bukamata.id – Di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Tegal, hidup seorang perempuan bernama Saeruroh yang akrab disapa Sher di media sosial. Sehari-hari, ia dikenal sebagai ibu satu anak yang membantu perekonomian keluarga lewat berjualan sosis bakar, biasanya di acara-acara pengajian sekitar rumahnya.
Tak ada yang membayangkan bahwa perempuan berusia 32 tahun itu suatu hari akan melenggang percaya diri di panggung mode paling bergengsi di Indonesia: Jakarta Fashion Week (JFW) 2026.
Namun takdir dan kegigihan sering memiliki kejutan tersendiri. Dan bagi Saeruroh, kejutan itu hadir dalam bentuk gaun merah karya desainer ternama, sorotan lampu runway, serta satu panggung bersama para pesohor seperti Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, hingga Patricia Gouw.
JFW: Panggung Mode Terbesar di Indonesia
Jakarta Fashion Week (JFW) selama ini dikenal sebagai barometer mode Indonesia dan salah satu pekan mode paling berpengaruh di Asia Tenggara. Ajang ini menjadi destinasi para desainer nasional dan internasional untuk memperkenalkan tren dan identitas kreatif mereka. Di sinilah karier banyak model besar dimulai — dan kini, nama Saeruroh masuk ke dalam barisan itu, meski perjalanannya jauh dari kisah glamor dunia fashion.
Pada JFW 2026, perhatian publik bukan hanya tertuju pada deretan busana glamor. Sebuah kejutan muncul dari runway ketika seorang penjual sosis asal Tegal tampil melenggang penuh percaya diri. Publik pun dibuat terpukau: siapa sebenarnya perempuan ini?
Awal Segalanya: Mimpi Kecil yang Lama Terkubur
Sher tumbuh dengan mimpi menjadi model. Sejak kecil, ia senang melihat model di televisi dan membayangkan suatu hari dirinya bisa berjalan seperti mereka. Namun komentar-komentar negatif dari orang sekitar membuatnya perlahan kehilangan rasa percaya diri.
“Banyak yang bilang kulitku hitam, kalau pakai bedak kayak tempe gosong,” kenangnya dalam sebuah wawancara televisi. “Aku percaya saja karena masih kecil. Sampai lulus SMA nggak pernah pakai bedak.”
Rendah diri ini kemudian membentuk jalan hidupnya. Ia sibuk bekerja, menikah, punya anak, dan membantu suami dengan berjualan makanan. Tapi di balik semuanya, mimpi kecil itu tetap belum benar-benar hilang.
Dari TikTok ke JFW
Meski tidak lagi percaya diri sebagai model, Sher aktif membuat konten di TikTok dengan akun @sher.alili. Kontennya sederhana, berisi keseharian, gurauan ceplas-ceplos, hingga mix and match pakaian dengan koleksi baju yang sebenarnya tidak banyak.
Aktivitas ini tanpa disangka membuatnya dikenal publik dan membuka pintu yang tak pernah ia bayangkan: audisi menjadi Miracle Model untuk kolaborasi JFW x Pond’s Age Miracle.
Ia melihat sebuah postingan dari @pondsindonesia, yang mencari perempuan berusia di atas 30 tahun untuk tampil di runway. Syaratnya sederhana: buat video “a day in my life.”
“Aku pikir, kok kayaknya nggak mungkin lolos. Tapi aku tanya teman di TikTok, lalu aku coba bikin videonya,” ujar Sher dalam unggahannya pada 24 Oktober 2025.
Ia mengirim video tanpa harapan besar. Tetapi ketika pengumuman keluar, namanya masuk sebagai peserta audisi offline di Surabaya. Di sinilah perjalanan beratnya dimulai.
Menjual Cincin Demi Audisi
Perjalanan dari Tegal ke Surabaya bukan hal mudah. Butuh biaya yang tidak sedikit. Ketika Sher memberi tahu suaminya bahwa ia lolos untuk audisi di luar kota, responsnya bukan dukungan penuh, melainkan kebingungan.
“Suamiku bilang, ‘Loh ngapain sih ikut gituan? Dapatnya apa?’,” cerita Sher sambil tersenyum getir.
