bukamata.id – Media Officer Persib U-18, Pandu Persada, menceritakan pengalamannya saat menjadi korban penyerangan rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib U-18 di Rest Area KM 360 Batang, Jawa Tengah. Ia mengaku dikeroyok sejumlah orang ketika bus rombongan dikepung massa saat berhenti untuk beristirahat dan makan malam.
Pandu mengatakan, sebelum kejadian, rombongan Persib tidak terlibat interaksi maupun perselisihan dengan kelompok yang diduga melakukan penyerangan. Ia menegaskan, kedatangan mereka ke rest area hanya untuk beristirahat dalam perjalanan pulang.
“Karena tidak ada satu pun dari kami di antara rombongan Persib itu yang berinteraksi dengan mereka. Nggak ada yang bicara, melihat, bahkan paling cuma melirik aja sih. Jadi kami datang ke rest area itu hanya pure untuk istirahat dan makan malam,” ujar Pandu.
Ia menuturkan, kejadian bermula ketika dirinya turun dari bus untuk pergi ke kamar kecil. Saat kembali kurang dari satu menit kemudian, Pandu mendapati bus rombongan sudah dikepung massa.
Salah seorang rekannya berhasil masuk kembali ke bus, sedangkan Pandu tidak bisa menyusul masuk. Situasi tersebut membuatnya terpisah dari rombongan dan harus menyelamatkan diri.
“Singkatnya, di situ teman saya bisa masuk ke bus, saya nggak bisa,” katanya.
Pandu menyebut, rombongan Persib saat itu berjumlah sekitar 31 orang. Sementara itu, jumlah massa yang mengepung bus belum dapat dipastikan. Berdasarkan informasi dari petugas tambal ban tempatnya menyelamatkan diri, massa tersebut diperkirakan datang menggunakan tiga hingga empat bus.
“Saya nggak tahu pasti, cuman dari informasi petugas tambal ban yang tempat saya melarikan diri itu katanya tiga sampai empat bus,” ungkapnya.
Saat penyerangan berlangsung, Pandu mengaku sempat tersudut di bagian belakang bus dan dikeroyok sejumlah orang. Ia mengatakan, pukulan yang diterimanya sebagian besar mengenai bagian kepala.
“Ketika pengeroyokan itu memang saya udah tersudutkan di belakang bus. Semua orang megangin saya, mukulin, sebagian besar sih di kepala,” tuturnya.
Akibat kejadian tersebut, Pandu masih merasakan sakit dan pusing. Ia berencana menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut untuk memastikan kondisi kesehatannya, terutama karena pukulan yang diterima berasal dari berbagai arah.
“Sedikit sih, agak sakit, pusing. Tadi sebenarnya mau diperiksa lebih lanjut, jadi mungkin nanti agak sorean saya mau diperiksa lebih dalam lagi,” katanya.
Pandu juga menyebut para pelaku tidak menggunakan senjata atau alat tertentu saat melakukan penyerangan. Menurutnya, pemukulan dilakukan dengan tangan kosong.
“Alhamdulillahnya nggak [membawa alat]. Jadi tangan kosong sambil narik, sambil mukulin aja,” ucapnya.
Ia berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas kasus tersebut dan menangkap pihak-pihak yang bertanggung jawab. Pandu menilai penyerangan terhadap rombongan tim sepak bola tidak bisa dibenarkan dengan alasan rivalitas.
“Ya, ini musibah, tapi ini juga bukan sepak bola, ini bukan sportif. Ini murni kriminalitas. Mudah-mudahan pihak kepolisian bisa bekerja maksimal, ketemu pelakunya, dan akhirnya menjadi contoh buat ke depannya,” tandas Pandu.
Sementara itu, Direktur Youth Development Persib Bandung, Zaenal Arief, meminta operator kompetisi Liga Indonesia, I-League, menunda jadwal pertandingan Persib U-18 di ajang EPA. Permintaan tersebut disampaikan karena insiden penyerangan dinilai berdampak terhadap kondisi psikologis para pemain muda.
Pria yang akrab disapa Abo itu mengatakan, para pemain U-18 merupakan calon pesepak bola yang diharapkan menjadi bagian dari masa depan sepak bola Indonesia. Karena itu, kondisi mental mereka harus dijaga agar kejadian tersebut tidak mengganggu perkembangan dan proses pembinaan.
“Yang jelas kami inginkan anak-anak ini cikal bakal pemain sepak bola di masa yang akan datang. Secara psikologis, secara mental, kita harus tetap menjaga itu. Rivalitas itu buat saya itu hanya 2 x 45 menit, selebihnya kita harus bisa menjaga itu,” ujar Abo, Senin (12/10/2026).
Abo mengungkapkan, Persib U-18 dijadwalkan kembali menjalani pertandingan tandang ke Jawa Timur dalam waktu mendatang. Dengan mempertimbangkan kondisi para pemain setelah insiden tersebut, ia meminta agar jadwal pertandingan berikutnya ditunda.
“Ini sangat disayangkan, yang jelas mereka sangat terganggu. Makanya saya mengusulkan kepada I-League untuk bisa menunda jadwal selanjutnya, karena kami akan tur lagi ke Jatim. Jadi jadwal selanjutnya saya minta penundaan,” ungkapnya.
Menurut Abo, pemulihan pemain tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesiapan mental dan psikologis. Untuk sementara, tim akan tetap berlatih di Bandung sambil berkomunikasi dengan orang tua masing-masing pemain guna memantau perkembangan kondisi mereka.
“Saya berharap anak-anak juga memulihkan kondisi secara fisik, mental dan juga hal-hal yang bisa mengganggu secara psikologis para pemain. Jadi nanti kami tetap akan berlatih di sini, sambil melihat dan berkomunikasi sama orang tua sejauh mana sih anak-anak ini bisa kembali tegar, bisa kembali mengikuti latihan,” tambahnya.
Di sisi lain, polisi diketahui telah menangkap seorang pria berinisial BPA (33) di Jakarta yang diduga terlibat dalam penyerangan rombongan Persib U-18 tersebut.
Abo berharap proses hukum berjalan hingga tuntas. Ia menegaskan, kekerasan terhadap pemain dan ofisial tidak seharusnya dikaitkan dengan rivalitas sepak bola karena tindakan tersebut sudah masuk ranah kriminalitas.
“Ya, usut tuntas, karena ini sudah bukan bagian dari sepak bola. Ini sudah ranah kriminalitas, bukan lagi masalah sportivitas. Yang jelas saya berharap dan saya percaya kepada penegak hukum bahwa hal-hal tersebut harus segera ditegakkan,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










