bukamata.id – Kendati beberapa titik di wilayah Kabupaten Cirebon mulai dibasahi hujan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon memutuskan untuk tidak terburu-buru mencabut status siaga bencana kekeringan. Mengikuti arahan dan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, masa siaga darurat ini resmi diperpanjang sampai akhir Oktober 2026.
Keputusan ini diambil guna mengantisipasi ancaman lanjutan yang belum sepenuhnya mereda, seperti kelangkaan air bersih bagi warga, kekeringan di area persawahan, hingga potensi kebakaran lahan yang masih tinggi.
Intensitas Hujan Masih Sporadis
Menurut Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kabupaten Cirebon, Juwanda, presipitasi yang turun belakangan ini sifatnya masih terbatas dan belum merata di seluruh kawasan.
Sebagai gambaran, wilayah Kecamatan Sumber sudah mulai diguyur hujan, sedangkan beberapa daerah tetangga lainnya sama sekali belum tersentuh curah hujan yang memadai.
“Ya, untuk saat ini hujan sudah terjadi walaupun sporadis. Di Sumber misalnya sudah terjadi hujan, di daerah lain belum,” ujar Juwanda, Jumat (9/10/2026).
Mengingat kondisi cuaca yang belum stabil, turunnya hujan di beberapa lokasi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menjadi alasan penghentian status kesiapsiagaan.
Juwanda menambahkan bahwa penyesuaian durasi siaga bencana di tingkat daerah ini berpatokan penuh pada regulasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Secara rinci, ia menerangkan pola penetapan Surat Keputusan (SK) siaga yang biasanya berlaku di wilayahnya.
“Setiap tahunnya, Kabupaten Cirebon mulai menerbitkan SK itu dari 1 Mei sampai 31 Oktober biasanya. Cuma kebetulan tahun sekarang itu mengikuti apa yang sudah dibuat oleh Jawa Barat sampai akhir bulan yang lalu, makanya ada perpanjangan,” katanya.
Dampak El Niño Buat Kekeringan Lebih Parah
Lebih lanjut, Juwanda membeberkan fenomena menarik terkait kemarau periode ini. Meski durasi musim kemarau tidak terhitung lebih panjang, namun tingkat kekeringan yang dirasakan masyarakat jauh lebih ekstrem ketimbang tahun terdahulu.
Dampak domino dari kondisi ini langsung menghantam pasokan air bersih konsumsi warga serta mengancam ketahanan sektor pertanian. Tak hanya itu, hamparan lahan dengan vegetasi mengering kini menjadi sangat rentan terpicu api.
Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena alam El Niño menjadi dalang utama di balik sengitnya dampak kekeringan tahun ini.
“Jadi bukan kemaraunya yang panjang, tapi kekeringannya yang parah dibandingkan tahun sebelumnya akibat pengaruh dari El Nino, itu menurut BMKG,” jelasnya.
Penyaluran Air Bersih Masih Terus Berjalan
Guna meringankan beban masyarakat, BPBD Kabupaten Cirebon terus bergerak aktif mendistribusikan armada tangki air bersih ke desa-desa yang membutuhkan.
Prosedur pengiriman air didasarkan pada usulan resmi dari pemerintah desa setempat. Langkah ini diterapkan agar pasokan air benar-benar sampai ke tangan warga yang paling membutuhkan.
Dengan berlakunya perpanjangan status siaga hingga penghujung Oktober, BPBD mengimbau warga untuk tidak terbuai meski hujan sesekali mulai turun.
“Masyarakat di wilayah terdampak pun diharapkan tetap waspada terhadap potensi kekurangan air bersih maupun kebakaran lahan, meskipun hujan mulai turun secara sporadis,” tutupnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










