bukamata.id – Sosok I Gede Aiswarya Pandit Kartika kini tengah menjadi perhatian setelah berhasil membawa nama Indonesia ke jajaran tiga besar Mister International 2026.
Wakil Indonesia asal Bali tersebut meraih posisi 2nd Runner-Up atau juara ketiga dalam grand final Mister International 2026 yang digelar di MCC Hall, The Mall Lifestore Bangkapi, Bangkok, Thailand, Sabtu (26/9/2026).
Tak berhenti di podium tiga besar, Aiswarya juga berhasil membawa pulang penghargaan Best National Costume melalui busana bertema Barong Landung: The King Beyond Time yang mengangkat kekayaan budaya Bali.
Namun, ada sisi lain dari sosok Aiswarya yang tak kalah menarik. Di balik penampilannya sebagai seorang professional runway model dan peserta pageant internasional, pemuda kelahiran Bali, 22 September 2002, itu ternyata merupakan lulusan Teknik Otomasi Politeknik Negeri Bali.
Latar belakang teknik tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Aiswarya. Sebelum berdiri di panggung pageant internasional, ia lebih dahulu berkutat dengan dunia teknologi, otomasi hingga inovasi.
Gede Aiswarya, Lulusan Teknik yang Masuk Dunia Pageant
Ketika nama Aiswarya muncul di panggung Mister International 2026, publik mungkin lebih mudah mengenalnya melalui dunia modeling dan pageant.
Padahal, perjalanan pendidikan Aiswarya justru berasal dari bidang yang cukup berbeda.
Ia merupakan lulusan Teknik Otomasi Politeknik Negeri Bali. Pendidikan tersebut membentuk pengalaman Aiswarya di bidang teknologi sekaligus mempertemukannya dengan dunia inovasi.
Catatan akademiknya juga terbilang menonjol. Aiswarya tercatat menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,81.
Latar belakang pendidikan tersebut membuat perjalanan Aiswarya menuju panggung internasional tidak hanya berbicara tentang penampilan fisik.
Ada pengalaman akademik dan teknologi yang ikut membentuk sosoknya.
Menariknya lagi, pengalaman tersebut tidak berhenti di ruang kelas.
Aiswarya pernah mewakili Indonesian Young Scientist Association dalam ajang Singapore World Invent 2023. Dalam kompetisi tersebut, ia berhasil meraih posisi juara ketiga atau medali perunggu.
Salah satu inovasi yang dibawanya berkaitan dengan sistem pemantauan kesehatan berbasis teknologi wearable.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa dunia teknologi bukan sekadar latar belakang pendidikan bagi Aiswarya. Ia pernah terlibat langsung dalam kompetisi inovasi dan membawa gagasannya ke tingkat internasional.
Ketika Teknologi Bertemu Dunia Modeling
Perjalanan Aiswarya kemudian bergerak ke arah yang berbeda.
Dari laboratorium dan dunia teknik, ia mulai menapaki panggung modeling, budaya, hingga pageant.
Dua dunia yang tampak berbeda tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan yang saling melengkapi.
Pengalaman di bidang teknik memberinya ruang untuk memahami teknologi dan inovasi. Sementara dunia modeling dan pageant membentuk kemampuan tampil, berkomunikasi serta membawa pesan di hadapan publik.
Gagasan tersebut kemudian tercermin dalam konsep Tech with Humanity yang dibawa Aiswarya.
Konsep itu menempatkan teknologi bukan hanya sebagai perkembangan teknis, tetapi sebagai sesuatu yang semestinya memberikan manfaat bagi manusia.
Sebelum mengikuti Mister International 2026, Aiswarya juga menyampaikan keinginannya untuk menggunakan platform yang dimilikinya untuk menemukan dan mendorong anak-anak muda Indonesia yang memiliki kemampuan, tetapi belum memperoleh ruang untuk menunjukkan potensinya.
Gagasan tersebut sejalan dengan keterlibatannya dalam gerakan pengembangan talenta muda melalui Gokil Indonesia Next.
Pernah Jadi Duta Endek Denpasar
Jika dunia teknik menjadi salah satu fondasi pendidikan Aiswarya, budaya Bali menjadi bagian lain yang tidak terpisahkan dari perjalanannya.
Aiswarya pernah dipercaya sebagai Duta Endek Denpasar 2025.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan salah satu kekayaan tekstil tradisional Bali. Endek bukan hanya menjadi bagian dari fashion, tetapi juga identitas budaya yang kemudian dapat diperkenalkan melalui berbagai ruang publik.
