bukamata.id – Perkembangan teknologi digital menuntut praktisi hubungan masyarakat (humas) untuk terus beradaptasi. Kemampuan menyampaikan pesan tidak lagi cukup, tetapi juga perlu didukung pemahaman tentang algoritma platform, keterlibatan audiens, kolaborasi lintas kanal, serta kepatuhan terhadap hukum dan etika profesi.
Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam workshop bertajuk “PR in Digital Age: Algorithmic, Engagement and Collaboration in The Vortex of Law and Ethics” yang diselenggarakan Jurusan Ilmu Komunikasi Hubungan Masyarakat di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Kegiatan ini menghadirkan Darajat Wibawa sebagai pemateri dan diikuti mahasiswa Hubungan Masyarakat semester 5. Melalui diskusi interaktif, mahasiswa diajak memahami tantangan sekaligus strategi menjalankan praktik kehumasan di tengah perubahan lanskap komunikasi digital.
Algoritma dan SEO Jadi Kunci Distribusi Informasi
Dalam pemaparannya, Darajat menjelaskan bahwa praktik humas terus mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi dan pola konsumsi informasi masyarakat. Di era digital, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas pesan, tetapi juga oleh kemampuan praktisi memahami mekanisme platform yang digunakan untuk menyebarkan informasi.
Algoritma menjadi salah satu aspek penting karena berpengaruh terhadap bagaimana konten didistribusikan dan ditemukan oleh audiens. Karena itu, praktisi humas perlu memahami karakteristik setiap platform agar pesan organisasi dapat menjangkau sasaran yang tepat.
“Algoritma adalah aturan yang dibuat oleh platform. Jadi misalnya tulisan atau press release teman-teman ingin mendapatkan nilai dari platform tersebut, pahami betul apa yang menjadi aturannya,” ujar Darajat.
Ia juga menyoroti pentingnya optimasi mesin pencari atau Search Engine Optimization (SEO) dalam mendukung distribusi informasi. Pemahaman SEO dapat membantu praktisi humas menyusun konten yang lebih mudah ditemukan melalui mesin pencari, sehingga informasi organisasi memiliki peluang menjangkau audiens yang lebih luas.
Bagi mahasiswa humas, pemahaman tersebut menjadi bekal untuk merancang strategi komunikasi yang tidak hanya menarik dari sisi isi, tetapi juga mempertimbangkan cara penyampaian dan distribusinya di ruang digital.
Engagement Bukan Sekadar Angka Interaksi
Selain algoritma, Darajat menekankan pentingnya engagement atau keterlibatan audiens dalam praktik public relations. Jangkauan yang luas tidak serta-merta menunjukkan keberhasilan komunikasi apabila tidak disertai interaksi yang bermakna dengan publik.
Engagement dapat menjadi instrumen strategis untuk membangun hubungan, mendorong partisipasi, serta menumbuhkan kepercayaan terhadap organisasi. Respons audiens juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi untuk mengukur efektivitas pesan dan menentukan langkah komunikasi berikutnya.
Dengan demikian, praktisi humas perlu melihat audiens bukan hanya sebagai penerima informasi, melainkan sebagai pihak yang memiliki peran dalam membentuk dinamika komunikasi organisasi.
Pendekatan tersebut menuntut kemampuan membaca kebutuhan publik, memahami respons terhadap pesan, dan menjaga hubungan secara berkelanjutan melalui berbagai kanal digital.
Kolaborasi Jadi Fondasi Strategi Humas Modern
Pembahasan berikutnya menyoroti kolaborasi sebagai bagian penting dalam strategi komunikasi modern. Menurut Darajat, keberagaman kanal digital membuat organisasi perlu memastikan pesan yang disampaikan tetap selaras dan mendukung tujuan komunikasi yang sama.
“Saat ini kolaborasi tidak lagi sekadar menjadi fungsi pendukung organisasi, melainkan telah menjadi fondasi strategis atau core strategic foundation. Di tengah beragamnya kanal komunikasi digital, kolaborasi diperlukan untuk menyelaraskan pesan dan memperkuat strategi komunikasi lintas platform,” ucap Darajat.
Kolaborasi memungkinkan praktisi humas menyatukan berbagai sumber daya, memperluas jangkauan komunikasi, serta memperkuat konsistensi pesan di berbagai platform. Dalam praktiknya, strategi ini juga membutuhkan koordinasi agar komunikasi yang dilakukan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Bagi mahasiswa Hubungan Masyarakat, pemahaman tentang kolaborasi menjadi penting untuk menghadapi kebutuhan profesi yang semakin kompleks. Praktisi humas dituntut mampu bekerja lintas bidang sekaligus merancang komunikasi yang terintegrasi.
Hukum dan Etika Tetap Jadi Pegangan Praktisi Humas
Di tengah kemudahan penyebaran informasi, Darajat mengingatkan bahwa strategi komunikasi digital harus tetap berjalan sesuai ketentuan hukum dan etika profesi.
Kemampuan mengelola algoritma, meningkatkan interaksi, dan membangun kolaborasi perlu diimbangi dengan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Hal ini penting agar upaya membangun citra organisasi tidak mengabaikan prinsip profesionalisme.
Dalam sesi tersebut, Darajat turut memaparkan sembilan prosedur pengaduan kepada Dewan Pers sebagai bagian dari pembahasan mengenai penanganan persoalan yang dapat muncul antara humas organisasi dan media.
Materi ini memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai pentingnya memahami mekanisme penyelesaian pengaduan serta menjaga hubungan profesional dengan media. Pemahaman terhadap aspek hukum dan etika diharapkan membantu calon praktisi humas menghadapi persoalan komunikasi secara tepat dan bertanggung jawab.
“Citra merupakan tujuan utama yang ingin dicapai melalui praktik humas. Untuk membangunnya, praktisi perlu memahami strategi komunikasi secara menyeluruh, mulai dari cara kerja algoritma, membangun engagement, hingga memperkuat kolaborasi,” jelas Darajat.
Mempersiapkan Calon Praktisi Humas yang Adaptif
Workshop ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori komunikasi dengan tantangan praktik kehumasan di era digital. Materi yang disampaikan mencakup aspek teknis distribusi informasi, pengelolaan hubungan dengan audiens, kolaborasi strategis, hingga tanggung jawab hukum dan etika.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai peran humas dalam membangun dan menjaga citra organisasi di tengah perubahan ekosistem media.
Bekal tersebut juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa menjadi calon praktisi public relations yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu membangun keterlibatan publik, mengembangkan kolaborasi, serta tetap berpegang pada hukum dan etika profesi.
Dengan menguasai aspek-aspek tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perubahan komunikasi digital, tetapi juga menyusun strategi kehumasan yang terarah, profesional, dan berkelanjutan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










