Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Lebaran Paling Pilu! Ibu Berpulang Jelang Hari Raya, Kata-Kata Terakhir di Liang Lahat Menyayat Hati

Minggu, 22 Maret 2026 13:13 WIB

Viral di TikTok! Kronologi Video Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit

Minggu, 22 Maret 2026 11:14 WIB

Panas! Prediksi Real Madrid vs Atletico Madrid, Mbappe Jadi Penentu?

Minggu, 22 Maret 2026 10:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Lebaran Paling Pilu! Ibu Berpulang Jelang Hari Raya, Kata-Kata Terakhir di Liang Lahat Menyayat Hati
  • Viral di TikTok! Kronologi Video Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit
  • Panas! Prediksi Real Madrid vs Atletico Madrid, Mbappe Jadi Penentu?
  • Dipanggil Timnas, Eliano Reijnders Ungkap Persaingan Sengit di Skuad Garuda
  • Dedi Mulyadi Targetkan Tekan Belanja Pemerintah hingga 20 Persen
  • Dedi Mulyadi Minta Maaf di Hari Lebaran: Akui Pelayanan Pemerintah Belum Optimal
  • Momen Idul Fitri, Ridwan Kamil Maafkan dan Doakan Para Pembuat Hoaks
  • Jangan Terkecoh! Ini Kebenaran di Balik Video Viral Ibu Tiri dan Anak Tiri
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 22 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bongkar Pasang Gedung Sate, Sentuhan Candi Bentar dan Pusaran Polemik

By SusanaSenin, 24 November 2025 09:00 WIB7 Mins Read
Gedung Sate tampil dengan wajah baru melalui renovasi kawasan luar. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gedung Sate terus mempertegas identitasnya sebagai ikon Jawa Barat melalui proses renovasi dan penataan ulang yang kini tengah berlangsung.

Bangunan bersejarah yang berdiri di Kota Bandung sejak era kolonial ini kembali mengalami revitalisasi di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Barat demi menghadirkan wajah baru yang lebih kuat mencerminkan budaya Sunda.

Di bagian dalam Gedung Sate, kini banyak terlihat ornamen-ornamen Sunda hingga kehadiran kereta kencana di bagian lobby. Namun, yang paling mendapat sorotan publik adalah bongkar pasang pintu gerbang dan pagar Gedung Sate.

Sebelumnya, pintu gerbang Gedung Sate hanya berupa kontruksi pagar beton. Kini, struktur bangunan tersebut dibongkar dan dirombak total dengan sentuhan bergaya Keraton Cirebon. Arsitektur baru tersebut dinilai lebih kental memberikan nuansa historis sekaligus mempertegas kekayaan warisan budaya di Jawa Barat.

Revitalisasi kawasan heritage ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat tampilan visual, tetapi juga diklaim meningkatkan kenyamanan pegawai dan pengunjung yang beraktivitas di lingkungan Gedung Sate. Pemerintah memastikan proses renovasi dilakukan dengan tetap mempertimbangkan nilai sejarah bangunan dan harmonisasi budaya lokal.

Sejarah Gedung Sate: Dari Pusat Administrasi Kolonial ke Kantor Gubernur Jawa Barat

Gedung Sate dibangun pada 1920 oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai pusat administrasi Gouvernements Bedrijven (GB). Dirancang oleh arsitek Ir. J. Gerber bersama para insinyur Belanda dan pribumi, bangunan ini menggabungkan gaya arsitektur Eropa dengan sentuhan tradisional Nusantara.

Ciri khas Gedung Sate terletak pada ornamen berbentuk tusuk sate di bagian puncaknya. Enam bulatan pada tusuk sate tersebut melambangkan biaya pembangunan sebesar enam juta gulden, sebuah angka fantastis pada masanya. Dari sinilah nama “Gedung Sate” lahir dan bertahan hingga kini sebagai identitas visual Jawa Barat.

