Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dedi Mulyadi Targetkan Tekan Belanja Pemerintah hingga 20 Persen

Sabtu, 21 Maret 2026 12:48 WIB

Dedi Mulyadi Minta Maaf di Hari Lebaran: Akui Pelayanan Pemerintah Belum Optimal

Sabtu, 21 Maret 2026 12:45 WIB

Momen Idul Fitri, Ridwan Kamil Maafkan dan Doakan Para Pembuat Hoaks

Sabtu, 21 Maret 2026 12:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dedi Mulyadi Targetkan Tekan Belanja Pemerintah hingga 20 Persen
  • Dedi Mulyadi Minta Maaf di Hari Lebaran: Akui Pelayanan Pemerintah Belum Optimal
  • Momen Idul Fitri, Ridwan Kamil Maafkan dan Doakan Para Pembuat Hoaks
  • Jangan Terkecoh! Ini Kebenaran di Balik Video Viral Ibu Tiri dan Anak Tiri
  • Siap Dipadati Jamaah, Ini Jadwal Shalat Id di Masjid Al-Jabbar
  • Wajib Tahu! Ini Niat dan Tata Cara Mandi Sunnah Idul Fitri yang Benar
  • Link Video Ojol Bali 17 Menit! Pakar Ungkap Bahaya Mengerikan yang Mengintai HP Anda
  • Bikin Penasaran, Link Video Ojol Bali 17 Menit Diburu Netizen
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 21 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Banjir yang Tak Pernah Pergi: Bandung Raya Terjebak dalam Krisis Tanpa Langkah Serius

By Aga GustianaSenin, 15 Desember 2025 09:00 WIB5 Mins Read
Ilustrasi banjir di Bandung Raya. (Foto: ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Hujan yang turun beberapa jam saja kini cukup untuk melumpuhkan Bandung Raya. Air kembali menggenangi permukiman, jalan raya, hingga kawasan pusat aktivitas ekonomi. Di Kabupaten Bandung, kawasan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang kembali menjadi titik terparah. Sungai Citarum dan anak-anak sungainya meluap, merendam ribuan rumah warga hingga setinggi pinggang orang dewasa. Aktivitas warga berhenti, sekolah diliburkan, dan kerugian material kembali tak terhindarkan.

Di Kota Bandung dan Cimahi, genangan air muncul di banyak ruas jalan akibat sistem drainase yang tak mampu menampung debit air hujan. Kemacetan panjang, gangguan transportasi, serta meningkatnya risiko penyakit pascabanjir menjadi persoalan lanjutan yang harus ditanggung masyarakat. Banjir telah menjadi fenomena tahunan yang seolah diterima sebagai keniscayaan, bukan kegagalan kebijakan.

Upaya Pemerintah yang Berulang, Parsial, dan Tak Pernah Tuntas

Pemerintah pusat dan daerah kerap menyatakan telah melakukan berbagai langkah untuk menanggulangi banjir. Pembangunan kolam retensi, normalisasi sungai, hingga program Citarum Harum terus diklaim sebagai bentuk keseriusan negara. Namun, banjir tetap berulang dari tahun ke tahun dengan pola yang hampir sama.

Kolam retensi yang dibangun di sejumlah titik belum mampu menahan limpasan air dalam skala besar. Normalisasi sungai hanya memberi dampak sementara karena sedimentasi cepat kembali terjadi. Program Citarum Harum pun dinilai lebih fokus pada penanganan sampah dan pencemaran, sementara persoalan tata ruang dan alih fungsi lahan masih dibiarkan berjalan.

Penanganan banjir di Bandung Raya masih bersifat parsial dan sporadis. Setiap daerah bergerak sendiri-sendiri berdasarkan batas administratif, tanpa kerangka kebijakan regional yang terintegrasi. Akibatnya, banjir tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah lokasi.

Bandung di Bawah Permukaan Laut: Peringatan dari Gubernur

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut kondisi Bandung Raya sudah berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan bahwa penurunan permukaan tanah di Bandung telah membuat wilayah ini berada di bawah permukaan laut.

Baca Juga:  Hasto Minta Kader PDIP Bergerak Menangkan Jeje-Ronal di Pilgub Jabar 2024

“Bandung ini permukaannya sudah sangat di bawah laut. Itulah kenapa air selalu naik setiap musim hujan,” ujar Dedi, Rabu (10/12/2025).

Menurut Dedi, banjir di Bandung Raya tidak semata-mata disebabkan oleh hujan deras. Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah, pembangunan yang tidak terkendali, serta rusaknya lingkungan menjadi faktor utama yang memperparah genangan. Dalam kondisi tersebut, hujan dengan intensitas sedang pun sudah cukup untuk menyebabkan banjir meluas.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengidentifikasi penurunan muka tanah sebagai salah satu penyebab utama banjir tahunan, khususnya di wilayah Bandung bagian selatan. Namun, persoalan ini belum sepenuhnya diikuti oleh kebijakan pengendalian yang tegas.

Tanggapan Pakar: Persoalan Struktural dan Multidimensional

Pakar Kebijakan Publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, mengatakan, masalah banjir yang terus berulang di Bandung Raya tidak dapat disederhanakan sebagai akibat dari satu kebijakan yang keliru semata, melainkan merupakan persoalan struktural dan multidimensional yang telah terakumulasi selama puluhan tahun.

