bukamata.id – Fenomena Gandhi Sehat mendadak menyita perhatian publik setelah album terbarunya berjudul “Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)” ditarik dari seluruh platform digital streaming (DSP).
Penyanyi cilik berusia 6 tahun asal Sleman, Yogyakarta itu sebelumnya merilis album tersebut bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Namun, hanya dalam hitungan hari, karya bergenre punk rock tersebut resmi dihentikan peredarannya oleh manajemen.
Peristiwa ini cepat viral di media sosial, memunculkan beragam respons, dari dukungan, rasa penasaran, hingga spekulasi. Di tengah riuh perbincangan, penting untuk menempatkan fenomena ini sebagai dinamika karya seni yang bertemu dengan ruang publik yang luas dan beragam tafsir.
Siapa Gandhi Sehat? Penyanyi Cilik dengan Jalur “Punk Anak”
Nama Gandhi Sehat bukan sosok baru di skena independen. Meski usianya baru 6 tahun, ia sudah aktif tampil di berbagai panggung komunitas. Berbeda dengan citra penyanyi anak pada umumnya yang identik dengan lagu ceria dan edukatif, Gandhi memilih jalur yang tidak lazim: punk rock.
Lewat akun Instagram @gandhi_sehat, terlihat bagaimana Gandhi tampil penuh energi, memegang mikrofon dengan percaya diri, dan membawakan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Musiknya disebut sebagai “Punk Anak” perpaduan kepolosan lirik masa kecil dengan distorsi gitar mentah.
Dalam salah satu unggahan, pengelola akunnya sempat menuliskan tantangan memperkenalkan musik Gandhi:
Musiknya dianggap terlalu “punk” untuk segmen anak-anak, tapi juga dipandang sebelah mata oleh sebagian skena punk karena usianya yang masih bocah.
Meski begitu, Gandhi tetap konsisten berkarya. Ia bahkan telah merilis dua album sebelumnya. Sejumlah lagu seperti “Brisik!!!”, “Aku Sudah Besar”, hingga “Beli Hot Wheels” memperlihatkan gaya lugas khas anak kecil yang jujur dan spontan.
Menariknya, dalam salah satu pembahasan di kanal YouTube Vixtape yang dipandu oleh Vincent Rompies dan Soleh Solihun, disebutkan bahwa Gandhi telah menulis sendiri lagu-lagunya sejak usia lima tahun.
Musiknya dikerjakan bersama sang ayah di rumah dengan pendekatan rekaman raw, tanpa polesan berlebihan, sebuah estetika yang justru menjadi ciri khas punk klasik.
Album “Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)” dan Alasan Penarikan
Album yang memicu perbincangan publik itu berjudul “Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)”. Dari sisi judul saja, sebagian warganet menilai ada nada satire. Namun, manajemen Gandhi memberikan klarifikasi tegas melalui Instagram resmi.
Mereka menegaskan bahwa album tersebut sejak awal dibuat sebagai karya seni yang lahir dari sudut pandang polos anak usia 6 tahun. Tidak ada agenda tertentu di baliknya.
Namun setelah rilis, muncul berbagai penafsiran yang berkembang luas di ruang publik. Untuk mencegah kesalahpahaman yang semakin meluas, manajemen memutuskan menarik album tersebut dari DSP.
Yang menjadi sorotan, manajemen juga menegaskan keputusan itu diambil tanpa paksaan dari pihak mana pun. Mereka menyebut langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab kreator dalam menjaga situasi tetap kondusif.
Narasi ini penting dicatat karena di ruang digital, spekulasi sering kali berkembang lebih cepat daripada klarifikasi resmi.
Viral dan Efek Streisand di Media Sosial
Alih-alih meredam perbincangan, penarikan album justru membuat nama Gandhi Sehat semakin dikenal. Kolom komentar berbagai akun Instagram ramai dengan tanggapan warganet.