Setelah Indonesia merdeka, Gedung Sate beralih fungsi menjadi kantor Gubernur Jawa Barat. Di dalamnya terdapat museum yang menyimpan arsip, foto, dan dokumentasi sejarah pembangunan serta perjalanan Jawa Barat sejak masa kolonial hingga modern.

Selain menjadi pusat pemerintahan, kompleks Gedung Sate juga menjadi destinasi wisata edukasi yang ramai dikunjungi pelajar dan wisatawan.

Peran Gedung Sate dalam Momen Bersejarah

Gedung Sate menjadi saksi berbagai fase penting perjalanan bangsa. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, kawasan ini sempat menjadi lokasi pertempuran antara pejuang Indonesia dan tentara Belanda.

Keberadaannya bukan hanya sebagai bangunan administratif, tetapi monumen hidup yang merekam dinamika sosial-politik Jawa Barat.

Baca Juga:  Arus Lalin Padat, Pantai Batukaras dan Madasari Masih Dibanjiri Wisatawan

Renovasi Gedung Sate dari Masa ke Masa

Meski tampak kokoh, Gedung Sate telah mengalami sejumlah renovasi besar untuk mempertahankan keasliannya dan menyesuaikan kebutuhan zaman.

Periode 1920–1986: Adaptasi Fungsi Pasca-Kemerdekaan

Setelah kolonial Belanda berakhir, bangunan ini beralih menjadi kantor Gubernur Jawa Barat dan mengalami perawatan berkala. Tidak banyak perubahan struktural signifikan terjadi dalam periode ini.

Renovasi Besar 1986–1990

Renovasi terbesar sebelum era modern dilakukan pada 1986–1990. Pemerintah Jawa Barat saat itu memperbaiki struktur bangunan, memperbaharui interior, dan memperkuat fondasi dengan tetap mempertahankan bentuk dan ornamen asli.

Renovasi Era Ridwan Kamil

Pada era Ridwan Kamil, renovasi Gedung Sate berfokus pada revitalisasi area taman depan dan belakang serta penambahan fasilitas untuk menjadikannya destinasi wisata sejarah dengan anggaran sekitar Rp14,9 miliar.

Perbaikan ini meliputi pembongkaran pagar, pembuatan plasa dengan air mancur di bagian depan, serta pembangunan panggung terbuka dan taman rumput di belakang Gedung Sate.

Tujuan utamanya adalah memberikan akses lebih luas bagi masyarakat, terutama di akhir pekan dan mempercantik kawasan dalam rangka menyambut ulang tahun ke-100 Gedung Sate.

Renovasi Terbaru: Fokus pada Gapura dan Kawasan Luar

Penataan terbaru yang sedang berjalan saat ini tidak menyentuh bangunan utama yang merupakan bagian paling bersejarah, melainkan hanya area luar Gedung Sate seperti pintu gerbang dengan kehadiran gapura, pagar, dan penataan lanskap.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa penataan ini dilakukan untuk membuat kawasan Gedung Sate lebih selaras secara visual, lingkungan, dan filosofis.

“Penataan hanya bagian luar Gedung Sate, karena itu bukan bangunan heritage. Itu sudah beberapa kali renovasi,” ujar Dedi, Jumat (21/11/2025).

Adapun alasan penataan Gedung Sate di antaranya untuk meningkatkan daya serap air dimana bagian permukaan beraspal diganti paving block, menghadirkan nilai-nilai simbolik dimana seluruh elemen dirancang memiliki filosofi budaya, seperti penataan gapura dan pagar.

Selain itu, penataan juga dilakukan karena Gedung Sate dinilai terlalu estetik, namun tidak sinkron dengan bangunan lain di sekitarnya. Gedung Sate juga dianggap simbol keberhasilan pembangunan zaman dahulu, bukan cerminan keberhasilan masa kini.

