bukamata.id – Media sosial TikTok kembali dihebohkan dengan beredarnya video syur berdurasi sekitar 1 menit 14 detik yang diduga mirip dengan selebgram asal Bali, Bulan Sutena. Tak lama kemudian, versi video dengan durasi lebih panjang, sekitar 8 menit, juga muncul dan menjadi perbincangan hangat warganet. Fenomena ini menimbulkan pro dan kontra, sekaligus menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan video deepfake.
Bulan Sutena dikenal sebagai kreator konten yang aktif di TikTok dan Instagram dengan gaya santun khas Bali. Ia sering membagikan video cover lagu dan keseharian yang positif. Popularitasnya membuat namanya cepat dikaitkan dengan video syur yang viral tersebut.
Namun, banyak pengguna TikTok meragukan keaslian video itu. Di kolom komentar akun @iam.moon, sejumlah warganet menilai video tersebut kemungkinan hasil rekayasa deepfake. “Banyak yang kemakan sama AI Bulan Sutena,” tulis salah satu komentar. “Kasihan Bulan difitnah,” tambah pengguna lain. Fenomena ini mencerminkan kekhawatiran luas atas maraknya video palsu yang menggunakan teknologi pengeditan wajah canggih untuk menjatuhkan nama baik figur publik.
Sampai saat ini, Bulan Sutena belum memberikan klarifikasi resmi terkait video yang menyeret namanya. Namun, aktivitasnya di Instagram tetap berjalan normal dengan mengunggah konten harian seperti biasa. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa ia memilih untuk menenangkan situasi atau memang tidak terkait langsung dengan video tersebut.
Kasus ini menjadi peringatan serius tentang bahaya teknologi deepfake, yakni teknik manipulasi digital yang bisa memasukkan wajah seseorang ke dalam video tanpa izin. Teknologi ini semakin sulit dibedakan dari video asli dan berpotensi menyebarkan konten palsu yang dapat merusak reputasi korban, terutama tokoh publik.
Hingga kini, belum ada bukti otentik yang memastikan sosok dalam video tersebut benar-benar Bulan Sutena. Tanpa penyelidikan digital forensik dan pernyataan resmi, semua dugaan masih sebatas spekulasi.
Masyarakat dihimbau untuk lebih bijak menyikapi informasi viral dan tidak langsung percaya atau menyebarkan konten tanpa verifikasi. Di era digital, hoaks dan fitnah bisa tersebar lebih cepat daripada fakta, yang berakibat pada kerugian sosial dan pribadi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








