Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Cantik Saja Enggak Cukup! Mojang Bandung Ini Pilih ‘Jalur Langit’ demi Orang Tua

Sabtu, 4 April 2026 15:15 WIB

Kisah Mantan Kanit Tipidkor Pilih Jadi Tukang Kopi: Lebih Baik Patah Daripada Bengkok!

Sabtu, 4 April 2026 14:54 WIB

Sergio Ramos Dirumorkan Gabung Persija Jakarta Musim Depan, Siap Digaji Rp70 Miliar?

Sabtu, 4 April 2026 13:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cantik Saja Enggak Cukup! Mojang Bandung Ini Pilih ‘Jalur Langit’ demi Orang Tua
  • Kisah Mantan Kanit Tipidkor Pilih Jadi Tukang Kopi: Lebih Baik Patah Daripada Bengkok!
  • Sergio Ramos Dirumorkan Gabung Persija Jakarta Musim Depan, Siap Digaji Rp70 Miliar?
  • Eksplorasi Subang 2026: 6 Destinasi Hits yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan Anda!
  • Jangan Sampai Ditolak SPBU! Begini Cara Daftar Barcode MyPertamina untuk Program Subsidi Tepat
  • Dompet Persib Terkuras Rp1,1 Miliar! Rekap Sanksi ‘Gila’ AFC di Liga Champions Asia Two
  • Update Harga Emas Antam Hari Ini 4 April 2026: Masih Bertahan di Level Rp2,85 Juta per Gram
  • Tega! Teman Ditinggalkan di Hutan Demi Puncak, Berujung Blacklist 5 Tahun
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 4 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Kisah Mantan Kanit Tipidkor Pilih Jadi Tukang Kopi: Lebih Baik Patah Daripada Bengkok!

By Aga GustianaSabtu, 4 April 2026 14:54 WIB4 Mins Read
Vicky Katiandagho viral usai mundur dari Polri. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di bawah temaram lampu gantung sebuah kedai kopi sederhana di pinggir jalan, seorang pria dengan senyum ramah sibuk meracik minuman. Gerakannya gesit, tangannya terampil menuangkan susu ke dalam campuran kopi hitam yang mengepul. Bagi pengunjung baru, ia hanyalah seorang pedagang kopi biasa yang mencari nafkah di tengah hiruk-pikuk malam. Namun, bagi mereka yang mengenal sosoknya di media sosial belakangan ini, pria itu adalah simbol integritas yang memilih “patah” daripada “bengkok”.

Ia adalah Vicky Aristo Katiandagho. Hingga beberapa waktu lalu, namanya masih menyandang pangkat Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda). Jabatan terakhirnya pun mentereng: Kepala Unit Tindak Pidana Khusus (Tipidkor) Sat Reskrim Polres Minahasa. Kini, lencana perak dan seragam coklat itu telah ia tanggalkan, diganti dengan apron sederhana dan aroma biji kopi yang kuat.

Titik Balik di Balik Kasus “Tas Ramah Lingkungan”

Kisah pengunduran diri Vicky bukan sekadar drama pelarian dari rutinitas. Ini adalah cerita tentang sebuah prinsip yang dibenturkan dengan realitas pahit di lapangan. Sebagai Kanit Tipidkor, Vicky adalah ujung tombak dalam membongkar praktik rasuah yang merugikan rakyat. Salah satu kasus besar yang tengah ia kawal adalah dugaan korupsi pengadaan tas ramah lingkungan di Kabupaten Minahasa tahun anggaran 2020.

Proyek ini bukan perkara kecil. Dengan total anggaran mencapai Rp 2,2 miliar, proyek ini menyasar 227 desa. Modusnya klasik namun menyakitkan: dugaan penggelembungan harga (mark-up). Bayangkan, sebuah tas yang di pasaran hanya dihargai di bawah Rp 5.000, diduga dijual dengan harga yang jauh melampaui kewajaran melalui pihak ketiga.

Vicky dan timnya memulai penyelidikan sejak tahun 2021. Kerja keras itu membuahkan hasil pada 5 September 2024, ketika status kasus resmi naik ke penyidikan. Namun, tepat saat ia berkoordinasi dengan BPKP untuk menghitung kerugian negara, sebuah surat mutasi ke Polres Kepulauan Talaud datang menjemputnya.

Pilihan Hati: Mundur demi Harga Diri

Kekecewaan itu memuncak. Namun, alih-alih memberontak secara fisik, Vicky memilih jalan yang sunyi namun berisik secara moral: mengundurkan diri. “Lebih baik jadi tukang kopi daripada tunduk pada penjilat,” tulisnya di media sosial.