Sebagian menilai bahwa cita-cita adalah hak personal setiap anak. Ada pula yang mempertanyakan mengapa lagu anak bisa menimbulkan polemik sebesar itu. Tak sedikit yang menyebut bahwa penghapusan justru membuat lagu tersebut semakin viral.
Komentar warganet dikutip dari kolom komentar Instagram @feedgramindo, dikutip Minggu (15/2/2026).
“Cita-cita adalah keinginan, kehendak, tujuan, atau impian yang selalu ada di dalam pikiran seseorang dan ingin diwujudkan di masa depan. Nah itu kebebasan setiap orang kan. Dia mau jadi apa,” tuls akun @tez***
“kok bisa takut sama lagu anak,” tulis aku @faw***
“Lah kok takut sama lagu anak2 ingusan?” tulis akun @ryo***
“Lagunya di hapus malah makin viral njir,” tulis aku @rim***
Fenomena ini dalam komunikasi digital sering disebut sebagai efek berantai, ketika sebuah konten dihapus, rasa penasaran publik justru meningkat.
Mengingat Kasus Band Sukatani
Peristiwa ini mengingatkan publik pada polemik lagu “Bayar, Bayar, Bayar” milik band punk rock Sukatani pada 2025. Lagu tersebut sempat viral karena liriknya yang menyebut frasa “bayar polisi”.
Kala itu, personel Sukatani menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada institusi Polri dan mencabut lagu tersebut dari peredaran. Dalam video klarifikasi, mereka menjelaskan bahwa lagu itu ditujukan untuk mengkritik oknum, bukan institusi secara keseluruhan.
Meski memiliki kemiripan dalam konteks viral dan penarikan lagu, kasus Gandhi Sehat berbeda karena manajemennya secara tegas menyatakan tidak ada intervensi atau tekanan dari pihak mana pun.
“Keputusan ini diambil tanpa paksaan dari pihak manapun, sebagai bentuk tanggungjawab kami sebagai kreator, serta untuk menghindari kesalahpahaman yang tidak kami kehendaki,” ungkap pihak manajemen Gandhi Sehat.
Di sinilah publik melihat pola yang menarik: karya musik, terutama dari genre punk yang identik dengan ekspresi kritis, kerap berada di persimpangan antara kebebasan berekspresi dan sensitivitas sosial.
Fenomena Penyanyi Cilik di Luar Arus Utama
Gandhi Sehat menghadirkan fenomena unik di industri musik Indonesia. Ia bukan produk label besar dengan konsep pasar anak-anak konvensional. Musiknya lahir dari ruang keluarga, direkam sederhana, dan dipublikasikan secara independen.
Dalam lanskap musik digital saat ini, platform streaming memungkinkan siapa saja—termasuk anak usia 6 tahun, untuk merilis karya dan langsung menjangkau audiens luas. Namun, keterbukaan ini juga berarti setiap karya akan menghadapi tafsir yang beragam.
Gandhi, dengan segala kepolosannya, mungkin hanya menyuarakan imajinasi masa kecil. Namun ketika karya itu masuk ke ruang publik yang sarat dinamika sosial, interpretasi bisa melampaui maksud awal penciptanya.
Antara Ekspresi dan Interpretasi Publik
Kasus viralnya Gandhi Sehat menunjukkan bagaimana karya seni, terutama yang datang dari sosok tak terduga seperti penyanyi cilik punk, dapat memicu diskusi luas.
Di satu sisi, publik melihat keberanian dan keunikan seorang anak kecil yang menulis lagu sendiri. Di sisi lain, sensitivitas sosial membuat sebagian orang menafsirkan lebih jauh dari sekadar ekspresi polos.
Hingga kini, album “Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)” tetap ditarik dari peredaran. Namun nama Gandhi Sehat justru semakin dikenal. Apakah ini akan menjadi babak baru dalam perjalanan musik “Punk Anak”-nya? Waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, fenomena ini menjadi potret menarik tentang bagaimana musik, media sosial, dan persepsi publik saling berkelindan di era digital.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









