bukamata.id – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengecam aksi kekerasan yang menimpa pemain dan ofisial Akademi Persib saat rombongan tim beristirahat di Rest Area KM 360 Tol Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026).
Farhan mengaku prihatin atas kejadian tersebut, terlebih para korban merupakan pemain muda yang sedang menjalani proses pembinaan sepak bola.
Ia mengatakan, dirinya turut menginisiasi pendirian Diklat Persib yang kemudian berkembang menjadi Akademi Persib sejak 2013. Karena itu, perlindungan terhadap para pemain muda dinilai harus menjadi perhatian bersama.
Farhan menyebut Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung akan mengupayakan mekanisme perlindungan khusus bagi tim Akademi Persib saat melakukan perjalanan ke luar kota. Menurutnya, tim profesional telah memiliki prosedur perjalanan tersendiri, sedangkan tim akademi membutuhkan sistem perlindungan yang lebih terstruktur.
Selain keselamatan fisik, Farhan turut menyoroti dampak psikologis yang mungkin dialami para pemain setelah insiden penyerangan. Pemkot Bandung akan melakukan penilaian awal sebelum melibatkan tim psikologi klinis untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan para korban.
Farhan juga menegaskan, berdasarkan klarifikasi dari pihak Persib, tidak ada pemain, ofisial, maupun anggota keluarga rombongan yang tertinggal di Rest Area KM 360 Tol Batang. Seluruh rombongan telah kembali ke Bandung dengan selamat.
Meski demikian, sejumlah orang dilaporkan mengalami luka akibat pecahan kaca dan penganiayaan dalam insiden tersebut. Farhan berharap penyelidikan dapat mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab sehingga kasus ini bisa dituntaskan melalui jalur hukum.
Sementara itu, Media Officer Persib U-18, Pandu Persada, mengungkapkan bahwa tidak ada interaksi antara rombongan Persib dan kelompok orang yang diduga melakukan penyerangan sebelum kejadian berlangsung.
Pandu menyampaikan keterangan tersebut seusai pertemuan antara orang tua pemain Elite Pro Academy (EPA) Persib dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Ia menjelaskan, rombongan yang berjumlah sekitar 31 orang singgah di rest area untuk beristirahat sekaligus makan malam dalam perjalanan pulang ke Bandung.
Pandu menuturkan, dirinya sempat turun dari bus untuk pergi ke kamar kecil. Namun, ketika kembali kurang dari satu menit kemudian, bus yang membawa rombongan sudah dikepung sekelompok orang.
Salah seorang rekannya berhasil masuk kembali ke bus, sedangkan Pandu tidak sempat menyelamatkan diri ke tempat yang sama.
Ia mengaku terpojok di bagian belakang bus dan menjadi korban pemukulan. Sebagian besar pukulan yang diterimanya mengarah ke bagian kepala. Setelah kejadian, Pandu masih merasakan sakit dan pusing sehingga berencana menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.
Pandu berharap kepolisian dapat mengusut tuntas kasus tersebut. Ia menilai penyerangan terhadap rombongan tim pembinaan usia muda bukan lagi persoalan rivalitas maupun sportivitas sepak bola, melainkan tindakan kriminal yang harus diproses secara hukum.
Insiden tersebut menjadi perhatian serius bagi Pemkot Bandung dan Persib, terutama terkait keamanan perjalanan tim pembinaan usia muda. Perlindungan yang memadai diharapkan dapat menjamin keselamatan pemain dan ofisial saat mengikuti kompetisi maupun melakukan perjalanan ke luar kota.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










