bukamata.id – Nama Aurelie Moeremans kembali menjadi perbincangan hangat publik. Kali ini bukan karena karya layar kaca, melainkan melalui buku memoar pertamanya berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Buku tersebut sontak menyita perhatian setelah potongan kisah di dalamnya ramai dibagikan di media sosial dan mengundang empati luas dari pembaca.
Dalam unggahan Instagram pribadinya pada Minggu (11/1/2026), Aurelie menjelaskan bahwa buku ini merupakan kisah nyata perjalanan hidupnya, ditulis dari sudut pandangnya sendiri.
Ia mengisahkan pengalaman masa remaja ketika masih berusia 15 tahun, berada dalam relasi yang tidak seimbang dengan seseorang yang usianya hampir dua kali lipat darinya. Aurelie menggambarkan adanya pola pengaruh, kendali emosional, serta proses panjang untuk akhirnya mampu menyelamatkan dan memulihkan dirinya.
“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Ditulis tanpa romantisasi apa pun. Sudah dibaca puluhan ribu orang, dan ternyata menyentuh banyak hati,” tulis Aurelie.
Memoar tersebut disebut menjadi bagian penting dari proses penyembuhan pribadi Aurelie. Melalui Broken Strings, ia berharap pengalamannya dapat menjadi suara bagi mereka yang pernah berada dalam situasi serupa, sekaligus membuka ruang diskusi mengenai trauma, keberanian, serta pemulihan diri.
“Menulisnya sangat personal dan menyakitkan, tapi juga membebaskan. Aku ingin pembaca tahu bahwa mereka tidak sendirian, dan selalu ada jalan untuk pulih,” ungkapnya.
Apresiasi Publik dan Dukungan Selebritas
Perhatian publik terhadap buku ini semakin meluas setelah artis Hesti Purwadinata membagikan ulasan pribadinya di media sosial. Hesti mengaku tersentuh dengan keberanian Aurelie menuliskan kisah hidup yang tidak mudah untuk dibagikan.
“Bukunya berat tapi penting. Aku sedih sekaligus kagum dengan keberanian Aurelie. Ini bukan cerita yang mudah untuk ditulis maupun dibaca,” ujar Hesti.
Respons warganet pun beragam, namun mayoritas menunjukkan dukungan dan empati. Banyak pembaca mengaku tersentuh serta mengapresiasi keberanian Aurelie mengangkat isu relasi tidak sehat yang kerap luput dari perhatian publik, terutama ketika melibatkan usia muda.
Memoar ini dinilai tidak hanya sebagai refleksi personal, tetapi juga pengingat sosial akan pentingnya perlindungan, kesadaran emosional, dan kesehatan mental generasi muda.
Klarifikasi Roby Tremonti dan Polemik yang Mengiringi
Di tengah ramainya pembahasan buku Broken Strings, nama pesinetron Roby Tremonti turut menjadi sorotan. Merasa namanya terus dikaitkan dengan narasi yang berkembang, Roby akhirnya angkat bicara melalui siaran langsung di akun Instagram pribadinya pada Senin (12/1/2026).
Dalam pernyataannya, Roby menegaskan bahwa dirinya selama bertahun-tahun memilih diam meski merasa disudutkan oleh berbagai spekulasi publik. Ia mengakui pernah menikah dengan seorang perempuan keturunan Jawa-Belgia, namun membantah berbagai tudingan yang kini diarahkan kepadanya.
“Sudah 16 tahun aku diam. Tapi sekarang relevansinya di mana?” ujarnya dengan nada tegas.
Roby juga menyinggung buku yang ditulis Aurelie, mempertanyakan proses penulisan dan keberadaan penulis yang saat ini tidak berada di Indonesia.
Ia menyatakan keberatannya karena merasa narasi yang beredar telah membentuk opini publik yang merugikannya, bahkan berpotensi menyeretnya ke fenomena penolakan sosial.
Roby pun mengisyaratkan kemungkinan menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap mencemarkan namanya.