Dedi juga menegaskan bahwa anggaran renovasi sebesar Rp3,9 miliar tidak mengganggu pembangunan besar lainnya seperti jalan, listrik, dan saluran sungai.

Filosofi Arsitektur: Sentuhan Candi Bentar dan Warisan Kacirebonan

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Jawa Barat, Adi Komar menjelaskan bahwa desain gapura baru mengangkat elemen candi bentar, ornamen yang menjadi bagian penting dari beberapa keraton di Jawa Barat.

Baca Juga:  Agus Harimurti Yudhoyono Resmikan Pemancangan Tiang Pertama Kantor DPD Demokrat Jabar

Candi bentar sendiri memiliki jejak budaya dari Kacirebonan yang mengadopsi unsur Mataram dan Majapahit.

“Candi bentar merupakan warisan budaya lokal yang masih hidup di beberapa keraton. Desain baru ini menggabungkan tradisi dan modernitas sebagai simbol karakter Jawa Barat yang maju, namun berakar kuat pada budaya,” kata Mas Adi.

Warna terakota yang kini terlihat dominan hanya bersifat sementara. Setelah proses akhir, warna akan diselaraskan kembali dengan dominasi bangunan utama yang berwarna putih.

Terpisah, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Maulana Yusuf Erwinsyah mempertanyakan arah kebijakan kebudayaan Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi itu.

Ia menilai, kebijakan kebudayaan Pemprov Jabar lebih menonjolkan pembangunan fisik bernuansa estetika daripada merawat warisan sejarah yang memiliki nilai kebudayaan autentik.

Menurut Maulana, proyek-proyek seperti gapura Gedung Sate bernilai Rp3,9 miliar, termasuk pembangunan gapura perbatasan provinsi, hingga rencana jangka panjang membangun gapura di gerbang tol khas Jawa Barat menunjukkan dominasi belanja estetika dalam kebijakan kebudayaan daerah.

“Sebenarnya kebudayaan apa yang ingin diangkat oleh KDM? Ideologi kebudayaan apa yang bisa dibuktikan dengan dibangunnya gapura dan gerbang-gerbang yang seolah-olah merepresentasikan bangunan Sunda?” ujarnya di Bandung, Kamis (20/11/2025).

Maulana menegaskan bahwa esensi pelestarian budaya bukan pada penciptaan bangunan baru yang sekadar bernuansa Sunda, tetapi pada merawat jejak sejarah yang sudah ada seperti situs cagar budaya.

“Menjaga kebudayaan yang berarti adalah menjaga bangunan dan cagar budaya yang menyimpan sejarah lama. Di situlah nilai kebudayaan Sunda berada,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa Jawa Barat memiliki lebih dari 50 situs cagar budaya yang memerlukan perhatian dan perawatan, bukan sekadar proyek simbolik yang menelan anggaran besar.

Tanggapan Publik: Pro-Kontra Mengiringi Renovasi

Renovasi gapura dan kawasan luar Gedung Sate kembali memancing perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet menyampaikan tanggapan beragam, mulai dari dukungan hingga kritik pedas.

Sebagian netizen mengapresiasi perubahan yang dianggap memperkuat identitas budaya Sunda dalam kawasan Pemerintahan Jawa Barat.

“Keren, kalo kaya gini keliatan budaya Sundanya,” tulis akun @maz*.

“Beneran jadi Sundanise banget, keren,” komentar akun @sup*.

“Bagus kok, jadi lebih tegas kesannya, Sunda banget,” tambah akun @fan*.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Menangis di Pelabuhan Ratu: Saya Ditagih Nyi Ratu

Namun tidak sedikit pula yang melontarkan kritik. Mereka menilai renovasi gapura perlu dipertimbangkan kembali karena menyangkut visual bangunan bersejarah.

“Piraku arsitek ujug-ujug kasih usul, kan arsitek mah kumaha klien hoyongna. Enya Bandung teh Jawa Barat, enya Bandung teh Sunda, tapi bangunan peninggalan sejarah toh dirobah-robah siga zaman Galuh atuh. Kan moal ngajabat salilana meureun,” tulis akun @don*.

