bukamata.id – Memasuki fase pamungkas bulan suci Ramadan 1447 H, umat Muslim kini berada di ambang pintu kemuliaan. Jumat, 13 Maret 2026, menjadi momentum krusial karena bertepatan dengan sepuluh hari terakhir Ramadan—sebuah periode yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai waktu paling istimewa untuk mempererat ikatan penghambaan kepada Allah SWT.
Meneladani Spirit Ibadah Rasulullah
Di pengujung Ramadan, intensitas ibadah Nabi Muhammad SAW justru mencapai puncaknya, bukan mengendur. Dalam sebuah hadis yang disepakati keasliannya oleh Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah RA mengisahkan bagaimana Rasulullah “mengencangkan ikat pinggangnya” ketika memasuki sepuluh hari terakhir.
Istilah “mengencangkan kain” ini dimaknai secara mendalam oleh para ulama sebagai simbol totalitas: mengurangi porsi tidur, membatasi urusan duniawi/biologis, dan memusatkan seluruh energi untuk bermunajat. Ini adalah pelajaran bagi kita agar tidak terjebak pada euforia persiapan Lebaran yang justru seringkali mengalihkan fokus dari inti ibadah.
Keagungan Malam Seribu Bulan
Inti dari perburuan di malam-malam terakhir ini adalah Lailatul Qadar. Al-Qur’an melalui Surat Al-Qadr secara eksplisit menyebutkan bahwa beramal di malam tersebut lebih baik daripada berjuang selama 1.000 bulan atau setara dengan kurang lebih 83 tahun—durasi yang melampaui rata-rata usia manusia modern.
Menemukan Lailatul Qadar bukan sekadar faktor keberuntungan, melainkan buah dari konsistensi. Karena waktunya dirahasiakan, Islam mengajarkan kita untuk waspada dan bersiap di setiap malam, khususnya pada malam-malam ganjil.
Teks Khutbah Jumat Terkini
Tema: Mengetuk Pintu Langit di Malam Lailatul Qadar
Khutbah I
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ.
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas nikmat umur dan kesehatan, sehingga kita bisa berdiri di hari Jumat yang mulia ini, di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah. Khatib berwasiat, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita. Takwa bukan sekadar kata, melainkan benteng yang menjaga kita dari larangan-Nya dan mesin penggerak untuk menjalankan perintah-Nya.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 183, tujuan akhir dari puasa kita adalah menjadi hamba yang bertaqwa (la’allakum tattaqun). Dan di sepuluh hari terakhir ini, ujian ketakwaan itu mencapai puncaknya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saat ini kita telah berada di “garis finis” Ramadan. Di depan mata kita, ada sebuah malam yang sangat dirindukan, yakni Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Qadr:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Bayangkan, satu malam yang diisi dengan zikir, salat, dan sedekah, nilainya melampaui ibadah seumur hidup manusia. Namun, Lailatul Qadar adalah “hadiah” yang tersembunyi. Rasulullah SAW bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari).
Jamaah yang Berbahagia,
Bagaimana cara kita menjumpainya? Para ulama, termasuk Imam Al-Ghazali, memberikan ijtihad mengenai tanda-tandanya. Namun yang terpenting bukan sekadar menunggu tanda alam seperti cuaca yang sejuk atau matahari yang tidak terik di pagi hari, melainkan bagaimana kondisi hati kita.
Ada tiga strategi utama untuk menjemput malam mulia ini:
- Istiqamah dalam Ibadah: Jangan biarkan semangat kendor di akhir bulan. Jika di awal Ramadan masjid penuh, pastikan di akhir Ramadan kualitas rukuk dan sujud kita semakin syahdu.
- Memperbanyak Amal Kebaikan: Malaikat turun ke bumi pada malam itu untuk menebar kedamaian. Jadilah pribadi yang damai, perbaiki hubungan dengan sesama, dan perbanyak sedekah.
- Menjaga Kesucian Hati: Lailatul Qadar adalah malam kesalamatan (Salamun hiya hatta mathla’il fajr). Hati yang penuh kebencian dan kedengkian akan sulit menangkap sinyal keberkahan malam tersebut.
Semoga di sisa waktu ini, Allah SWT mengizinkan kita semua untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar dan keluar dari bulan Ramadan sebagai pemenang.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ setelahnya. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.
Ya Allah, di hari Jumat yang mulia ini, kami memohon bimbingan-Mu agar kami istiqamah menjalankan sisa Ramadan ini dengan penuh ketaatan. Karuniakanlah kepada kami kesempatan untuk menjumpai Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dan berikanlah kedamaian bagi bangsa kami serta seluruh umat Muslim di dunia.
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ.
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