Kalimat tersebut bak petir di siang bolong bagi institusinya, namun menjadi inspirasi bagi ribuan netizen. Kolom komentarnya pun dibanjiri dukungan yang menyentuh hati.

“Pekerjaan anda sekarang lebih terhormat daripada yang dulu. Selamat berproses,” tulis salah satu netizen yang mengagumi keberaniannya melepas jabatan demi prinsip.

Bagi Vicky, keluar dari kepolisian bukan berarti berhenti mencintai Polri. Dalam video viralnya, ia bersujud di depan markas Polda Sulut sebagai bentuk penghormatan terakhir. Gestur ini memicu gelombang simpati yang luar biasa. Banyak yang menilai langkah ini adalah bentuk penyelamatan diri dari sistem yang sedang tidak sehat.

“Jalan ini menyelamatkan bapak ini dari kegelapan,” ujar netizen lainnya, merujuk pada tekanan integritas yang sering dialami aparat saat menangani kasus sensitif.

Kehidupan Baru di Antara Ampas Kopi

Kini, hari-hari Vicky diisi dengan pesanan cappuccino dan latte. Tidak ada lagi berkas penyidikan yang menumpuk atau tekanan dari atasan mengenai kasus-kasus sensitif. Di kedai kopinya yang bernama “Parkop Monbae”, ia tampak lebih lepas dan bahagia.

Transformasi Vicky dari seorang pemburu koruptor menjadi pengusaha mikro ini dianggap sebagai langkah sukses dalam menjaga kesehatan mental dan spiritual. Doa-doa baik pun terus mengalir dari masyarakat luas yang merasa bangga atas pilihannya.

“Keren pak, semoga lebih sukses dengan berbisnis,” kata seorang netizen memberikan semangat.

Ada pula yang memberikan doa dari sisi spiritual, “Insya Allah halal berkah rejeki dari apa yang bapak jalani sekarang, selamat bertugas kembali ya pak. Respect.”

Sebuah Refleksi untuk Institusi

Kisah Vicky Katiandagho adalah sebuah anomali sekaligus cermin. Di saat banyak orang berebut masuk menjadi anggota Polri demi stabilitas ekonomi, Vicky justru berjalan keluar demi ketenangan jiwa. Ia membuktikan bahwa jabatan hanyalah titipan, namun integritas adalah bekal selamanya.

Kasus tas ramah lingkungan di Minahasa mungkin akan berlanjut tanpa kehadirannya, namun publik kini mengawasi dengan mata yang lebih tajam. Publik bertanya-tanya: akankah kasus itu tuntas, atau ikut “dimutasi” ke dalam laci-laci gelap?

Vicky kini mungkin “hanya” seorang penjual kopi. Namun, dari secangkir kopi yang ia sajikan, ada pesan kuat yang tersampaikan: bahwa kejujuran tidak bisa dibeli, dan harga diri tidak bisa ditukar dengan posisi. Di tangan pria yang dulu mengejar koruptor ini, kopi bukan sekadar minuman penghalau kantuk, melainkan simbol perlawanan seorang mantan polisi yang memilih merdeka di jalannya sendiri.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Eks Kanit Tipidkor Korupsi Tas Minahasa Polisi Jujur Polisi Resign Jadi Tukang Kopi Vicky Aristo Katiandagho
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cantik Saja Enggak Cukup! Mojang Bandung Ini Pilih ‘Jalur Langit’ demi Orang Tua

Wisata Subang

Eksplorasi Subang 2026: 6 Destinasi Hits yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan Anda!

Ilustrasi isi BBM

Jangan Sampai Ditolak SPBU! Begini Cara Daftar Barcode MyPertamina untuk Program Subsidi Tepat

Update Harga Emas Antam Hari Ini 4 April 2026: Masih Bertahan di Level Rp2,85 Juta per Gram

Tega! Teman Ditinggalkan di Hutan Demi Puncak, Berujung Blacklist 5 Tahun

Daftar Lengkap Harga Emas 17K hingga 24K per 4 April 2026: Ada yang Stabil, Ada yang Turun!

Terpopuler
  • Viral Misterius! Potongan Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Kebun Sawit Bikin Heboh, Fakta Aslinya Mengejutkan
  • Di Balik Viral Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit, Ada Ancaman Phishing Mengintai
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Viral! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 di Dapur, Fakta atau Settingan?
  • Geger! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 ‘No Sensor’ Viral, Fakta Sebenarnya Bikin Kaget
  • Kronologi Video Ibu Tiri vs Anak Tiri yang Bikin Penasaran, Link Telegram Banyak Dicari
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.