bukamata.id – Tak banyak kota di Indonesia yang mampu memadukan kehangatan suasana dengan kekuatan rasa seperti Yogyakarta. Di tengah geliat pariwisata dan budaya yang tak pernah padam, deretan kuliner klasik menjadi alasan lain yang membuat siapa pun ingin kembali. Ada puluhan pilihan, tetapi hanya segelintir yang bertahan puluhan tahun, melewati zaman tanpa kehilangan identitas rasanya.
Di bawah ini, 14 tempat makan legendaris di Jogja yang namanya terus hidup di ingatan para penikmat kuliner, mulai dari sajian pedas luar biasa sampai masakan tradisional rumahan yang tak pernah berubah resepnya.
1. Oseng Mercon Bu Narti — Surga Pedas yang Meletup di Lidah
Jika ada satu kuliner yang sering disebut ketika bicara pedas ala Jogja, jawabannya Oseng Mercon Bu Narti. Potongan daging sapi berpadu dengan cabai rawit dalam jumlah tak terhitung menciptakan sensasi panas yang membakar, namun justru membuat orang ingin kembali lagi. Pengunjung rela antre untuk merasakan pedas khas yang sudah menjadi legenda ini.
2. Bakmi Mbah Mo — Bakmi Godog dengan Sentuhan Arang
Bakmi Mbah Mo digemari bukan hanya karena mie rebusnya yang gurih, tetapi juga proses memasaknya. Setiap porsi diracik satu per satu menggunakan tungku arang, menghasilkan aroma asap yang khas—sebuah sentuhan kecil yang membuat rasanya sulit tersaingi. Tak heran antrean panjang saat malam hari menjadi pemandangan biasa.
3. Nasi Teri Pojok Gejayan — Sederhana tetapi Memikat
Nasi hangat, teri goreng renyah, sambal pedas, dan lalapan sederhana. Kombinasi itu sudah cukup membuat banyak orang kembali makan di sudut jalan Gejayan ini. Rasanya membumi, porsinya pas, dan harganya ramah kantong, membuatnya jadi favorit mahasiswa serta wisatawan.
4. Sego Koyor Bu Parman — Urat Sapi Empuk Berkuah Gurih
Sego Koyor Bu Parman dianggap sebagai salah satu menu paling unik di Jogja. Urat sapi dimasak hingga lembut lalu disajikan bersama kuah gurih yang membelai lidah. Tekstur kenyal dan rasa gurihnya membuat menu ini disukai pencinta kuliner ekstrem maupun wisatawan yang ingin mencoba sesuatu yang berbeda.
5. Sate Klathak Pak Bari — Cita Rasa Autentik yang Mendunia
Sate Klathak Pak Bari identik dengan rasa sederhana namun kuat. Daging kambing hanya diberi garam sebelum dipanggang menggunakan jeruji besi. Teknik ini membuat panas meresap ke bagian terdalam daging, menghasilkan tekstur juicy dan empuk. Popularitasnya semakin melambung setelah tampil dalam film terkenal, menjadikan tempat ini rujukan wajib.
6. Sate Klathak Mak Adi — Pendamping Setia Pecinta Dua Tusuk Besi
Sama terkenalnya dengan Pak Bari, Sate Klathak Mak Adi menawarkan kelezatan dengan sentuhan kuah gulai yang memperkaya rasa. Hidangan khas ini sering menjadi pelarian bagi mereka yang ingin menikmati sate klathak tanpa antre terlalu panjang, namun tetap mendapatkan rasa autentik.
7. Gudeg Pawon — Menyantap Gudeg Langsung dari Dapur
Tidak ada pengalaman menikmati gudeg yang lebih khas dari Gudeg Pawon. Pengunjung mengambil pesanan langsung dari dapur berasap, menciptakan sensasi kuliner yang hangat dan penuh nostalgia. Kombinasi rasa manis gudeg, krecek pedas, dan lauk pelengkap membuatnya tak tergantikan.
8. Mie Nyemek Bu Siti — Kuah Kental Berbumbu Mantap
Mie Nyemek Bu Siti berada di titik tengah antara mie goreng dan mie rebus, menghasilkan kuah kental pekat bumbu. Telur setengah matang dan rasa gurih yang mendalam menjadikan sajian ini pilihan favorit malam hari bagi pecinta mie khas Jawa.
9. Gultik Bang Jago — Gulai Tikungan Pengusir Lapar Malam
Gultik atau gulai kudapan malam ini identik dengan kuah kaya rempah dan potongan daging empuk. Hangat, gurih, dan cocok dinikmati ketika udara mulai dingin. Tidak berlebihan jika disebut kuliner penutup hari yang sempurna di Jogja.
10. Angkringan Kopi Jos Lik Man — Hangatnya Suasana Kaki Lima Jogja
Kopi jos—kopi hitam panas dengan arang membara—adalah alasan utama banyak orang mampir ke angkringan ini. Aroma khas kopi yang bercampur panas arang menjadi pengalaman tersendiri. Nasi kucing dan aneka sate sederhana menjadi pelengkap yang membuat suasana makin akrab.
11. Soto Kadipiro — Menu Sarapan Klasik Sejak Puluhan Tahun
Soto bening ala Kadipiro terkenal dengan rasa ringan namun berkarakter. Potongan ayam kampung, seledri, dan kuah gurih menjadi perpaduan yang sempurna untuk mengawali hari. Rasanya yang konsisten dari masa ke masa membuatnya terus dicari.
12. Ayam Goreng Bu Tini — Ayam Kampung Berbumbu Meresap
Ayam kampung goreng dengan rempah-rempah khas Jogja menjadi daya tarik utama di tempat ini. Teksturnya empuk, rasanya gurih hingga ke tulang, dan semakin nikmat ketika dipadukan sambal bawang pedas yang memanjakan lidah.
13. Mangut Lele Mbah Marto — Asapan Kayu Bakar yang Bikin Rindu
Lele yang dimasak dalam kuah santan pedas dengan aroma asap kayu bakar menjadi ciri khas Mangut Lele Mbah Marto. Cita rasa tradisionalnya membuat banyak orang kembali hanya untuk mencicipi keotentikan masakan tungku yang nyaris hilang di kota besar.
14. House of Raminten — Tradisional, Artistik, dan Penuh Cerita
Tempat makan ini dikenal sebagai ruang pertemuan budaya dan kuliner. Menu tradisional Jawa disajikan dalam suasana penuh dekorasi khas dan musik pengiring yang membuat kunjungan Anda terasa seperti pertunjukan kecil. Pengalaman bersantap di sini jarang terlupakan.
Jogja dan Kuliner: Dua Hal yang Sulit Dipisahkan
Deretan tempat makan legendaris di atas membuktikan bahwa Jogja bukan sekadar kota wisata, tetapi juga ruang penuh kenangan yang tercipta lewat rasa.
Siapa pun yang pernah mencicipinya akan paham mengapa kota ini selalu dirindukan—bukan hanya karena tempatnya, tetapi karena masakan yang mengajak untuk kembali.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











