Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI

Kamis, 15 Oktober 2026 16:08 WIB

Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje

Kamis, 15 Oktober 2026 15:57 WIB

Bikin Geram! Bali Krisi Bensin: Antrean SPBU Mengular, Pasar Gelap Digital Merajalela!

Kamis, 15 Oktober 2026 15:49 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI
  • Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje
  • Bikin Geram! Bali Krisi Bensin: Antrean SPBU Mengular, Pasar Gelap Digital Merajalela!
  • Dua Terduga Pencuri Motor di Jalan Japati Bandung Ditangkap, Polisi Temukan Narkotika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Persib Kuasai Grup E ACL Two, FC Seoul Terpuruk di Dasar Klasemen
  • Habis Sudah! Bupati Gowa Husniah Dipecat Tidak Hormat: Dari Skandal Asmara Hingga Pemerasan Rp16 Miliar!
  • Peringati Harlah KPU RI ke-73, KPU Kota Bandung Gelar Dialog Buku Bersama Anas Urbaningrum
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!

By Putra JuangKamis, 15 Oktober 2026 15:15 WIB4 Mins Read
Gedung Sate. Foto: bukamata.id/ Mulki Albar.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gelombang kritik publik terhadap kebijakan dan gaya penataan kota oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi terus mengalir. Kali ini, pesan tajam datang dari Presiden Mahasiswa Universitas Informatika Dan Bisnis Indonesia (UNIBI) periode 2022, Arwin Rizky Rivaldy.

Melalui unggahan di akun Instagram miliknya (@arwinrizkyy), Arwin menyuarakan kegelisahan warga terkait pembangunan fisik dan penambahan ornamen bernuansa tradisional di sejumlah sudut Kota Bandung yang dinilai tidak pada tempatnya.

“Hey King Dedi, Bandung Bukan Canvas Kosong. Ngga Semua Hal Harus ‘Dicandi-candiin’ yaa King,” tegas Arwin dikutip Kamis (15/10/2026).

Dalam seruan yang diberi judul “Neda Punten Maha Raja (Melestarikan kebudayaan tidak melulu soal membangun candi-candian)” tersebut, ia menekankan bahwa melestarikan (ngamumule) budaya Sunda tidak harus diwujudkan dengan membangun candi bentar, gapura berundak, atau memasang ornamen tradisional secara serampangan.

Sorotan pada Proyek Renovasi Gedung Sate

Kritik pedas ini mengemuka seiring dengan langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi yang gencar merenovasi dan merevitalisasi kawasan ikonik Gedung Sate serta Lapangan Gasibu.

Proyek penataan wajah baru Gedung Sate ini tercatat menelan anggaran fantastis yang dikucurkan secara bertahap. Pada tahap awal menjelang akhir 2025, renovasi infrastruktur luar seperti pagar dan gerbang menghabiskan anggaran sekitar Rp3,9 miliar dari APBD Perubahan. Perubahan paling mencolok kala itu adalah penggantian gerbang masuk dengan pilar atau gapura bergaya arsitektur tradisional bercorak candi (seperti candi bentar dan aksen keraton) guna memperkuat identitas budaya lokal.

Baca Juga:  Mau Wisata Sejarah di Bandung Naik Bandros? Begini Cara Naik, Harga Tiket dan Rutenya

Tidak berhenti di situ, Pemprov Jabar kembali melanjutkan proyek revitalisasi plaza depan Gedung Sate yang diintegrasikan dengan Lapangan Gasibu dengan alokasi anggaran mencapai Rp15,82 miliar, dengan total akumulasi penataan kawasan yang disebut menyerap dana hingga Rp35,6 miliar. Kawasan publik terintegrasi tersebut dinamai Pasanggrahan Panca Rasa, yang diadaptasi dari konsep alun-alun kerajaan sebagai ruang berkumpul masyarakat.

Kendati diklaim pemerintah sebagai upaya mempercantik ruang publik, menghadirkan fasilitas pelayanan masyarakat (Bale Pananggeuhan), serta menonjolkan kekhasan budaya lokal (termasuk pajangan hasil bumi, gamelan, hingga kereta kencana di area dalam gedung), pendekatan estetik ini menuai pro-kontra. Sejumlah pihak termasuk Arwin mempersoalkan relevansi penambahan ornamen-ornamen ala kerajaan kuno tersebut pada bangunan cagar budaya kolonial yang sejak awal memiliki karakteristik arsitektur Indische bercampur gaya Eropa dan Nusantara yang khas.

