Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Siap-Siap! 4 Bantuan Pemerintah Masuk Periode Baru, Ada yang Dapat Rp900 Ribu

Kamis, 8 Oktober 2026 21:42 WIB
Kabupaten Bekasi

35.305 Jiwa di Bandung Barat Terdampak Kekeringan, Warga Mulai Kesulitan Air Bersih

Kamis, 8 Oktober 2026 21:37 WIB
peredaran narkoba

Video Pesta Sabu Viral, 120 Warga Binaan Rutan Depok Dipindah ke Nusakambangan

Kamis, 8 Oktober 2026 21:29 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Siap-Siap! 4 Bantuan Pemerintah Masuk Periode Baru, Ada yang Dapat Rp900 Ribu
  • 35.305 Jiwa di Bandung Barat Terdampak Kekeringan, Warga Mulai Kesulitan Air Bersih
  • Video Pesta Sabu Viral, 120 Warga Binaan Rutan Depok Dipindah ke Nusakambangan
  • Comeback Dramatis! Persib Bandung Sikat Port FC 3-1 di Laga Perdana Shopee Cup 2026
  • Perut Keroncongan Saat Hujan? Ini 4 Kuliner Hangat yang Bikin Nagih di Bandung
  • Dugaan Keracunan di 88 SEOUL 23 Paskal, Dinkes Temukan Masalah Higiene
  • Sambil Tunggu Uji Lab, Restoran 88 Seoul Bandung Diminta Tanggung Jawab ke Konsumen
  • 12 Warga Jadi Korban, Polisi Ungkap Modus Pinjam Motor Lalu Dijual via COD
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 8 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Ketika Keindahan Nusa Penida Terganggu: Polemik Lift Kaca di Tebing Kelingking

By Aga GustianaRabu, 29 Oktober 2025 11:48 WIB5 Mins Read
Pantai Kelingking Nusa Penida Bali.
Pantai Kelingking Nusa Penida Bali. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jagat maya kembali dibuat geger oleh sebuah video yang menampilkan kerangka besar menyerupai lift kaca berdiri di tebing ikonik Pantai Kelingking, Nusa Penida, Bali. Video yang beredar di media sosial itu memperlihatkan bagaimana besi-besi logam raksasa mulai menempel di dinding tebing yang selama ini dikenal dengan keindahan bentuknya yang menyerupai kepala dinosaurus.

Bukan kekaguman yang muncul, melainkan gelombang kekecewaan dari publik. Banyak yang menyayangkan keputusan pembangunan tersebut karena dinilai merusak pemandangan alam Nusa Penida yang telah menjadi salah satu simbol keindahan Bali di mata dunia.

“View seindah ini malah dibangun bangunan seperti ini,” tulis akun Instagram @pembasmi.kehaluan.reall pada Rabu (29/10/2025). Komentar itu mencerminkan perasaan banyak orang yang merasa kehilangan pesona alami Kelingking Beach—ikon wisata yang selama ini menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Simbol Keindahan Bali yang Terancam

Pantai Kelingking selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi paling ikonik di Nusa Penida. Tebingnya yang menjulang membentuk siluet seperti T-Rex, berpadu dengan laut biru jernih dan pasir putih di bawahnya, menjadikannya spot foto wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Tak heran, Kelingking disebut-sebut sebagai “mahakarya alam” yang membuat Nusa Penida terkenal hingga ke mancanegara. Pulau ini bahkan menjadi simbol pariwisata Bali yang lebih alami, berbeda dengan suasana urban di Kuta atau Seminyak.

Namun kini, pemandangan dramatis itu mulai terganggu oleh kehadiran kerangka besi yang mencolok di sisi tebing. Proyek lift kaca yang diklaim akan mempermudah akses wisatawan menuju pantai justru dianggap merusak karakter alami Nusa Penida yang terkenal dengan kesunyian dan tantangan medan alaminya.

Baca Juga:  Drama Rp10 Ribu Bikin Bali Panen Hujatan! Sisi Gelap Pariwisata Lokal yang Dibongkar Kasus Billy Syahputra

Banyak netizen yang menilai bahwa keindahan Kelingking justru terletak pada perjuangan untuk mencapainya. “Pantai Kelingking itu indah karena butuh usaha buat ke sana. Harus turun tangga curam, tapi hasilnya luar biasa,” tulis akun @arz*** di kolom komentar.

Komentar serupa juga datang dari warganet lain yang merasa kecewa, “Ya ampun belum sempat ke sana sudah digituin saja, tega bener jadi nggak bagus,” ujar @ald***.

Proyek Ambisius yang Menuai Tanda Tanya

Berdasarkan informasi yang beredar, pembangunan lift kaca ini sudah dimulai sejak Juli 2023. Proyek setinggi 182 meter itu disebut akan dilengkapi dengan platform kaca setiap 20 meter, tempat wisatawan bisa berhenti berfoto dan menikmati pemandangan dari ketinggian.

Lift tersebut dikerjakan oleh investor asal Tiongkok melalui kerja sama antara PT BNP dan Banjar Adat Karang Dawa. Pihak pengelola mengklaim bahwa proyek ini telah mengantongi izin resmi dan telah melalui kajian lingkungan yang ketat.