Komentar bernada satir juga bermunculan, menyoroti tren dekoratif yang dianggap berlebihan.

“Sebentar lagi Jabar jadi provinsi patung terbanyak,” tulis akun @sam*.

“Ded sakalian make patung Nyiroro Kidulna plus make kareta Kancana,” sindir akun @pik*.

Perdebatan di dunia maya ini menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap perubahan visual Gedung Sate yang selama satu abad menjadi ikon Jawa Barat.

Ahli Cagar Budaya Tegaskan Renovasi Gapura Gedung Sate Tidak Langgar Aturan Pelestarian

Ahli cagar budaya sekaligus ahli pemugaran, Tubagus Adhi menegaskan, bahwa renovasi gapura dan area luar Gedung Sate yang saat ini dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak melanggar aturan pelestarian bangunan bersejarah.

Menurutnya, gapura yang sedang dipugar bukan merupakan bagian dari struktur asli Gedung Sate yang memiliki nilai sejarah utama.

Tubagus menjelaskan bahwa bangunan yang dikategorikan sebagai cagar budaya memiliki aturan ketat dalam pemugaran. Namun, dalam konteks Gedung Sate, perubahan pada elemen luar seperti pagar dan gapura tidak mengubah nilai penting bangunan utama.

“Yang pertama itu bukan cagar budaya, itu adaptasi dari cagar budaya. Gerbang terbaru ini boleh-boleh saja, karena tidak mengurangi nilai penting dari Gedung Sate-nya,” ujar Tubagus, Sabtu (22/11/2025).

Ia merujuk pada UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang menjadi dasar hukum seluruh kegiatan pelestarian dan pemugaran. Selama perubahan tidak menghapus nilai historis bangunan inti, maka renovasi diperbolehkan.

“Pemugaran cagar budaya itu ada dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menjadi landasan hukum pelestarian cagar budaya, termasuk pemugaran,” ujarnya.

Tubagus juga menekankan bahwa pagar bukan bagian asli desain Gedung Sate. Pada masa awal pembangunan, bangunan ikonik tersebut bahkan tidak memiliki pagar sama sekali.

“Pada tahun 1930 Gedung Sate belum ada pagarnya, jadi saat ini dilakukan pemugaran yang sudah sesuai dengan UU dan tidak menghilangkan nilai asli dari Gedung Sate-nya sendiri,” jelasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Gedung Sate gerbang Candi Bentar HL jawa barat renovasi ridwan kamil
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Lebaran Paling Pilu! Ibu Berpulang Jelang Hari Raya, Kata-Kata Terakhir di Liang Lahat Menyayat Hati

Dedi Mulyadi Targetkan Tekan Belanja Pemerintah hingga 20 Persen

Dedi Mulyadi Minta Maaf di Hari Lebaran: Akui Pelayanan Pemerintah Belum Optimal

Momen Idul Fitri, Ridwan Kamil Maafkan dan Doakan Para Pembuat Hoaks

Siap Dipadati Jamaah, Ini Jadwal Shalat Id di Masjid Al-Jabbar

Pohon Tumbang di Jalan Bypass Cicalengka, Arus Kendaraan Sempat Macet Panjang

Terpopuler
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya
  • Viral! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Bikin Warganet Heboh, Hati-hati Link Phishing
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Viral! ‘Ukhti Mukena Pink’ Bikin Netizen Penasaran, Pencarian Versi Tanpa Sensor Meledak
  • Viral Video Ibu Tiri vs Anak Tiri 7 Menit di Kebun Sawit: Ternyata Ini Fakta Tersembunyi di Baliknya!
  • Detik-detik Video Ibu Tiri dan Anak Tiri di Kebun Sawit Bocor, Link Telegram Diburu Warganet
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.