bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengungkapkan keprihatinannya terkait berbagai kasus sosial yang menimpa anak-anak dan remaja di Jabar.
Salah satu isu yang menjadi perhatiannya adalah kasus penjualan bayi dengan modus adopsi yang saat ini tengah diproses oleh Polda Jabar.
“Itu sudah diproses di Polda Jabar, dan kita melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga terus melakukan investigasi,” ucap Dedi di Gedung DPRD Jabar, Sabtu (19/7/2025).
Lebih lanjut, Dedi menyoroti maraknya kasus kekerasan, khususnya pelecehan seksual, yang menimpa anak di bawah umur. Ia bahkan menyebutkan bahwa hampir setiap hari ada pengaduan serupa yang masuk ke kediamannya.
“Yang ke rumah saya itu hampir setiap hari selalu ada pengaduan, pengaduannya adalah selalu anak di bawah umur dan rata-rata pelecehan seksual,” tegasnya.
Fenomena terbaru yang juga menjadi perhatian adalah kasus pelecehan yang melibatkan anak di bawah umur dan viral di media sosial. Kasus ini disebut-sebut terjadi secara massal di salah satu wilayah di Jabar.
“Yang terbaru itu, saya tidak usah menyebut wilayah, ada di satu wilayah yang itu anak di bawah umur dan yang muncul di media sosial dan dilakukan juga oleh anak di bawah umur dan itu agak massal. Nah ini menjadi problem yang ada di Jawa Barat,” jelasnya.
Kasus SMAN 6 Garut: Bukan Sekadar Bullying Biasa
Mengenai kasus yang menimpa siswa SMAN 6 Garut, Dedi menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar kasus bullying seperti yang dipahami publik. Menurutnya, ada aspek psikologis kompleks yang dialami generasi Z saat ini.
“Yang SMAN 6 Garut itu peristiwanya bukan peristiwa yang seperti muncul ke permukaan yang hari ini dipahami sebagai bullying, tetapi ada aspek yang bersifat kompleks yang menurut saya itu psikologi yang dialami oleh Gen Z hari ini,” paparnya.
Oleh karena itu, investigasi kasus ini melibatkan kepolisian dan psikolog untuk mengungkap akar masalah secara menyeluruh. Dedi khawatir masalah ini akan menjadi bom waktu di kemudian hari, terutama karena mereka yang terlibat merupakan satu kelompok.
“Semoga nanti hari Rabu sudah selesai, sudah rampung, kita sudah buat kesimpulan,” harapnya.
Pentingnya Psikolog di Sekolah dan Ancaman Konten Medsos
Menyikapi berbagai persoalan ini, Dedi menekankan pentingnya pengawasan dan pendampingan psikologis di sekolah. Ia akan mengajak para Bupati dan Wali Kota di Jabar untuk memastikan setiap sekolah, terutama SMA dan SMP, memiliki psikolog.
“Sudah semestinya di setiap sekolah ada psikolog, terutama SMA dan SMP. Karena tidak mungkin lagi ditangani guru BK. Problemnya sudah akut,” sebutnya.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang memperparah kondisi psikologis anak-anak dan remaja saat ini, antara lain kurangnya aktivitas fisik, penggunaan gawai setiap hari, konsumsi makanan instan, kondisi lingkungan yang buruk, rumah yang sempit, serta minimnya interaksi dengan orang tua.
Ia juga menyoroti bahaya konten media sosial yang dapat memengaruhi perilaku anak-anak dan remaja.
“Dari konten media sosial itulah lahir pengaruh dan terpapar. Jadi yang disebut hari ini, kalau dulu terpapar radikalisme, hari ini ancaman terpapar itu adalah virus yang dikembangkan melalui jaringan-jaringan kemudian menjadi tontonan dan itu mempengaruhi termasuk tawuran, pelecehan seksual, seks massal,” bebernya.
Dedi juga mengungkapkan adanya fenomena “janji satu darah” di kalangan remaja, di mana laki-laki dan perempuan menyatukan darah mereka sebagai simbol kesepakatan untuk hidup bersama.
“Kemudian ada janji satu darah. Jadi laki-laki dan perempuan mengeluarkan darahnya, disatukan, ditempelkan di kertas cintanya dan itu mereka menjadi, memberi kesepakatan untuk hidup bersama, sehidup semati ini terjadi,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










