bukamata.id – Dampak musim kemarau yang berlangsung melebihi perkiraan awal terus memperluas paparan krisis air bersih di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ribuan warga di puluhan desa kini terpaksa memutar otak dan menunggu antrean pasokan tangki demi memenuhi kebutuhan dasar harian mereka.
Meluasnya area yang terdampak membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis bekerja ekstra keras. Tingginya volume permohonan bantuan yang masuk saban hari tidak sebanding dengan ketersediaan armada armada penyalur, sehingga penanganan di lapangan terpaksa menggunakan sistem antrean.
Menerima Hingga 15 Permohonan dalam Sehari
Skala bencana kekeringan tahun ini tercatat cukup masif. Kepala Pelaksana BPBD Ciamis, Ani Supiani, membeberkan bahwa laporan darurat kekeringan telah menyebar di hampir seluruh wilayah administrasinya.
“Memang kekeringannya sudah parah. Kemaraunya juga agak panjang,” kata Ani, Rabu (21/10/2026).
Berdasarkan data rekapitulasi resmi per 20 Oktober 2026, tercatat sebanyak 85 insiden kekeringan menerjang 191 dusun di 85 desa yang tersebar pada 24 dari total 27 kecamatan di Ciamis. Dampak langsung bencana ini membayangi kehidupan 23.251 Kepala Keluarga (KK) atau setara 66.421 jiwa.
Setiap harinya, tak kurang dari 15 surat permohonan pasokan air bersih masuk ke meja BPBD. Keterbatasan armada tangki membuat puluhan wilayah terpaksa mengantre dalam daftar tunggu (waiting list).
“Tercatat sampai dengan hari ini 61 waiting list ya. Kita yang belum dikirim itu 29 titik,” ucapnya.
Keterbatasan Armada dan Sumber Air yang Menyusut
Untuk menjangkau belasan ribu warga, BPBD mengerahkan empat unit armada tangki milik sendiri, dibantu armada tambahan dari lintas instansi seperti PMI, BBWS, dan PDAM. Secara keseluruhan, ada sekitar tujuh kendaraan operasional yang mengaspal setiap hari.
“Kita memiliki empat tangki air. Kemudian ada bantuan juga dari PMI, BBWS, dan PDAM. Kita maksimalkan kendaraan yang ada untuk mendistribusikan air ke beberapa titik,” ujar Ani.
Satu truk tangki terkadang dialokasikan untuk melayani dua titik sekaligus dalam sehari jika volume kebutuhan di lokasi pertama tidak terlalu besar. Namun, keterbatasan fasilitas dan penyusutan debit mata air lokal membuat antrean sulit terurai cepat.
Kemarau yang awalnya diprediksi mereda pada akhir September justru meleset dan berlanjut hingga akhir Oktober, memperparah krisis ketersediaan air tanah.
“Dua-duanya menjadi kendala. Laporannya banyak karena wilayah terdampak sudah meluas, sementara kendaraan yang tersedia juga terbatas,” kata Ani.
Solusi Jangka Pendek hingga Kerahkan Dana BTT
Menghadapi keterbatasan distribusi tangki, Pemkab Ciamis menempuh berbagai strategi alternatif. BPBD menggandeng Polres Ciamis untuk menyalurkan bantuan selang air di area yang masih memiliki mata air namun terkendala jaringan pipa ke pemukiman.
Selain itu, aktivasi kembali Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan perbaikan jaringan pipa yang rusak menjadi prioritas utama di dua lokasi potensial.
Untuk jangka menengah dan panjang, BPBD telah mengusulkan pembangunan infrastruktur pipanisasi serta pengeboran sumber air baru kepada BNPB, Dinas PU, dan BBWS.
Di sisi lain, total bantuan air bersih yang telah disalurkan lintas lembaga hingga pertengahan Oktober 2026 telah menembus angka 3.443.000 liter atau setara 715 armada tangki. Meskipun alokasi anggaran operasional kekeringan untuk bulan ini telah habis, Pemkab Ciamis siap melakukan pergeseran Belanja Tidak Terduga (BTT) agar pasokan air tidak terhenti.
“Dengan dukungan anggaran tersebut, insyaalloh distribusi air bersih tetap berjalan di tengah kondisi kemarau yang belum berakhir,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











