Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga

Kamis, 15 Oktober 2026 16:16 WIB

Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI

Kamis, 15 Oktober 2026 16:08 WIB

Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje

Kamis, 15 Oktober 2026 15:57 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga
  • Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI
  • Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje
  • Bikin Geram! Bali Krisi Bensin: Antrean SPBU Mengular, Pasar Gelap Digital Merajalela!
  • Dua Terduga Pencuri Motor di Jalan Japati Bandung Ditangkap, Polisi Temukan Narkotika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Persib Kuasai Grup E ACL Two, FC Seoul Terpuruk di Dasar Klasemen
  • Habis Sudah! Bupati Gowa Husniah Dipecat Tidak Hormat: Dari Skandal Asmara Hingga Pemerasan Rp16 Miliar!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bikin Geram! Bali Krisi Bensin: Antrean SPBU Mengular, Pasar Gelap Digital Merajalela!

By Aga GustianaKamis, 15 Oktober 2026 15:49 WIB8 Mins Read
Antrean SPBU di Bali. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di bawah terik matahari Pulau Dewata yang menyengat, deretan sepeda motor dan mobil merayap pelan bagaikan semut yang kehilangan arah. Udara panas bercampur debu jalanan dan asap knalpot tak menghalangi ratusan pengendara yang berdesak-desakan mengular hingga ratusan meter di luar area SPBU. Dari sudut pandang udara, antrean kendaraan itu memanjang melintasi jalan-jalan protokol, mengular melewati pertokoan, pemukiman, hingga nyaris melumpuhkan lalu lintas kota Denpasar dan kawasan Badung.

Di dalam area SPBU, pemandangan jauh lebih dramatis. Halaman pengisian bensin dipenuhi lautan sepeda motor yang saling berdempetan stang demi stang, menunggu giliran disapa oleh petugas nozzle. Keringat menetes dari dahi para pengendara yang telah berdiri dan menuntun motor mereka berjam-jam. Di balik helm dan kacamata hitam, terpancar rasa lelah, cemas, dan ketidakpastian yang makin membakar emosi.

Bali, destinasi wisata berkelas dunia yang biasanya menawarkan ketenangan dan keindahan alam, diselimuti kepanikan akibat krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Kelangkaan pasokan Pertalite maupun Pertamax di berbagai SPBU resmi memicu gelombang panic buying yang masif. Namun, di tengah keputusasaan masyarakat umum dan wisatawan yang kehabisan bahan bakar untuk beraktivitas, muncul fenomena sosial lain yang tak kalah menyita perhatian: praktik aji mumpung dan komersialisasi krisis.

Bensin Eceran, Bule, dan Transaksi Rp 200 Ribu Per Botol

Krisis selalu melahirkan peluang, namun dalam kasus kelangkaan BBM di Bali, peluang tersebut hadir dalam rupa pragmatisme yang melampaui batas kewajaran. Ketika SPBU resmi kehabisan stok atau memaksa warga mengantre berjam-jam, segelintir oknum memanfaatkan momen ini untuk mengeruk keuntungan berlipat ganda.

Di pinggir jalan kawasan wisata populer seperti Canggu dan Kuta, pemandangan unik sekaligus ironis terekam kamera. Beberapa pengemudi ojek online (ojol) dan warga lokal terlihat menyuplai botol-botol plastik bekas air mineral yang telah berisi cairan hijau Pertalite maupun biru Pertamax. Sasaran utama mereka? Para wisatawan mancanegara (bule) yang kebingungan karena sepeda motor sewaan mereka mati kehabisan bensin di tengah jalan.

Dalam sebuah rekaman video yang viral di media sosial, tampak sekelompok turis asing bertubuh jangkung tanpa mengenakan baju menuntun sepeda motor matic mereka di pinggir jalan. Wajah mereka menyiratkan kebingungan dan kepasrahan. Dari arah berlawanan, oknum pengemudi ojol datang membawa botol plastik berisi bensin eceran.

Transaksi pun terjadi di atas trotoar. Tanpa ada patokan harga resmi, bensin eceran dalam botol air mineral ukuran 1,5 liter yang secara normal bernilai tak lebih dari Rp 15.000 hingga Rp 20.000, mendadak dibanderol dengan harga fantastis.

Baca Juga:  Viral! Nyali Emak-emak di Labura Gerebek Sendiri Diduga Sarang Narkoba, Polisi Langsung Turun Tangan

“Anjir, dua ratus ribu! Dua ratus ribu rupiah!” celetuk seorang perekam video saat menyaksikan transaksi eceran tersebut.

