menjadi korban dalam musibah ini.
4 Prajurit Marinir Gugur, 19 Masih Dalam Pencarian
Dari total 23 prajurit yang tertimbun material longsor, empat personel ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, 19 prajurit lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim SAR gabungan.
Proses pencarian dilakukan tanpa henti meski dihadapkan pada medan ekstrem, cuaca buruk, dan risiko longsor susulan.
Sedang Latihan Pratugas Pengamanan RI–PNG
Para prajurit Marinir tersebut diketahui sedang menjalani latihan persiapan penugasan pengamanan wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG). Mereka tiba di kawasan Cisarua pada Jumat malam sekitar pukul 20.00 WIB.
Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama dua hari berturut-turut diduga menjadi pemicu utama terjadinya longsor pada dini hari.
200 Marinir Dikerahkan, Drone dan Anjing Pelacak Digunakan
Untuk mempercepat proses evakuasi, TNI AL mengerahkan sedikitnya 200 personel Marinir. Mengingat akses jalan yang sempit serta kondisi tanah yang labil, alat berat belum dapat dioptimalkan sepenuhnya.
Sebagai gantinya, tim SAR menggunakan drone termal untuk mendeteksi panas tubuh di bawah timbunan tanah. Selain itu, anjing pelacak (K9) turut diterjunkan guna membantu menemukan posisi korban yang tertimbun.
Badan Geologi Ungkap Penyebab Longsor
Berdasarkan kajian Badan Geologi, longsor di Cisarua bukan semata-mata disebabkan alih fungsi lahan, melainkan kombinasi faktor alam ekstrem, antara lain:
- Kemiringan lereng sangat curam, mencapai 30–40 derajat
- Lapisan tanah vulkanik tebal lebih dari 15 meter, bersifat gembur dan mudah jenuh air
- Curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari sebelum kejadian
Kombinasi faktor tersebut membuat lereng kehilangan kestabilan dan akhirnya runtuh.
TNI AL Pastikan Hak Keluarga Prajurit Dipenuhi
TNI Angkatan Laut menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para prajurit Marinir. Melalui Dinas Penerangan TNI AL, ditegaskan bahwa seluruh hak keluarga korban, termasuk santunan dan pendampingan psikologis, akan diberikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Proses Identifikasi oleh Tim DVI Polri
Seluruh jenazah korban, baik dari kalangan prajurit TNI maupun warga sipil, diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk proses identifikasi.
Hingga Senin (26/1/2026), tercatat 29 kantong jenazah berhasil dievakuasi dari lokasi longsor. Dari jumlah tersebut, empat jenazah telah teridentifikasi sebagai anggota TNI AL, sementara sisanya masih dalam proses identifikasi lebih lanjut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