Namun kali ini, Sher memilih mempertahankan mimpinya.
Demi bisa berangkat, ia menjual cincin miliknya dan cincin anaknya. Langkah yang menyakitkan, namun baginya itu adalah taruhan terakhir. “Ini kesempatan terakhir. Di usia segini kalau dilewati, aku nggak akan pernah nyoba lagi,” ujarnya.
Keberanian itu membuahkan hasil. Ia lolos ke tahap berikutnya.
Belajar Catwalk dari Model Profesional
Sebelum tampil di JFW, Sher harus melewati proses latihan intens. Ia bahkan dipinjami pakaian audisi oleh salah satu pengikut TikTok-nya karena tidak memiliki busana yang sesuai standar casting.
Kemudian, seorang model papan atas Wulandari Herman turut membantunya belajar berjalan di runway. Di sinilah ia menemukan kembali rasa percaya diri yang dulu hilang karena komentar-komentar soal warna kulitnya.
“Aku kayak nggak percaya bisa belajar sama model beneran,” tulisnya.
Latihan itu menjadi bekal penting ketika hari penentuan tiba: panggung JFW 2026.
Gaun Merah, Lampu Runway, dan Nama yang Mendadak Viral
Saat tampil di runway, Sher mengenakan gaun merah rancangan Jan Sober. Siluetnya membuat Sher terlihat anggun dan kuat — seolah mencerminkan perjalanan panjangnya.
Di salah satu segmen, ia berjalan berdampingan dengan Dian Sastrowardoyo. Momen itu terekam di TikTok dan langsung viral. Publik terpukau melihat bagaimana penjual sosis—yang sehari-hari bergulat dengan asap pembakaran—bisa dengan begitu percaya diri menyatu dengan aura runway.
“Catwalk bareng kembaran udah… selanjutnya main film bareng ya mbak Dian,” tulisnya bercanda di TikTok.
Unggahannya dipenuhi komentar dukungan. Nama Saeruroh pun melesat, bukan karena sensasi, tetapi karena cerita perjuangannya yang autentik.
Sosok Saeruroh: Lebih dari Sekadar Model Dadakan
Profil Sher memperlihatkan karakter seorang perempuan yang mandiri, pekerja keras, dan berani mengambil risiko. Ia bukan berasal dari dunia hiburan, bukan pula keturunan keluarga berada. Ia lahir dari keluarga biasa, menjalani hidup sederhana, dan mendidik anak sambil mencari rezeki dari berjualan sosis.
Namun ia memiliki satu hal yang tidak semua orang punya: kemauan untuk mencoba.
Akun TikTok-nya kini berkembang pesat. Sher mulai menerima endorsement, proyek konten, dan semakin dikenal sebagai sosok inspiratif. Banyak perempuan seusianya merasa terwakili oleh kehadiran Sher di JFW—bahwa kecantikan dan kesempatan tidak terbatas pada usia, warna kulit, atau latar belakang ekonomi.
Mimpi yang Baru Dimulai
“Mimpi yang jadi nyata. Aku bangga sekali jadi bagian dari Miracle Model. Perjalanan ini baru dimulai,” tulisnya pada 5 November 2025.
Dalam satu tahun, hidupnya berubah drastis. Namun satu hal yang tak berubah adalah sikap rendah hatinya. Hingga kini, ia tetap berjualan sosis saat pulang ke Tegal, tetap menjadi ibu bagi anaknya, dan tetap membalas komentar para pengikutnya dengan hangat.
Sher mengingatkan kita bahwa runway bukan hanya milik mereka yang sempurna. Fashion adalah ruang untuk semua orang yang berani tampil apa adanya. JFW telah membuktikan itu—dan Saeruroh adalah cerminnya.
Dari gerobak sosis ke panggung fashion terbesar di Indonesia, perjalanan Sher adalah pengingat bahwa mimpi tidak mengenal usia, profesi, atau latar belakang. Selama seseorang memiliki tekad, dunia mungkin saja membuka jalan—bahkan jalan selebar runway Jakarta Fashion Week.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











