bukamata.id – Fenomena cuaca ekstrem berupa lonjakan suhu udara yang tinggi tengah melanda kawasan Kabupaten Majalengka dan sekitarnya. Terik matahari yang sangat membakar tak hanya melanda kawasan dataran rendah, tetapi juga mulai menggeser iklim sejuk di wilayah dataran tinggi.
Berdasarkan data pantauan di lapangan, temperatur udara di area perkotaan Majalengka melambung hingga menyentuh angka 40 derajat Celsius pada siang hari. Situasi bahkan terasa lebih ekstrem di wilayah utara seperti Jatiwangi, di mana suhu udara tercatat menembus angka 41 derajat Celsius.
Wilayah Pegunungan Tak Lagi Sejuk
Hawa panas yang mendera kali ini menyebar merata hingga ke kawasan selatan Majalengka. Daerah pegunungan yang biasanya dikenal memiliki udara segar kini tak luput dari paparan suhu tinggi.
Warga setempat merasakan perubahan cuaca yang cukup signifikan ini dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang mah di Lemahsugih saja yang pegunungan, suhunya panas,” kata Oki, Rab (21/10/2026).
Ekspektasi warga akan hawa dingin pegunungan pun sirnah seiring paparan terik yang berlangsung relatif lama. Suhu panas menyengat dilaporkan sudah mulai membakar sejak pukul 08.00 WIB pagi dan terus bertahan hingga pukul 17.00 WIB sore. Ketika malam tiba, penurunan suhu yang terjadi pun terasa amat tipis dan tidak membawa perubahan berarti.
Kondisi ini memaksa para pekerja luar ruangan memutar otak demi menjaga ketahanan fisik dari ancaman dehidrasi serta paparan sinar ultraviolet. Sejumlah pekerja lapangan bahkan sampai mengompres wajah dengan masker basah berlapis agar area pernapasan tetap lembap saat bekerja di bawah terik matahari.
Peringatan BMKG: Potensi Gelombang Tinggi di Pesisir Jawa Barat
Di saat daratan diterpa suhu tinggi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca buruk di wilayah perairan Jawa Barat sepanjang periode 21–25 Oktober 2026.
Prakirawan BMKG, Restiana Fitri, menjelaskan bahwa pergerakan pola angin di wilayah Jakarta hingga utara Jawa Barat dominan bertiup dari arah timur laut menuju tenggara dengan laju kecepatan berkisar 8–20 knot.
Sementara itu, untuk kawasan selatan Jawa Barat, pergerakan angin berhembus dari timur ke tenggara dengan kecepatan yang lebih tinggi, yaitu 10–25 knot.
BMKG memprediksi hembusan angin maksimum mencapai 20 knot berpotensi merjang perairan Cirebon dan Cianjur. Adapun kecepatan angin puncak hingga 25 knot membayangi kawasan laut Sukabumi dan Garut.
Dampak dari tingginya kecepatan angin ini memicu potensi gelombang laut tinggi berkisar 2,5 hingga 4 meter di sepanjang koridor perairan Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, hingga Pangandaran.
Batas Aman Pelayaran bagi Nelayan
Guna mencegah kecelakaan di laut, BMKG merilis panduan ambang batas keselamatan berlayar berdasarkan jenis armada:
- Perahu Nelayan: Berisiko tinggi jika hembusan angin menembus 15 knot dan gelombang mencapai 1,25 meter.
- Kapal Tongkang: Terancam bahaya pada kecepatan angin 16 knot serta gelombang setinggi 1,5 meter.
- Kapal Feri: Mengadapi risiko serius saat angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang menyentuh 2,5 meter.
Khusus pada 21 Oktober 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, BMKG mendeteksi potensi angin maksimum hingga 25 knot (sekitar 46 km/jam) di perairan Sukabumi, serta 20 knot (sekitar 37 km/jam) di laut Cianjur dan Garut. Seluruh aktivitas nelayan dan pelayaran diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi demi mengantisipasi risiko keselamatan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