Namun publik tak mudah percaya. Banyak pihak mempertanyakan transparansi proses perizinan, termasuk apakah benar sudah ada kajian geoteknik dan konservasi yang komprehensif. Pasalnya, struktur batuan kapur di Kelingking dikenal rapuh dan rentan terhadap erosi. Tambahan beban dari bangunan logam besar dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas tebing dan mempercepat kerusakan alam.

Baca Juga:  Bikin Mewek! Sisi Lain Pernikahan Jennifer Coppen & Justin Hubner: Pelangi Setelah Badai Duka Masa Lalu

“Kalau sampai tebingnya retak atau runtuh, siapa yang mau tanggung jawab? Ini kan ikon Bali,” tulis seorang pengguna media sosial dalam unggahan lain yang membahas proyek tersebut.

Pembelaan Pihak Pengelola dan Respons Pemerintah

Menanggapi kritik yang meluas, pihak pengelola proyek menyatakan bahwa pembangunan lift kaca dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan pengunjung. Mereka menegaskan bahwa material yang digunakan ramah lingkungan dan tidak akan merusak alam sekitar.

Namun, pernyataan itu belum mampu meredam gelombang protes. Banyak yang beranggapan bahwa alasan “mempermudah akses wisatawan” tidak sebanding dengan risiko kerusakan lanskap yang sudah terkenal di seluruh dunia.

Di tengah polemik tersebut, Gubernur Bali I Wayan Koster ikut menyinggung soal lemahnya pengawasan tata ruang dan perizinan di sejumlah wilayah. “Saya sudah mengikuti langkah-langkah dan upaya yang dilakukan Pansus TRAP di sejumlah wilayah serta tindakan sesuai kewenangan,” ujar Koster dalam pernyataan resminya pada Selasa (28/10/2025).

Ia menegaskan, pembangunan di kawasan wisata strategis seperti Nusa Penida harus dilakukan secara transparan dan berlandaskan kajian ilmiah. Pemerintah, kata Koster, sedang memperketat tata ruang dan menata ulang arah pembangunan Bali menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Meski demikian, hingga kini publik masih menunggu tindak lanjut nyata dari pemerintah daerah terhadap proyek kontroversial tersebut.

Suara dari Dunia Maya: Keindahan yang Tak Tergantikan

Media sosial menjadi ruang tempat masyarakat meluapkan kekecewaan mereka. Unggahan tentang proyek lift kaca di Pantai Kelingking dipenuhi ribuan komentar yang bernada serupa: menyesalkan, kecewa, bahkan marah.

Baca Juga:  Profil Richard Garcia, WNA Amerika yang Viral Usai Unggah Strategi Hindari Pajak

“Padahal tinggal buat jalur yang aman daripada dibikin lift,” tulis @eri***. Komentar lain menyebut bahwa proyek semacam itu seharusnya tidak dilakukan di area seindah Nusa Penida.

Beberapa netizen bahkan menyindir bahwa “pariwisata Bali mulai kehilangan jiwanya” karena terlalu berorientasi pada kenyamanan modern, bukan pada keaslian alam dan budaya yang justru menjadi daya tarik utamanya.

Nusa Penida, Permata Bali yang Harus Dijaga

Sebagai destinasi wisata unggulan, Nusa Penida memang memiliki banyak daya tarik selain Kelingking Beach. Ada Broken Beach dengan lengkungan karang alaminya, Angel’s Billabong yang terkenal dengan kolam alami berair jernih, hingga Pantai Atuh yang menampilkan panorama laut lepas.

Semua keindahan itu berpadu membentuk lanskap khas Bali bagian tenggara—liar, dramatis, namun memikat. Justru itulah yang membuat wisatawan jatuh cinta: kesederhanaan alam yang masih murni.

Kini, dengan adanya proyek lift kaca, banyak pihak khawatir Nusa Penida kehilangan karakter alaminya. Jika keindahan yang menjadi daya tarik utama dirusak oleh pembangunan yang tidak bijak, maka pariwisata Bali bisa kehilangan salah satu permata paling berharga.

Karena itu, seruan publik agar proyek ini dievaluasi bukan sekadar keluhan emosional. Ini adalah bentuk kepedulian agar Bali, khususnya Nusa Penida, tetap menjadi destinasi yang mempertahankan esensi utamanya—keindahan alam yang lahir dari keseimbangan, bukan dari beton dan kaca.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bali
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Perut Keroncongan Saat Hujan? Ini 4 Kuliner Hangat yang Bikin Nagih di Bandung

Baru Bebas Bersyarat, Indra Kenz Kembali Dijemput dan Dipindahkan ke Lapas Tangerang

Gak Disengaja? Viral WNI Terciduk Kasih Makan Sampah ke Rusa di Jepang, Faktanya Bikin Tercengang

Viral Unggahan Celana Dalam Berwarna Merah Putih, Warganet Indonesia Geram

Dibikin Kaget DJ No 1 Dunia! Aksi Musisi Lokal Kendari Pake Keyboard Ini Bikin Lil Jon Ajak Colab?

Ilustrasi emas antam

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp15.000, Cek Daftar Lengkapnya

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Skandal HGB Kota Baru Parahyangan: KPK Amankan Berkas dan Ungkap Aliran Suap Miliaran
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.