bukamata.id – Banjir kembali merendam sejumlah wilayah di Kecamatan Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu malam (19/4/2025). Hujan deras yang mengguyur sejak sore hari hingga malam, ditambah sistem drainase yang buruk, menjadi penyebab utama banjir di kawasan pesisir selatan Jawa Barat tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat banjir terjadi di beberapa titik, seperti Cangehgar, Cisaat, Tipar, dan Badak Putih.
“Hujan mulai turun pukul 17.30 hingga sekitar pukul 22.00. Debit air tak tertampung, menyebabkan luapan di berbagai titik,” jelas Kepala Pelaksana BPBD, Deden Sumpena, Minggu (20/4/2025).
Deden menyebut bahwa banjir di wilayah ini bukanlah kejadian baru. Sejak Desember 2024, banjir serupa sudah terjadi tiga kali dengan pola genangan yang nyaris identik. Menurutnya, ini adalah bagian dari bencana hidrometeorologi yang belum ditangani secara menyeluruh.
“Pimpinan daerah sudah meninjau lokasi seperti Cangehgar, dan perencanaan normalisasi sedang diproses. Namun curah hujan berdasarkan data BMKG masih tinggi, jadi penanganan jangka panjang perlu dirancang matang,” tambahnya.
Tragisnya, banjir kali ini juga menelan korban jiwa. Seorang warga bernama Entis Sutisna meninggal dunia setelah terjatuh dari sepeda motor di Jembatan Badak Putih.
“Korban tidak terbawa arus, tetapi mengalami kejang-kejang setelah terjatuh, dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit,” kata Deden.
Selain korban jiwa, satu warga Cangehgar mengalami luka ringan dan sudah mendapatkan perawatan. BPBD mencatat dua rumah warga hancur, dan beberapa lainnya terdampak parah, khususnya di wilayah Tipar RW 08.
Fasilitas umum juga tak luput. Air sempat masuk ke Puskesmas Palabuhanratu dan beberapa ruangan RSUD Palabuhanratu, termasuk ruang anak yang harus dipindahkan demi keselamatan pasien. Lapang Cangehgar pun ikut tergenang.
BPBD saat ini telah berkoordinasi dengan pihak kecamatan, kelurahan, dan unsur Forkopimcam untuk mengawasi situasi dan mengupayakan langkah preventif. Deden menegaskan perlunya penanganan terpadu lintas sektoral agar solusi yang diambil bersifat menyeluruh, bukan tambal sulam.
Terkait abrasi sungai yang semakin parah di Kampung Tipar, Deden menyebut hal itu merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Namun BPBD tetap siap melakukan tindakan darurat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
“Bencana ini menjadi peringatan bahwa kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem harus ditingkatkan. Masyarakat kami imbau untuk tetap waspada karena potensi cuaca ekstrem masih tinggi,” tutupnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