Pengalaman sebagai Duta Endek turut menjadi bekal ketika Aiswarya tampil dalam kompetisi internasional.
Hal itu terlihat jelas saat dirinya mengenakan kostum nasional bertema Barong Landung: The King Beyond Time dalam Mister International 2026.
Busana tersebut mengangkat karakter Barong Landung yang merupakan bagian dari budaya Bali.
Penampilannya kemudian diganjar penghargaan Best National Costume.
Dengan demikian, ada dua sisi Indonesia yang dibawa Aiswarya ke panggung Bangkok. Di satu sisi ada latar belakang teknologi dan inovasi. Di sisi lain ada budaya Bali yang direpresentasikan melalui kostum nasional.
Dari King of Andaman hingga Mister International
Perjalanan Aiswarya menuju Mister International juga tidak terjadi secara instan.
Sebelum menjadi wakil Indonesia di ajang tersebut, ia telah memiliki pengalaman sebagai model profesional dan mengikuti sejumlah kompetisi pageant.
Aiswarya tercatat pernah meraih posisi 1st Runner-Up King of Andaman.
Pengalaman di panggung tersebut menjadi bagian dari proses yang kemudian membawanya ke kompetisi yang lebih besar.
Di usia 23 tahun, Aiswarya akhirnya dipercaya mewakili Indonesia dalam Mister International 2026.
Ajang tahun ini diikuti 52 kontestan dari berbagai negara.
Perjalanan Aiswarya tidak berhenti pada tahap awal. Ia mampu melewati berbagai rangkaian kompetisi hingga akhirnya masuk ke babak tiga besar.
Pada babak akhir, Aiswarya bersaing dengan perwakilan Meksiko dan Spanyol.
Posisi pertama diraih Andrés Briseño dari Meksiko, sementara Ignacio Monclús Pradal dari Spanyol menjadi 1st Runner-Up.
Aiswarya kemudian menempati posisi 2nd Runner-Up.
Membawa Nama Indonesia Lewat Dua Pencapaian
Malam final Mister International 2026 akhirnya memberikan dua pencapaian bagi Aiswarya.
Pertama, ia berhasil membawa Indonesia masuk tiga besar dengan meraih posisi 2nd Runner-Up.
Kedua, ia meraih penghargaan Best National Costume lewat busana yang mengangkat Barong Landung.
Dua pencapaian tersebut sekaligus memperlihatkan dua dimensi perjalanan Aiswarya.
Ia datang sebagai seorang peserta pageant dengan pengalaman modeling, tetapi membawa latar belakang yang lebih beragam.
Ada pendidikan Teknik Otomasi, pengalaman kompetisi inovasi teknologi, perjalanan sebagai Duta Endek Denpasar, pengalaman modeling dan kemudian kiprah di panggung pageant internasional.
Dari Bali, Teknik, hingga Panggung Dunia
Kisah Aiswarya menarik bukan semata karena dirinya berhasil masuk tiga besar Mister International 2026.
Perjalanan tersebut juga menunjukkan bagaimana seseorang dapat memiliki lintasan yang tidak selalu berjalan dalam satu bidang.
Aiswarya belajar teknik dan otomasi, terlibat dalam inovasi teknologi, kemudian masuk ke dunia modeling dan pageant.
Pada akhirnya, berbagai pengalaman tersebut bertemu di satu panggung.
Ketika berdiri di panggung Mister International 2026, Aiswarya tidak hanya membawa penampilan seorang runway model. Ia juga membawa pengalaman sebagai lulusan teknik, inovator muda, Duta Endek serta representasi budaya Bali.
Konsep Tech with Humanity yang dibawanya pun menjadi pengingat bahwa teknologi dan kemanusiaan tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berseberangan.
Sementara melalui Barong Landung, ia membawa identitas Bali ke hadapan audiens internasional.
Perjalanan dari Teknik Otomasi Politeknik Negeri Bali hingga podium tiga besar Mister International 2026 itu pada akhirnya menjadi cerita tentang pertemuan pendidikan, teknologi, budaya dan pageant dalam diri seorang anak muda asal Bali.
Aiswarya membuktikan bahwa jalan menuju panggung internasional tidak selalu dimulai dari dunia modeling.
Bisa saja, perjalanan itu berawal dari ruang kelas teknik, proyek inovasi teknologi, kemudian berlanjut ke panggung budaya dan akhirnya sampai ke kompetisi pageant dunia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