Budaya Dihidupi, Bukan Sekadar Dipajang

Arwin yang juga aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini menilai melestarikan budaya Sunda mestinya dilakukan melalui pendekatan yang jauh lebih esensial, seperti memperkuat pendidikan sejarah dan tradisi, mendukung seniman serta komunitas lokal, dan merawat situs-situs bersejarah yang sudah ada.

Baca Juga:  Persaingan Usaha Tinggi, Ledia Hanifa Dorong Kreativitas Pelaku Ekraf Lewat Pelatihan Public Speaking

“Sebab, budaya bukan sekadar sesuatu yang dibangun dan dipajang. Budaya perlu dirawat, dihidupi, dan diwariskan. Terlebih, Bandung bukan kota tanpa sejarah yang bisa dibentuk sesuka hati,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa Bandung memiliki identitas visual dan arsitektur yang sangat khas. Berakar dari budaya Sunda, Bandung tumbuh menjadi kota modern dengan karakter arsitektur yang beragam. Gedung Sate, misalnya, berhasil memadukan unsur Eropa dan Nusantara, sementara Gedung Merdeka berarsitektur Art Deco menjadi saksi bisu Konferensi Asia-Afrika 1955.

Kombinasi nilai sejarah, perdagangan, dan gaya hidup inilah yang melahirkan julukan Paris van Java sebagai identitas historis yang harus dijaga.

Pentingnya Konsep dan Keselarasan Konteks

Mempertahankan karakter arsitektur Bandung, menurut Arwin, sama sekali bukan bentuk penolakan terhadap budaya Sunda. Bandung memiliki identitas berlapis: akar budaya Sunda, sejarah perjuangan, dan warisan arsitektur dari berbagai periode.

“Yang perlu dipersoalkan bukan apakah sebuah bangunan cukup Sunda atau cukup modern, melainkan apakah desainnya memiliki konteks, kualitas, dan keselarasan dengan karakter kota. Apalagi kalau ‘estetik henteu, fungsional komo’,” sindir Arwin.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Bakal Gandeng Susi Pudjiastuti hingga Ignasius Jonan Jadi Penasihat

Ia juga menyoroti sejumlah penataan dan eksekusi fasilitas publik yang belakangan dinilai cacat perencanaan. Salah satu contohnya adalah penataan trotoar di kawasan Gasibu yang dikritik karena jalur disabilitasnya dinilai terlalu tinggi dan curam. Selain itu, posisi tiang Penerangan Jalan Umum (JPU) di beberapa titik justru menghalangi pandangan pengemudi ke lampu lalu lintas sehingga berpotensi memicu kecelakaan.

Desak Pelibatan Ahli dan Arsitek

Arwin mengimbau agar pembangunan di Ibu Kota Jawa Barat ini tidak dijadikan ajang eksperimen estetika pribadi pejabat publik, melainkan harus tetap memperhatikan aspek kelayakan, fungsi ruang, hingga penggunaan anggaran publik.

“Ampun Maha Raja, Bandung bukan ruang eksperimen dan ambisi selera pribadi. Jika Kang Dedi ingin mengembangkan arsitektur Sunda, silakan diwujudkan melalui kawasan budaya atau museum khusus,” tegasnya.

Ia pun mendesak pemerintah agar melibatkan para sejarawan, akademisi, dan arsitek profesional dalam setiap proses perencanaan pembangunan agar Kota Bandung tidak kehilangan konteks historisnya.

“Di Bandung ada sejarah, fungsi ruang, anggaran publik, dan kebutuhan warga yang harus dihargai. Bandung membutuhkan pembangunan yang memahami sejarahnya, bukan sekadar mengubah wajah kotanya,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

budaya sunda Candi Dedi Mulyadi Gasibu Gedung Sate Kota Bandung kritik
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI

Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje

Bikin Geram! Bali Krisi Bensin: Antrean SPBU Mengular, Pasar Gelap Digital Merajalela!

Dua Terduga Pencuri Motor di Jalan Japati Bandung Ditangkap, Polisi Temukan Narkotika

Habis Sudah! Bupati Gowa Husniah Dipecat Tidak Hormat: Dari Skandal Asmara Hingga Pemerasan Rp16 Miliar!

Peringati Harlah KPU RI ke-73, KPU Kota Bandung Gelar Dialog Buku Bersama Anas Urbaningrum

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Ilustrasi video syur
    Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.