Turis-turis asing tersebut, yang tak memiliki pilihan lain agar kendaraan mereka bisa kembali berjalan, terpaksa merogoh dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada penjual. Bahkan dalam percakapan lain di lokasi, terdengar tawaran yang tak kalah mencekik: “Ambil aja dua setengah (Rp 250.000)”. Bagi para wisatawan, harga tersebut mungkin setara dengan belasan kali lipat harga resmi SPBU, namun di tengah kelangkaan, bensin di dalam botol plastik itu berubah menjadi “emas cair” yang sangat berharga.

Etalase Komoditas Gelap di Marketplace Digital

Fenomena aji mumpung ini ternyata tidak berhenti di trotoar jalanan atau gerobak eceran. Mengikuti perkembangan teknologi, praktik jual-beli BBM eceran dengan harga selangit ini merambah cepat ke ranah digital dan marketplace media sosial.

Grup-grup Facebook lokal seperti “JUAL BELI BARANG BEKAS ANAK KOST KOSAN BALI” hingga “Canggu Community Bali” mendadak berubah fungsi menjadi bursa gelap perdagangan bahan bakar. Pengguna internet disuguhkan berbagai unggahan beruntun yang secara terbuka menawarkan bensin hasil kurasan tangki maupun antrean di SPBU.

Salah satu unggahan anonim di grup jual beli anak kos secara gamblang menuliskan narasi penawarannya:

“Mungkin ada yang membutuhkan karna malas ngantri? Karna sudah isi full di motor. Botol 3liter full isi pertamax. 200net. Lokasi tukadbatanghari panjer.”

Di grup komunitas Canggu yang didominasi ekspatriat dan wisatawan asing, seorang pengguna mengunggah foto satu keranjang plastik penuh berisi puluhan botol air mineral yang telah terisi Pertamax biru pekat. Dengan menggunakan bahasa Inggris, ia menulis pesan pemasaran:

“I am selling Pertamax gasoline in 1.5-liter bottles, drained from the tanks of several of my motorcycles, for 100.000 rupiah. If you would like to buy it, please send me a message; I offer free delivery within the Canggu area.” (Saya menjual bensin Pertamax dalam botol 1,5 liter, yang dikuras dari tangki beberapa sepeda motor saya, seharga Rp 100.000. Jika ingin membeli, silakan kirim pesan; saya menawarkan bebas biaya kirim untuk area Canggu).

Baca Juga:  Dari Tuduhan Serius ke Hitung-hitungan Kocak, Klarifikasi Roby Tremonti Jadi Tren Parodi Gokil!

Tak hanya di grup komunitas, fitur Marketplace Facebook di wilayah Denpasar dan Badung juga dipenuhi iklannya. Foto-foto botol bekas berisi cairan Pertalite hijau berjejer di atas lantai keramik atau meja kayu dengan label harga beragam:

Pertalite ready: Rp 50.000 per botol.

Pertalite & Pertamax eceran: Rp 75.000 hingga Rp 80.000 per botol 1,5 liter.

Pertalite 1 liter: Rp 100.000.

Jeriken isi Pertalite: Dibanderol mulai dari Rp 100.000 hingga mencapai angka fantastis Rp 500.000 per jeriken ukuran sedang.

Klarifikasi Pertamina dan Realitas Pasokan di Lapangan

Menanggapi kepanikan publik serta situasi tak kondusif yang berkembang di lapangan, pihak Pertamina Patra Niaga memberikan penjelasan resmi terkait akar masalah dan langkah penanganan yang sedang ditempuh.

Area Manager Communication, Relation, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan permohonan maaf terbuka atas ketidaknyamanan yang dialami masyarakat Bali dalam mendapatkan produk BBM di SPBU. Menurutnya, fenomena kelangkaan ini dipicu oleh perubahan pola konsumsi masyarakat serta peningkatan permintaan yang cukup signifikan.

“Semenjak minggu lalu kami sudah melakukan penyesuaian pola distribusi untuk menyiasati kebutuhan BBM yang mengalami peningkatan konsumsi di wilayah regional kami, meliputi Jawa Timur, Bali, NTB, hingga NTT,” jelas Ahad Rahedi. Produk Pertalite dan Pertamax menjadi yang paling terdampak karena kedua jenis bahan bakar tersebut paling banyak diminati masyarakat terkait keterjangkauan harganya.

Pihak Pertamina menegaskan bahwa pasokan BBM sebenarnya terus dialirkan secara masif melalui jalur laut menggunakan kapal tanker secara bertahap:

Kapal Prima XP: Telah membongkar muatan sebesar 18 juta liter Pertalite dan 2,5 juta liter Pertamax di Terminal BBM Manggis.