Aurelie Angkat Suara: Diam Bukan Kewajiban
Tak lama berselang, Aurelie kembali menyampaikan pandangannya melalui kolom komentar media sosial. Ia mengaku merasa terus diganggu setelah buku tersebut dirilis, meski niat awalnya hanyalah berbagi pengalaman tanpa menyebut nama atau menyerang siapa pun.
“Aku menulis tentang pengalamanku di usia 15 tahun. Niatnya sederhana: berbagi. Tapi ada yang merasa tersentuh lalu kembali mengganggu,” tulisnya.
Aurelie menegaskan bahwa selama ini ia memilih diam bukan karena takut, melainkan sebagai pilihan pribadi. Namun, menurutnya, setiap pilihan memiliki batas.
“Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya… justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung soal beredarnya tangkapan layar percakapan dengan ChatGPT terkait status sebuah pernikahan, yang kemudian digunakan oleh pihak tertentu untuk membangun narasi lain di ruang publik.
Dukungan Netizen Mengalir Deras
Sejak buku Broken Strings dirilis secara gratis melalui media sosialnya, Aurelie mendapatkan gelombang dukungan dari warganet. Banyak yang menyampaikan simpati, doa, dan penguatan moral atas perjalanan hidup yang ia bagikan dengan jujur.
Komentar demi komentar menunjukkan solidaritas, termasuk dari mereka yang mengaku pernah menyaksikan langsung kekhawatiran keluarga Aurelie di masa lalu.
“Shout out to Aurélie, she deserves the whole world,” tulis seorang warganet, menggambarkan rasa simpati sekaligus kekaguman terhadap keberanian sang aktris.
Komentar lain menyoroti situasi yang kembali memanas di ruang publik dan berharap Aurelie diberi kekuatan.
“‘Beliau’ masih rusuh ya, neeeng? Ya Allah, sabarrrr,” tulis netizen tersebut dengan nada prihatin.
Tak sedikit pula warganet yang mengaku memiliki ingatan personal terkait masa lalu Aurelie. Salah satu komentar panjang mengenang momen ketika Aurelie masih remaja dan aktif berkegiatan di studio rekaman.
“@aurelie inget kejadiannya ini pas kamu sedang rekaman sama Pak Youngky Soewarno di Studio XV. Waktu itu aku kaget dan sedih pas mama kamu datang ke studio, nangis cerita dihalangi ketemu kamu sama orang itu. Kekhawatiran seorang ibu atas keadaan putrinya yang masih remaja. Aurelie kamu kuat bisa lewati semua ini, Tuhan bersertamu selalu,” tulis netizen tersebut.
Di sisi lain, beberapa komentar menunjukkan sikap protektif terhadap Aurelie dan menyayangkan adanya pihak yang dinilai justru memperkeruh suasana.
“Boby bacot diem ya boby!!!” tulis salah satu netizen dengan nada emosional.
Komentar dukungan juga datang dengan pesan penguatan bahwa Aurelie tidak sendirian menghadapi situasi ini.
“Kamu nggak sendiri kak. Sekarang banyak sekali orang yang nemenin dan dukung kamu. Dari awal kamu diam, nggak banyak omong. Tapi dia sendiri yang koar-koar sampai akhirnya malah terlihat sendiri. Kita yang pernah berada di posisi sulit itu tidak salah. Big hug kak, sehat-sehat untuk kamu, baby, dan keluarga,” tulis warganet lainnya.
Sementara itu, ada pula netizen yang menilai klarifikasi dari pihak lain justru memunculkan kebingungan baru.
“Sebelah malah klarif tidak jelas. Tunggu saja, nanti juga kelihatan sendiri,” tulis seorang pengguna media sosial.
Banjir dukungan ini menunjukkan besarnya empati publik terhadap Aurelie Moeremans. Banyak warganet menilai keberanian Aurelie membagikan kisah hidupnya melalui Broken Strings telah membuka mata publik sekaligus menguatkan mereka yang pernah berada dalam situasi serupa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








