bukamata.id – Timnas Indonesia akan menghadapi Timnas Thailand dalam final FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (5/10/2026) malam WIB.
Bermain di hadapan pendukung sendiri menjadi keuntungan bagi Skuad Garuda. Namun, Timnas Indonesia dibayangi catatan buruk setiap kali berhadapan dengan Thailand di partai puncak turnamen ASEAN.
Indonesia dan Thailand tercatat sudah empat kali bertemu di final Piala AFF/Piala Tiger. Hasilnya, Timnas Indonesia belum pernah menjadi juara saat menghadapi Thailand di partai puncak.
Bahkan, pada pertemuan terakhir di final Piala AFF 2020, Indonesia kalah dengan agregat 2-6.
Pada leg pertama yang berlangsung di Stadion Nasional Singapura, Indonesia takluk 0-4. Skuad Garuda kemudian hanya mampu bermain imbang 2-2 pada leg kedua.
Rekor tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pasukan John Herdman pada final FIFA ASEAN Cup 2026.
Rekor Indonesia vs Thailand di Final
Berikut catatan empat pertemuan Indonesia dan Thailand di final Piala AFF/Piala Tiger:
- Piala Tiger 2000: Thailand menang 4-1 atas Indonesia.
- Piala AFF 2002: Indonesia bermain 2-2 melawan Thailand, sebelum kalah adu penalti 2-4.
- Piala AFF 2016: Indonesia menang 2-1 pada leg pertama, tetapi kalah 0-2 pada leg kedua sehingga Thailand menjadi juara.
- Piala AFF 2020: Indonesia kalah 0-4 pada leg pertama dan bermain imbang 2-2 pada leg kedua.
Artinya, empat kali bertemu Thailand di final, Indonesia selalu gagal mengangkat trofi.
Namun, John Herdman tidak ingin anak asuhnya terlalu larut dengan sejarah tersebut.
John Herdman Tak Pusingkan Rekor Buruk Indonesia
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman mengakui Thailand memiliki pengalaman dan sejarah yang lebih baik ketika berhadapan dengan Indonesia.
Meski demikian, Herdman menilai final FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi kesempatan bagi Skuad Garuda untuk mengubah tren tersebut.
“Saya mempelajari sejarah pertandingan kedua tim. Saya pikir Thailand telah memenangkan cukup banyak pertandingan melawan Indonesia. Jadi, saya yakin mereka akan percaya diri. Mereka memiliki sejarah mengalahkan Indonesia,” kata Herdman kepada media, Minggu (4/10).
Menurut Herdman, Indonesia harus mampu mengambil langkah penting untuk memutus dominasi Thailand.
“Bagi kami, ini merupakan langkah penting. Para pemain harus memastikan bahwa mereka mampu mengambil langkah untuk membalikkan tren tersebut. Kemudian jika melihat kualitasnya, Thailand sudah terbiasa bermain dalam kondisi seperti ini. Mereka memahami bagaimana bermain sepak bola di ASEAN,” ujarnya.
Pelatih asal Inggris itu juga melihat adanya sejumlah keunggulan yang dimiliki Timnas Indonesia saat ini.
Skuad Garuda diperkuat pemain yang berkarier di sejumlah kompetisi Eropa. Kondisi tersebut dinilai Herdman menjadi modal penting untuk menghadapi Thailand.
“Seperti yang saya katakan, mereka adalah tim yang berpengalaman. Mereka memiliki jumlah penampilan internasional yang lebih banyak daripada kami. Di banyak posisi, kami memiliki pemain dengan postur yang lebih tinggi. Mereka memiliki rata-rata usia yang lebih tua, sedangkan kami lebih muda,” tutur Herdman.
“Mereka juga lebih segar karena mampu melakukan rotasi pemain dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya. Secara kualitas individu, kami memiliki lebih banyak pemain yang bermain di liga-liga yang lebih tinggi, sehingga kami memiliki keunggulan secara kualitas,” ucapnya.
Chanathip Soroti Perubahan Timnas Indonesia
Di kubu Thailand, kapten Chanathip Songkrasin juga menyadari bahwa Timnas Indonesia saat ini bukanlah tim yang sama seperti ketika kedua negara bertemu di final sebelumnya.
Pemain yang mendapat julukan Messi Jay itu menyoroti banyaknya pemain keturunan yang memperkuat Skuad Garuda.
“Mungkin hampir tiga atau empat tahun lalu kami bertemu Indonesia di final (Piala AFF 2020). Tentu saja, jika ditanya apakah banyak perubahan, sekarang semua negara di ASEAN sudah berkembang sangat pesat,” kata Chanathip, Minggu (4/10).
“Mengenai komposisi itu sendiri, sekarang ada banyak pemain keturunan. Sekarang sepertinya Indonesia memiliki, bagaimana saya mengatakannya, cukup banyak pemain keturunan. Mereka juga bermain di liga dengan level yang tinggi,” ujarnya.
Timnas Indonesia saat ini memiliki sejumlah pemain yang berkompetisi di La Liga, Eredivisie, Bundesliga, Championship Inggris hingga Ligue 1.
Perubahan tersebut membuat Chanathip melihat kekuatan Skuad Garuda semakin meningkat dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Chanathip sendiri sudah dua kali menghadapi Indonesia di final Piala AFF, yakni pada edisi 2016 dan 2020. Kini, pemain berusia 33 tahun itu kembali menghadapi Indonesia di partai puncak dengan komposisi skuad yang berbeda.
“Tentu saja mereka (pemain keturunan Indonesia) memiliki kekuatan fisik dan juga memiliki kemampuan serta keterampilan yang sangat baik,” ucap Chanathip.
Indonesia Punya Kesempatan Putus Rekor Thailand
Final FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi kesempatan bagi Timnas Indonesia untuk mengakhiri catatan buruk saat menghadapi Thailand di partai puncak.
Bermain di SUGBK dengan dukungan langsung suporter Indonesia, Skuad Garuda tentu berharap sejarah tidak kembali terulang.
Di sisi lain, Thailand datang dengan pengalaman panjang di kompetisi ASEAN dan modal rekor positif atas Indonesia. Chanathip bahkan mengaku antusias kembali bertemu Skuad Garuda setelah menunggu cukup lama.
“Saya merasa, uh, saya sangat senang bahwa besok akhirnya kami bisa bertemu dengan mereka. Setelah kami mungkin sudah menunggu selama beberapa waktu untuk bisa bertemu dengan mereka lagi,” tutur Chanathip.
Pertandingan Indonesia vs Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026 pun menjadi ujian penting bagi John Herdman dan anak asuhnya. Jika mampu menang, Garuda bukan hanya mengangkat trofi, tetapi juga memutus rekor buruk yang selama ini melekat setiap bertemu Thailand di final.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