“Banjir di kawasan Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, hingga Sumedang terjadi karena kombinasi antara lemahnya pengendalian tata ruang, masifnya alih fungsi lahan resapan di wilayah hulu dan perkotaan, degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, serta keterbatasan kapasitas sistem drainase dan sungai dalam menampung debit air yang terus meningkat,” ujar Kristian kepada bukamata.id, Minggu (14/12/2025).

Baca Juga:  Tahun 2025, Pemprov Jabar Patok Target Investasi Meningkat 25 Persen

Ia menambahkan, urbanisasi yang sangat cepat tidak diimbangi dengan penegakan regulasi lingkungan dan perencanaan berbasis daya dukung. “Akibatnya, banyak kawasan yang seharusnya menjadi area resapan justru berubah menjadi kawasan terbangun,” katanya.

Menurut Kristian, selain faktor tata ruang, persoalan teknis dan kelembagaan juga menjadi penghambat utama dalam penanganan banjir di Bandung Raya. “Pembangunan kolam retensi, misalnya, sering terhenti pada masalah pembebasan lahan, konflik kepemilikan, keterbatasan anggaran, serta resistensi sosial dari masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, kata dia, program besar seperti Citarum Harum memang menunjukkan kemajuan pada aspek kebersihan dan penertiban. Namun, dampaknya terhadap pengendalian banjir belum signifikan. “Masalah banjir tidak hanya berada di badan sungai, melainkan juga di hulu DAS, kawasan permukiman, dan sistem drainase perkotaan,” jelasnya.

Kristian juga menyoroti penurunan muka tanah di beberapa wilayah Bandung Raya akibat eksploitasi air tanah. Menurutnya, kondisi tersebut memperparah genangan yang terjadi setiap musim hujan. “Pernyataan bahwa Bandung sudah berada di bawah permukaan mencerminkan kondisi ekologis yang serius dan berisiko jangka panjang,” tegasnya.

Ia menilai, faktor lain yang tidak kalah penting adalah lemahnya koordinasi lintas wilayah dan sektor. “Bandung Raya terdiri atas beberapa pemerintah daerah dengan kewenangan masing-masing, sementara banjir bekerja secara ekologis lintas batas administratif,” katanya.

Ketika penanganan dilakukan secara parsial dan sporadis, lanjut Kristian, hasilnya tidak akan berkelanjutan. “Normalisasi sungai di satu kota atau pembangunan drainase lokal tanpa kerangka kebijakan regional yang terintegrasi hanya akan menghasilkan solusi tambal sulam dan reaktif, bukan preventif dan sistemik,” ujarnya.

Baca Juga:  Selama 5 Tahun, Ridwan Kamil Sukses Dongkrak Desa di Jabar

Oleh karena itu, Kristian menegaskan pemerintah harus mengubah pendekatan penanganan banjir. “Pendekatan sektoral dan jangka pendek harus diubah menjadi pendekatan regional berbasis DAS dan jangka panjang,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas kabupaten dan kota melalui mekanisme kelembagaan yang jelas dan memiliki mandat kuat. “Perencanaan tata ruang harus berbasis risiko banjir dan perubahan iklim,” ujarnya.

Menurut Kristian, pengendalian alih fungsi lahan di kawasan hulu, restorasi lingkungan, reboisasi, serta pengelolaan air tanah harus berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur seperti kolam retensi, taman resapan, dan perbaikan sistem drainase. “Pada saat yang sama, pemerintah juga harus berani mengambil kebijakan tidak populer, seperti moratorium pembangunan di zona rawan banjir dan relokasi permukiman bantaran sungai dengan pendekatan yang adil dan manusiawi,” katanya.

“Dengan kata lain, banjir di Bandung Raya bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari masalah tata kelola pemerintahan, konsistensi kebijakan, dan keberanian politik,” pungkas Kristian. “Selama penanganan masih bersifat parsial, tidak terintegrasi, dan lebih menekankan respons darurat daripada pencegahan struktural, maka banjir akan terus menjadi langganan. Hanya dengan kebijakan yang tegas, terkoordinasi, dan berbasis keberlanjutan ekologis, persoalan banjir di Bandung Raya dapat dikurangi secara signifikan dalam jangka panjang.”

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

banjir bandung raya Citarum HL jawa barat kebijakan publik lingkungan tata ruang Urbanisasi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Dedi Mulyadi Targetkan Tekan Belanja Pemerintah hingga 20 Persen

Dedi Mulyadi Minta Maaf di Hari Lebaran: Akui Pelayanan Pemerintah Belum Optimal

Momen Idul Fitri, Ridwan Kamil Maafkan dan Doakan Para Pembuat Hoaks

Siap Dipadati Jamaah, Ini Jadwal Shalat Id di Masjid Al-Jabbar

Pohon Tumbang di Jalan Bypass Cicalengka, Arus Kendaraan Sempat Macet Panjang

Badai Hujan dan Angin Kencang Terjang Cicalengka, Jalan Tertutup Pohon Tumbang

Terpopuler
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Viral! ‘Ukhti Mukena Pink’ Bikin Netizen Penasaran, Pencarian Versi Tanpa Sensor Meledak
  • Viral Video Ibu Tiri vs Anak Tiri 7 Menit di Kebun Sawit: Ternyata Ini Fakta Tersembunyi di Baliknya!
  • Detik-detik Video Ibu Tiri dan Anak Tiri di Kebun Sawit Bocor, Link Telegram Diburu Warganet
  • Link Video 17 Menit ‘Ojol Bali’ Buruan Netizen, Ternyata Begini Kronologi di Balik Rekaman Viral Tersebut!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.