bukamata.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung menggelar dialog buku bertajuk “Pemilu Orang Biasa: Publik Bertanya, Anas Menjawab” di Aula KPU Kota Bandung, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Lahir KPU RI ke-73 yang jatuh pada 7 November mendatang.
Acara yang dilaksanakan secara hybrid ini menghadirkan mantan Komisioner KPU RI periode 2001–2005, Anas Urbaningrum, sebagai pembicara utama. Dialog ini membahas perjalanan dan refleksi demokrasi serta dinamika penyelenggaraan pemilu di Indonesia pasca-Reformasi.
Pentingnya Membaca Sejarah Demokrasi
Dalam paparannya, Anas Urbaningrum menegaskan bahwa upaya membangun demokrasi tidak hanya berfokus pada masa depan, melainkan juga harus berakar pada pelajaran dan hikmah sejarah pemilu di masa lalu.
“Ya kalau kita mau membangun demokrasi itu kan bukan hanya melihat ke depan, tapi juga berefleksi ke belakang. Karena ada pelajaran-pelajaran, ada hikmah-hikmah yang bisa dipetik dari saripati kejadian-kejadian di masa lalu, termasuk pemilu,” ucap Anas.
Dia menambahkan bahwa praktik baik dari pemilu terdahulu harus dipertahankan dan disempurnakan sesuai tantangan zaman.
“Pemilu-pemilu pasca Orde Baru itu ada bagian-bagian yang kalau diteliti di masa itu sudah bagus. Nah, poinnya adalah yang bagus-bagus itu jangan ditinggalkan. Yang kurang-kurang diperbaiki sesuai dengan perkembangan keadaan baru. Dengan begitu maka proses pemilu dan segala perangkatnya bisa menjadi dasar sekaligus sebagai kontributor bagi pertumbuhan demokrasi kita,” tuturnya.
Tiga Pilar Pembenahan Demokrasi
Menjawab tantangan demokrasi saat ini, Anas menyoroti tiga pilar utama yang dinilai masih memerlukan pembenahan berkelanjutan. Pertama adalah independensi penyelenggara Pemilu (KPU).
Anas menekankan pentingnya menjaga kemandirian KPU dari segala bentuk intervensi politik.
“Satu adalah penyelenggaranya. Perintah konstitusi, KPU itu adalah KPU yang mandiri dan independen. Jadi semua pihak yang berkepentingan mesti respect dengan prinsip ini. Jangan diganggu-ganggu independensi KPU ini. Kadang-kadang kan ada intervensi atau minat untuk mengurangi independensi KPU,” tegasnya.
Kedua adalah kapasitas dan kesadaran politik masyarakat. Menurutnya, kunci pemilu yang demokratis berada di tangan rakyat yang memiliki kesadaran dan kapasitas politik tinggi.
“Kunci pemilu yang demokratis itu adalah rakyat yang sadar, cerdas, dan berdaya. Rakyat yang sanggup memilih partai atau orang yang menurut dia amanah, dan bahkan bisa memberikan punishment jika yang diberi amanah kurang amanah,” jelas Anas.
Pilar terakhir adalah kepatuhan peserta pemilu terhadap aturan permainan yang berlaku.
“Ketiga, ya partai-partai dan para politisinya yang betul-betul punya komitmen untuk menjadi peserta pemilu dengan penuh taat asas,” lanjutnya.
Pesan untuk Generasi Muda: Apatis Bukan Solusi
Merespons fenomena apatisme politik di kalangan pemuda atau generasi muda yang cenderung enggan menggunakan hak pilihnya, Anas mengingatkan bahwa setiap kebijakan publik yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari merupakan produk dari proses politik.
“Faktanya adalah kehidupan setiap orang di negeri ini dipengaruhi oleh keputusan-keputusan politik dan kebijakan. Kebijakan itu terkait dengan hasil pemilu. Suka atau tidak suka, kalau ingin kehidupannya lebih baik, berupayalah melihat pemilu sebagai sarana untuk mendapatkan orang-orang yang bisa memperjuangkan hajat dan aspirasinya,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa bersikap apatis tidak akan menyelesaikan masalah.
“Tidak boleh lagi apatis, karena apatis itu bukan jawaban. Apatis itu pelarian, dan belum pernah ada pelarian yang menghasilkan. Tapi kalau berani terlibat, boleh jadi sekali dua kali hasilnya belum maksimal. Namun dengan proses belajar dan perbaikan, berikutnya akan ada perbaikan-perbaikan. Jadi pelarian itu bukan solusi, keterlibatan yang jadi solusi,” pesannya.
Pematangan Persiapan Menuju Pemilu 2029
Sementara itu, Ketua KPU Kota Bandung, Khoirul Anam Gumilar Winata menjelaskan bahwa dialog buku ini diselenggarakan sebagai ruang refleksi sejarah penyelenggaraan Pemilu 2004, di mana Anas Urbaningrum terlibat langsung sebagai komisioner.
“Urgensinya yang pertama tanggal 7 November nanti kan hari ulang tahun KPU RI menuju ke-73. Kita biasakan momen peringatan hari lahir itu adalah refleksi tentang penyelenggaraan pemilu. Nah kebetulan buku yang Mas Anas catat itu adalah perjalanan penyelenggaraan pemilu di tahun 2004,” terang Khoirul Anam.
Khoirul Anam menyebutkan acara digelar secara hybrid lantaran kapasitas aula yang terbatas, namun dihadiri secara daring oleh lebih dari 300 peserta dari KPU Kabupaten/Kota se-Indonesia serta masyarakat umum. Secara luring, hadir pula perwakilan mahasiswa, Kesbangpol, dan Bawaslu.
Ia berharap semangat dan substansi Pemilu 2004 dapat menjadi pelecut semangat menjelang dimulainya tahapan Pemilu 2029 pada tahun 2027 mendatang.
“Pemilu 2004 adalah pemilu pertama secara langsung yang Indonesia laksanakan. Harapannya kita merefleksikan bahwa substansi semangat pemilu secara langsung dan demokrasi yang substantif itu sudah dimulai pasca reformasi. Apalagi ke depan ini masuk ke tahapan di tahun 2027 untuk Pemilu 2029,” ungkapnya.
“Ini untuk memantik semangat bahwa pada saat dulu kala proses penyelenggaraan pemilu sudah dilaksanakan dengan matang dengan keterbatasan teknologi. Sekarang sudah banyak teknologi dan dukungan infrastruktur, mudah-mudahan menjadi semangat untuk kita sama-sama mempersiapkan Pemilu 2029 yang lebih baik,” tambahnya.
Sebagai rangkaian Peringatan Hari Lahir KPU RI ke-73, KPU Kota Bandung juga telah menyiapkan sejumlah agenda lanjutan, di antaranya perlombaan untuk masyarakat Kota Bandung, kegiatan syukuran keagamaan, serta sosialisasi pemilu secara berkelanjutan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