Kapal Classogun: Menyusul dengan membawa tambahan 1,2 juta liter Pertalite khusus untuk kebutuhan Bali.

Pengiriman Berkelanjutan: Rangkaian pengiriman pasokan kapal tanker dijadwalkan secara terus-menerus hingga pertengahan bulan untuk memastikan ketersediaan pasokan.

Namun, Ahad juga mengakui adanya kendala waktu dalam proses pemulihan suplai hingga sampai ke tangki SPBU. “Setelah kapal sandar, tetap masih butuh waktu untuk pemulihan pengiriman BBM ke SPBU. Tidak bisa serta-merta atau instan, karena tingkat permintaan (demand) di lapangan saat ini jauh lebih tinggi dibanding ketersediaan suplai mendadak,” paparnya.

Untuk mempercepat pemulihan, Pertamina mengoperasikan Terminal BBM Manggis dan Sanggaran secara non-stop 24 jam penuh serta mengerahkan seluruh armada mobil tangki di Bali. Selain itu, Pertamina berkoordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Bali, Gubernur I Wayan Koster, serta jajaran Satlantas Polres dan Dinas Perhubungan setempat guna mengatur kelancaran arus lalu lintas di sekitar SPBU.

Baca Juga:  Viral Oknum Polisi Sumedang Kepergok Lakukan Pungli di Cadas Pangeran

Kemarahan Netizen: “Rakyat Sama Pemerintah Sama!”

Gelombang kekecewaan tidak hanya dirasakan langsung oleh warga di jalanan, tetapi juga meledak di ruang-ruang digital. Kolom komentar pada berbagai akun pemberitaan sosial media dipenuhi oleh kecaman pedas netizen terhadap mentalitas segelintir oknum masyarakat yang memanfaatkan situasi krisis demi keuntungan pribadi.

Banyak warganet merasa geram melihat bagaimana musibah kelangkaan energi justru dijadikan ladang bisnis gelap. Komentar tajam, kritik sosial, hingga seruan moral berhamburan merespons aksi para penimbun dan spekulan BBM eceran ini.

“RAKYAT SAMA PEMERINTAH SAMA!!” ujar seorang netizen dengan nada geram, menyamakan sikap apatis sebagian masyarakat yang menimbun di saat susah dengan lambatnya penanganan birokrasi.

Kritik senada juga dilayangkan oleh warganet lain yang menyoroti hilangnya empati sosial di tengah himpitan krisis. Tindakan mencari untung di atas penderitaan sesama dinilai sebagai bentuk kemunduran moral yang memprihatinkan.

“Kesempatan dalam kesempitan, memang peluang. Tapi kurang baik rasanya,” timpal netizen lainnya menyayangkan pudarnya rasa solidaritas antarwarga.

Bahkan, sebagian besar warganet menyerahkan nasib para oknum pencari untung sesaat itu kepada keadilan sosial tertinggi—hukum karma dan keyakinan spiritual.

“Yang nimbun bensin di era keterbatasan bensin, asli sih suatu saat kesusahan gaada yang bantu 🙏 PERCAYA SAMA JALUR LANGIT POKOKNYA 🔥,” tulis netizen lain menegaskan keyakinan bahwa tindakan culas tidak akan membawa berkah jangka panjang.

Catatan Akhir

Krisis BBM di Bali menjadi ujian berat bagi ketahanan logistik daerah sekaligus integritas moral masyarakatnya. Di satu sisi, upaya pengiriman pasokan belasan juta liter bensin dan pengoperasian terminal 24 jam terus dipacu oleh otoritas resmi untuk mengembalikan kondisi normal. Namun di sisi lain, fenomena jual-beli BBM eceran berharga fantastis di jalanan dan pasar gelap digital meninggalkan luka sosial yang mendalam.

Rangkaian gambar antrean panjang di SPBU, transaksi ratusan ribu rupiah untuk sebotol bensin eceran di trotoar, hingga luapan kekecewaan netizen di dunia maya menjadi pengingat telak: bahwa di saat krisis melanda, integritas, kejujuran, dan kepedulian sosial adalah fondasi utama agar kebersamaan kita sebagai bangsa tidak runtuh oleh keserakahan sesaat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bali bbm viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga

Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI

Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje

Dua Terduga Pencuri Motor di Jalan Japati Bandung Ditangkap, Polisi Temukan Narkotika

Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!

Habis Sudah! Bupati Gowa Husniah Dipecat Tidak Hormat: Dari Skandal Asmara Hingga Pemerasan Rp16 Miliar!

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Ilustrasi video syur
    Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.