bukamata.id – Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, yang digadang-gadang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan transportasi udara baru di Indonesia, kini menghadapi kenyataan pahit. Meski dibangun megah dengan anggaran sekitar Rp2,6 triliun, bandara ini justru sepi aktivitas dan terus merugi.
Sejak diresmikan pada 24 Mei 2018, Bandara Kertajati awalnya diproyeksikan sebagai bandara terbesar kedua setelah Soekarno-Hatta. Namun, kenyataan di lapangan sangat jauh dari ekspektasi. Pada akhir Juni 2025, seluruh penerbangan domestik di bandara ini resmi dihentikan. Saat ini, hanya tersisa satu rute internasional menuju Singapura, itu pun hanya beroperasi dua kali dalam seminggu.
Minimnya akses transportasi dan jarak yang jauh dari pusat kota menjadi faktor utama masyarakat enggan memanfaatkan fasilitas ini. Alih-alih menjadi pilihan utama warga Jawa Barat, banyak penumpang yang masih lebih memilih Bandara Halim Perdanakusuma atau Soekarno-Hatta.
Tak tinggal diam, pemerintah pernah mencoba menghidupkan Kertajati dengan memindahkan seluruh penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Namun, kebijakan ini belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah penumpang. Akibatnya, bandara ini masih membebani anggaran daerah dengan kerugian operasional mencapai Rp60 miliar setiap tahunnya.
Situasi ini menjadi sorotan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dalam rapat paripurna Hari Jadi ke-535 Kabupaten Majalengka, ia mengungkapkan keprihatinannya. Dengan nada sindiran khas Sunda, ia menyebut bandara ini sebagai “peuteuy selong” — istilah yang menggambarkan sesuatu yang tampak menjanjikan di luar, namun kosong di dalam.
“Bandarana geus robah jadi peuteuy selong. Kunaon? Euweuh pesawatna, teu maju-maju,” ujar Dedi, Sabtu (7/6/2025).
Ia juga menyoroti beban keuangan yang harus ditanggung Pemerintah Provinsi Jawa Barat setiap tahunnya hanya untuk menopang operasional bandara tersebut.
“Pan nombok unggal taun Rp30 miliar. Kudu kumaha?” keluhnya di hadapan pejabat daerah.
Dedi pun menegaskan perlunya desain strategi baru untuk menyelamatkan bandara ini, sambil meminta waktu untuk menyusun langkah konkret.
Dengan fasilitas kelas dunia dan potensi besar sebagai pintu gerbang ekonomi Jawa Barat, Bandara Kertajati sebenarnya memiliki peluang untuk bangkit. Namun tanpa langkah nyata dan terintegrasi, megaproyek ini terancam menjadi simbol gagalnya perencanaan infrastruktur berskala besar di Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











