bukamata.id – Menjalani banyak aktivitas sekaligus bukan perkara mudah. Namun, bagi Gita Puspita, kesibukan menjadi kesempatan untuk terus berkembang dan mempersiapkan diri menghadapi dunia setelah bangku perkuliahan.
Mojang Bandung yang kini berdomisili di kawasan Buah Batu, Kota Bandung, ini merupakan mahasiswa tingkat akhir Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di tengah kesibukannya menyelesaikan skripsi, Gita juga menjalani pekerjaan sampingan sebagai event organizer (EO), pengajar bimbingan belajar (bimbel) fisika untuk siswa SMA, serta tetap aktif berorganisasi di kampus.
Beragam aktivitas tersebut dijalani Gita sebagai bagian dari proses mengembangkan kemampuan sekaligus memperluas pengalaman sebelum lulus kuliah.
“Aku sekarang lagi merasa ada di fase pertumbuhan. Di masa ini, aku ngerasa harus mengambil sebanyak-banyaknya pengalaman, terutama di bidang pekerjaan dan organisasi, untuk mempersiapkan diri setelah lulus perkuliahan,” ujarnya.
Bagi Gita, aktif berorganisasi bukan sekadar mengisi waktu luang. Ia memang menyukai komunikasi dan senang berinteraksi dengan banyak orang. Melalui organisasi, ia bisa menyampaikan ide, bertukar pikiran, sekaligus membangun relasi yang berpotensi berguna ketika memasuki dunia kerja.
Kebiasaan tersebut membuatnya berusaha memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, baik melalui kegiatan akademik maupun aktivitas di luar perkuliahan.
Salah satu pencapaian yang paling berkesan bagi Gita adalah keberhasilannya meningkatkan indeks prestasi kumulatif (IPK) dari semester ke semester. Ia mengingat masa awal perkuliahan ketika nilai akademiknya belum sesuai harapan.
Namun, seiring berjalannya waktu, Gita mulai melihat perubahan dari konsistensi belajarnya. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa kemampuan diri dapat terus berkembang selama diiringi usaha dan kemauan untuk memperbaiki diri.
“Dulu ketika semester awal, IPK aku kecil. Tapi semakin naik semesternya, IPK-nya juga semakin naik. Di situ aku sadar ternyata aku bisa berkembang dan konsisten dalam cara belajar,” tuturnya.
Selain pencapaian akademik, pengalaman mengelola kepanitiaan hingga acara berjalan lancar juga menjadi hal yang membanggakan baginya. Meski terlihat sederhana, pengalaman tersebut memberikan pelajaran mengenai tanggung jawab, kerja sama, dan pentingnya menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai.
Di balik berbagai aktivitasnya, Gita mengaku tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah mengatur waktu. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi, ia perlu membagi perhatian antara kuliah, pekerjaan sampingan, dan organisasi.
Baginya, orang lain mungkin hanya melihat hasil akhir ketika semua kegiatan berhasil diselesaikan. Padahal, ada proses menentukan prioritas dan mengatur waktu agar tanggung jawab utama sebagai mahasiswa tetap berjalan.
“Yang jarang orang lain lihat adalah bagaimana aku meluangkan waktu dan tidak melupakan tujuan utamaku sebagai mahasiswa,” katanya.
Gita juga tidak menampik bahwa keraguan terhadap diri sendiri terkadang muncul di tengah perjalanan. Namun, ia memilih melihat kembali berbagai pencapaian yang telah diraih sebagai pengingat bahwa dirinya mampu melewati proses yang sebelumnya terasa sulit.
Ketika rasa lelah datang, ia memberikan waktu bagi dirinya untuk beristirahat dan menenangkan pikiran sebelum kembali melanjutkan aktivitas sesuai prioritas.
“Aku ingin melihat diri aku sendiri terus berkembang. Kalau lagi capek, biasanya aku istirahat sebentar, meluapkan emosi, lalu beristirahat dan setelah itu baru bisa berjalan lagi sesuai prioritas,” ungkapnya.
Sebagai mojang Bandung, Gita menggambarkan Kota Kembang dengan tiga kata, yakni nyaman, kreatif, dan penuh peluang.
Menurutnya, suasana Bandung yang sejuk serta keramahan masyarakat menjadi alasan kota ini terasa nyaman. Di sisi lain, kreativitas masyarakatnya juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi dan menghadirkan berbagai gagasan baru.
Ia melihat Bandung sebagai ruang bagi anak muda untuk terus belajar, membangun relasi, dan menciptakan peluang melalui berbagai kegiatan positif.
Jika diberi kesempatan untuk berkontribusi lebih jauh, Gita ingin terus menyumbangkan ide dan kreativitas bagi generasi muda Bandung. Pengalaman yang diperolehnya melalui dunia akademik, pekerjaan, dan organisasi menjadi bekal untuk ikut mendorong kemajuan kota.
Menutup perbincangan, Gita menyampaikan pesan bagi anak muda yang sedang berjuang mengejar impian agar tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain.
“Jangan pernah membandingkan prosesmu dengan proses orang lain. Setiap orang mempunyai proses dengan waktu yang berbeda-beda. Kalau sekarang kamu merasa tertinggal, teruslah berjalan,” pesannya.
Menurut Gita, usaha kecil yang dilakukan secara konsisten dan kontribusi positif yang diberikan kepada lingkungan tetap memiliki arti. Sebab, setiap proses yang dijalani dapat menjadi bekal untuk berkembang, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









