bukamata.id – Ibadah Ramadan di tahun 2026 menghadirkan fenomena unik bagi umat Muslim sejagat. Meski esensi ibadahnya serupa, tantangan yang dihadapi setiap negara berbeda-beda, terutama soal durasi menahan lapar dan dahaga. Jika biasanya negara-negara Nordik yang memegang rekor puasa terpanjang, tahun ini peta kekuatan waktu justru bergeser ke belahan bumi lain.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Mari kita bedah alasan ilmiah dan daftar wilayah yang merasakan “ujian” kesabaran terlama di tahun ini.
Sains di Balik Perbedaan Waktu Puasa
Perbedaan jam puasa bukan tanpa alasan. Hal ini dipicu oleh kemiringan sumbu bumi sebesar 23,5 celsius saat mengitari matahari. Berdasarkan data dari Pusat Riset Antariksa BRIN, pada periode Februari hingga Maret 2026, posisi semu matahari masih condong ke arah Belahan Bumi Selatan (BBS).
Dampaknya, wilayah di selatan sedang bertransisi dari musim panas menuju musim gugur. Di sana, siang hari terasa lebih panjang dibandingkan malam. Sebaliknya, wilayah utara justru sedang mendekati musim semi, sehingga durasi siangnya relatif lebih singkat. Itulah alasan mengapa Muslim di Norwegia tahun ini justru “beruntung” dengan durasi puasa yang hanya 10-12 jam, jauh lebih pendek dari biasanya.
10 Negara dengan Durasi Puasa Paling Menantang di 2026
Merujuk pada data Islamic Finder via Al Jazeera, berikut adalah deretan negara yang mencatatkan waktu puasa paling lama tahun ini, didominasi oleh wilayah selatan:
- Selandia Baru (Christchurch): Menjadi jawara tahun ini dengan durasi awal Ramadan mencapai 15 jam 22 menit.
- Chili (Puerto Montt): Berada di posisi kedua dengan waktu puasa sekitar 15 jam 13 menit di awal bulan.
- Australia (Canberra): Muslim di ibu kota Negeri Kanguru ini berpuasa selama 14 jam 48 menit.
- Uruguay (Montevideo): Penduduk di sini menjalani puasa selama 14 jam 42 menit.
- Argentina (Buenos Aires): Memiliki durasi yang identik dengan Uruguay, yakni 14 jam 42 menit.
- Afrika Selatan (Johannesburg): Mencatatkan waktu 14 jam 13 menit.
- Paraguay: Umat Muslim di sini memulai Ramadan dengan durasi 14 jam 12 menit.
- Zimbabwe: Menjalani ibadah puasa selama kurang lebih 13 jam 53 menit.
- Brasil (Brasilia): Kota ini mencatatkan waktu sekitar 13 jam 47 menit.
- Angola (Luanda): Menutup daftar dengan durasi 13 jam 38 menit.
Bagaimana dengan Indonesia?
Berada tepat di garis khatulistiwa memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Waktu siang dan malam cenderung stabil sepanjang tahun. Di Ramadan 2026, masyarakat Indonesia rata-rata berpuasa selama 13 jam 10 menit hingga 13 jam 28 menit. Angka ini tidak terpaut jauh dengan Malaysia (13 jam 11 menit) maupun Thailand (12 jam 56 menit).
Fenomena Menarik: Mendekati Titik Seimbang
Ada kabar baik bagi Muslim di seluruh dunia. Ramadan tahun ini berakhir mendekati momentum Vernal Equinox (20 Maret 2026), sebuah kondisi di mana matahari berada tepat di atas ekuator.
Artinya, perbedaan durasi puasa antarnegara di dunia semakin menyempit atau menuju titik ekuilibrium (keseimbangan). Tidak ada lagi puasa ekstrem hingga 20 jam seperti tahun-tahun sebelumnya. Secara global, rentang waktu puasa tahun ini hanya berkisar antara 12 hingga 16 jam saja.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











