bukamata.id – Awkarin, selebgram sekaligus figur publik yang namanya nyaris tak pernah jauh dari sorotan, kembali menuai perhatian publik setelah kisah cintanya kandas secara tiba-tiba. Perempuan bernama asli Karin Novilda itu mengumumkan dirinya diputuskan oleh sang kekasih bule, tak lama setelah ia memulai kehidupan baru di Melbourne, Australia—sebuah langkah besar yang sejak awal dianggap banyak orang sebagai bentuk pengorbanan demi hubungan tersebut.
Kabar itu muncul bukan dari media gosip atau potongan rumor yang beredar pelan, melainkan langsung dari suara Awkarin sendiri. Melalui unggahannya di media sosial, ia menumpahkan isi hati dengan gaya khasnya: blak-blakan, emosional, dan penuh energi yang membuat publik tak bisa mengalihkan pandangan
“Jadi, gue diputusin lagi,” ucap Awkarin seperti dikutip Kamis (25/12/2025). Kalimat pendek itu cukup untuk memantik gelombang reaksi—dari simpati hingga kritik bertubi-tubi.
Namun bukan pernyataan itu saja yang membuat publik terhenyak. Awkarin kemudian menyinggung banyak hal yang diyakininya telah ia berikan selama menjalin hubungan, seolah ingin menunjukkan bahwa perjalanan cinta ini bukan kisah yang dijalaninya setengah hati.
“Ini lho yang lo tinggalin (menunjuk wajahnya sendiri), ini (otak), ini (body), ini (mengeluarkan kartu kredit),” katanya dengan ekspresi penuh penekanan. Di benak warganet, kata-kata itu terdengar seperti campuran kekecewaan, kemarahan, dan mungkin juga rasa tidak percaya—bahwa usaha sebesar itu tetap tak mampu mengikat hubungan mereka.
Reaksi publik pun berkembang cepat, secepat unggahan itu menembus linimasa media sosial. Komentar berdatangan, sebagian mempertanyakan alasan sebenarnya, sebagian lainnya menilai persoalan itu tak pernah sekadar urusan cinta. Tidak sedikit warganet yang mengaitkan kandasnya hubungan tersebut dengan gaya hidup Awkarin yang dinilai hedonis dan ekstrem. Nama Abyakta Ernoult, sang mantan pacar, ikut terseret dalam diskusi panjang yang tak kunjung usai.
Namun Awkarin tak tinggal diam. Ia merespons secara langsung dugaan yang menuding gaya hidupnya menjadi sumber masalah. “Ini bukan masalah lifestyle,” tegasnya, menolak anggapan bahwa kebiasaannya dalam mengonsumsi alkohol menjadi pemicu perpisahan. Penolakan itu ia sampaikan dengan cara yang kembali menunjukkan sisi emosional dirinya—hal yang membuat publik serasa ikut dibawa masuk ke pusaran perasaannya. “Gue bertato, gue minum, tapi gue nggak jahat sama orang,” ujar Awkarin, seolah menantang penilaian masyarakat yang menurutnya terlalu simplistis.
Dalam salah satu unggahannya, ia bahkan terlihat menenggak minuman keras secara terang-terangan, yang kemudian menjadi simbol dari sikapnya: tidak ingin didefinisikan hanya karena kebiasaan yang dianggap buruk oleh sebagian orang. Gestur itu memicu dua reaksi ekstrem—kekaguman pada keberaniannya menjadi diri sendiri, sekaligus kritik pedas yang menilai aksinya sebagai cara tidak dewasa untuk menghadapi rasa sakit hati.
Di balik gegap gempita komentar publik, ada realitas lain yang tak kalah menarik: langkah besar yang pernah ia ambil demi melanjutkan hubungan. Sebagian warganet menyebut Awkarin terlalu berkorban, terutama setelah ia memutuskan pindah ke Melbourne pada pertengahan September 2025. Meski ia menekankan bahwa kepindahan tersebut berkaitan dengan pekerjaan dan fase baru hidupnya, banyak orang sejak awal menghubungkannya dengan Abyakta yang memang memiliki aktivitas di Australia.
Momen penyambutan hangat di bandara Melbourne saat ia tiba dulu menjadi bukti visual yang menguatkan anggapan publik—bahwa hubungan mereka kala itu berada pada titik serius. Foto-foto kebersamaan keduanya tersebar di media sosial, menciptakan narasi romantis yang sulit dipisahkan dari kisah kepindahan Awkarin. Ketika hubungan tersebut berakhir dalam hitungan bulan, narasi itu berbalik arah: publik bertanya, apa yang salah? Mengapa usaha sebesar itu tak berbuah manis?
Di sisi lain, ini bukan kali pertama kehidupan pribadi Awkarin menjadi konsumsi ramai. Sebelum ini, ia telah membantah isu hamil di luar nikah—sebuah rumor yang sempat beredar liar ketika ia terlihat berdampingan terus dengan Abyakta. Saat itu pun, ia menegaskan bahwa fokus hidupnya tetap pada karier dan pencarian diri. Kini, pernyataan serupa terasa bergema kembali, meski dalam konteks yang berbeda.
Kandasnya hubungan ini juga memperkuat posisi Awkarin sebagai figur publik yang kesehariannya selalu menarik untuk diikuti. Apa pun yang ia lakukan—dari pakaian, tato baru, hingga keputusan karier—selalu berpotensi menjadi perbincangan. Kisah cintanya, terutama, telah berkali-kali menjadi sorotan, membuat sebagian orang bertanya apakah publik terlalu ikut campur, atau justru Awkarin sendiri yang membuka pintu lebar-lebar untuk diperhatikan.
Meski demikian, ada sisi manusiawi yang tak boleh diabaikan. Di balik unggahan bernada tegas dan komentar yang penuh keberanian, tampak jelas rasa kehilangan yang sulit disembunyikan. Kalimat “Jadi, gue diputusin lagi,” yang diucapkannya bukan hanya pemberitahuan, tapi juga semacam pengakuan yang berat—bahwa perjalanan melintasi negara dan membangun hidup baru tak cukup menyelamatkan hubungan tersebut dari perpisahan.
Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar kabar putus selebgram. Ini adalah cerita tentang ekspektasi, pengorbanan, dan batas antara kehidupan pribadi dengan sorotan publik. Tentang bagaimana seseorang berusaha menunjukkan kesungguhan cintanya, namun tetap harus menerima bahwa tidak semua usaha berakhir sesuai rencana.
Dan seperti banyak kisah cinta lainnya yang tenggelam tanpa penutup yang jelas, publik mungkin tak akan pernah tahu alasan pasti di balik perpisahan ini. Namun satu hal yang tampaknya pasti: bagi Awkarin, babak baru di negeri seberang yang semula dipenuhi harapan kini berubah menjadi momentum refleksi—tentang cinta, tentang diri, dan tentang bagaimana menghadapi dunia yang selalu ingin ikut menilai.
Entah seperti apa langkahnya berikutnya, satu hal tetap relevan: Awkarin kembali menjadi figur yang kisah hidupnya bukan sekadar diikuti, tetapi juga diperdebatkan. Dan mungkin, seperti kalimat yang pernah ia ucapkan dengan getir, ini hanyalah satu lagi episode dari perjalanan panjang seorang perempuan yang selalu berusaha menjadi dirinya sendiri—meski konsekuensinya berat, dan terkadang menyakitkan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











