bukamata.id – Seorang Mitra Makan Bergizi Gratis (MBG) di Batujajar, Hendrik Irawan, mendadak viral di media sosial setelah videonya berjoget di kantor SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Pangauban dan mengaku menerima insentif sebesar Rp6 juta per hari.
Video berdurasi singkat tersebut menjadi perhatian warganet, memicu kritik hingga komentar pedas dari tokoh publik dan netizen.
Perilaku joget-joget Hendrik di ruang publik menjadi sorotan utama, meski dirinya menegaskan bahwa penerimaan insentif sepenuhnya sah dan sesuai aturan pemerintah.
Insentif tersebut diberikan sebagai kompensasi bagi mitra yang menanggung investasi dan risiko operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tanpa menggunakan dana APBN.
Video Joget yang Memicu Kontroversi
Dalam video yang beredar, Hendrik tampak mengunggah tangkapan layar komentar warganet yang menulis:
“Alhamdulillah ka, saya dapat Rp6 juta per hari, sehat selalu ya ka”
Potongan video tersebut kemudian diunggah ulang oleh beberapa akun tanpa izin, disertai narasi yang memojokkan, sehingga memicu hujatan luas. Hendrik pun membuat laporan ke Polres Cimahi, menegaskan bahwa penyebaran video tanpa izin merupakan pelanggaran hukum.
“Hari ini ada dua akun yang saya laporkan, satu meng-upload video saya tanpa izin, satunya lagi mencaci maki saya tanpa dasar bukti,” ujar Hendrik dalam video klarifikasinya.
Ia menegaskan bahwa insentif Rp6 juta per hari diberikan pemerintah untuk menutup risiko operasional yang ditanggung mitra MBG.
Respons Psikolog dan Tokoh Publik
Polemik video Hendrik Irawan yang berjoget karena menerima insentif Rp6 juta per hari memicu respons beragam dari psikolog, tokoh publik, hingga netizen.
Psikolog Lita Gading menyoroti bahwa inti kontroversi bukanlah program MBG itu sendiri, melainkan perilaku individu yang diunggah ke ruang publik.
“Orang yang joget-joget lalu menyalahkan netizen, ini yang membuat opini publik buruk. Ketika memposting ke ruang publik, Anda harus siap menerima reaksi, baik positif maupun negatif,” ujarnya dikutip dari Instagram pada Senin (23/3/2026).
Lita menekankan bahwa publikasi perilaku di media sosial harus dilakukan dengan kesadaran penuh mengenai dampaknya.
Menurutnya, kesalahan persepsi warganet muncul bukan karena program pemerintah, tetapi karena tindakan yang dianggap tidak pantas, seperti menari sambil memamerkan insentif besar di tengah masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Selain itu, komika Apos Hunatagol memberikan komentar satir melalui akun TikTok @apossssss. Dalam video tersebut, Apos menirukan gaya joget Hendrik dan menambahkan tulisan sindiran:
“Alhamdulillah saya dapat 6 juta per hari dari hasil mikir, kaka sehat selalu ya”
Sindiran ini menjadi viral karena berhasil menyampaikan kritik secara ringan namun tajam, menyoroti kesenjangan antara penerima insentif dan masyarakat yang berjuang dengan penghasilan terbatas.
Video Apos mendapat ribuan like dan komentar, yang sebagian besar mendukung penyampaian kritik melalui cara kreatif dan humoris, namun tetap mengangkat isu serius.
Respons netizen di kolom komentar Instagram @infobdgbaratcimahi pun mencerminkan beragam persepsi publik. Beberapa menyoroti dampak emosional dari perilaku yang terlihat berlebihan, terutama bagi guru honorer dan masyarakat berpenghasilan rendah:
- “Perbuatan dia melukai hati guru honorer, melukai hati rakyat Indonesia,” tulis akun @mur***
- “Sedangkan saya guru gaji Rp600 ribu per bulan, keluar 3 bulan sekali. Miris melihat ini sambil jualan,” tulis @fat***
- “Dikasih insentif MBG dari uang pajak rakyat, dikira duit turun dari langit,” tulis akun @tev***
Kritik yang muncul dari publik menekankan pentingnya kesadaran sosial ketika menampilkan perilaku di ruang publik.
Alasan Pemberian Insentif Rp6 Juta per Hari
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa insentif diberikan sebagai kompensasi bagi mitra yang menanggung semua biaya pembangunan dan risiko operasional SPPG, mulai dari pengadaan lahan, pembangunan fisik, peralatan, hingga pemeliharaan.
“Mitra mengeluarkan dana sendiri untuk membangun fasilitas, sehingga insentif diberikan saat mereka sudah beroperasi. Skema ini juga mentransfer risiko seluruh operasional ke mitra,” jelas Dadan.
Ia menambahkan bahwa risiko yang ditanggung bisa sangat besar, termasuk bencana alam atau kerusakan fasilitas. Contohnya, fasilitas SPPG di Aceh yang baru selesai dibangun terdampak banjir, bahkan ada kasus kebakaran.
Menurut Dadan, skema pembangunan oleh mitra justru lebih efisien karena tidak ada mark-up biaya pembangunan, sehingga anggaran lebih hemat dan program MBG bisa berjalan berkelanjutan.
Profil Hendrik Irawan dan Riwayat SPPG Pangauban
Hendrik Irawan merupakan owner SPPG Pangauban Batujajar. Dalam keseharian, ia rajin membagikan kegiatan dapur MBG yang dikelolanya, termasuk peresmian yang dihadiri Ivan Gunawan dan King Abdi.
Sebelumnya, SPPG Pangauban sempat terhenti setelah dana belanja senilai Rp1 miliar hilang, sehingga operasional dapur yang memasok MBG ke delapan sekolah penerima manfaat harus dihentikan sementara. Hendrik mengaku belum sempat merasakan keuntungan karena dapur baru berjalan delapan hari sebelum dana hilang.
Ia berharap pemerintah pusat memberikan suntikan dana darurat agar program MBG dapat kembali berjalan. Hendrik menyebut, untuk menghidupkan kembali dapur MBG Pangauban, dibutuhkan operasional minimal Rp32 juta–Rp70 juta per hari. Selama dua minggu, total dana yang dibutuhkan sekitar Rp400 juta.
Selain itu, ia sudah mengeluarkan Rp3,6 miliar untuk pembangunan dapur, namun belum mendapat keuntungan. Ia menekankan, prioritas utamanya adalah keberlangsungan program MBG untuk anak-anak sekolah.
“Saya siap menalangi biaya sementara jika BGN memberi izin, agar anak-anak tetap menerima makanan bergizi. Ini juga bentuk ibadah saya,” tuturnya.
Hendrik menegaskan bahwa dirinya akan kembali beroperasi begitu mendapat izin, mendukung program Presiden Prabowo Subianto yang menjadi prioritas nasional dalam meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah.
Kritik dan Pesan Publik
Polemik viral ini menegaskan bahwa program pemerintah bisa disalahartikan akibat perilaku individu yang menimbulkan persepsi negatif. Perilaku joget Hendrik menjadi sorotan karena dianggap kurang sensitif di tengah masyarakat yang menunggu manfaat nyata dari program ini.
Netizen dan tokoh publik menekankan, konten publik harus diunggah dengan kesadaran bahwa respons masyarakat beragam, termasuk kritikan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









