bukamata.id – Suasana malam di Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, mendadak mencekam pada Minggu (4/10/2026). Lantai empat sebuah kompleks pondok pesantren dilalap si jago merah, memicu kepanikan luar biasa di kalangan warga sekitar dan para santri yang tengah beristirahat.
Rekaman video amatir yang beredar luas di dunia maya memperlihatkan betapa ganasnya lidah api melahap bagian atap bangunan. Di tengah situasi genting tersebut, insting bertahan hidup dan rasa kekeluargaan langsung tergerak. Tanpa menunggu lama, puluhan santri bahu-membahu bersama warga setempat dan personel TNI melakukan aksi penyelamatan darurat secara manual menggunakan ember berisi air.
Terdengar teriakan instruksi bersahut-sahutan dari kerumunan orang yang berupaya menjinakkan amukan api agar tidak merambat ke bagian bangunan lain.
“Terus, terus… Ember, ember!” teriak salah seorang warga dalam rekaman video.
Kendala Akses dan Perjuangan Petugas Damkar
Laporan darurat insiden kebakaran ini dengan cepat ditanggapi oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Cirebon. Kepala Bidang Kedaruratan DPKP Cirebon, Eno Sudjana, menyebutkan bahwa pos komando menerima informasi dari pelapor pada pukul 20.10 WIB dan langsung mengerahkan armada dari Sektor Palimanan satu menit berselang.
Kendati demikian, petugas di lapangan sempat dihadapkan pada hambatan berat. Selain letak titik api yang berada di lantai paling atas, armada pemadam justru terhalang oleh gapura masuk kawasan yang memiliki batas ketinggian terlalu rendah. Akibatnya, mobil pancar tidak bisa mendekat secara langsung ke titik objek yang terbakar.
Meski terkendala akses kendaraan, petugas tidak kehabisan akal. Setibanya di lokasi sekitar pukul 20.31 WIB, regu pemadam mendapati api ternyata sudah berhasil dipadamkan berkat kerja keras santri dan warga.
Fokus petugas kemudian dialihkan pada tahap pendinginan. Dibantu oleh Regu 1 dari Sektor Arjawinangun, petugas membentangkan delapan selang panjang untuk menjangkau ketinggian lantai empat.
“Api sudah dipadamkan oleh para santri dan warga. Kemudian anggota melakukan pendinginan dibantu oleh anggota Sektor Arjawinangun, dengan menggunakan 8 selang. Dikarenakan lokasi kebakaran ada di lantai 4 dan terlalu jauh dari jangkauan Unit Armada,” jelas Eno dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/10/2026).
Proses pendinginan yang melibatkan unsur Danru, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas tersebut akhirnya tuntas pada pukul 21.15 WIB setelah dipastikan tidak ada lagi titik bara sekecil apa pun yang berpotensi memicu api susulan.
Kitab dan Paporit Santri Hangus, Kerugian Belum Ditaksir
Musibah ini menghanguskan area seluas sekitar 42 meter persegi dari total luasan bangunan 100 meter persegi di lantai empat Pondok Pesantren Assalafie (yang juga dikenal warga sekitar sebagai Pondok Kebon Melati). Sejumlah harta benda milik santri, mulai dari lemari pakaian beserta isinya, tumpukan kitab suci, buku pelajaran, meja, kursi, hingga material bangunan, ikut ludes terbakar. Kendati demikian, sisa area seluas 58 meter persegi berhasil diselamatkan dari kerusakan parah.
Suasana haru sempat terekam dalam video amatir, di mana seorang perempuan terdengar melafalkan kalimat tasbih dan tahmid sembari meratapi nasib para santri.
“Masya Allah… Innalillahi… kasihan…” ucapnya lirih.
Pihak berwenang memastikan bahwa insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Berdasarkan keterangan awal dari pelapor bernama Suherman, pemicu amukan si jago merah diduga kuat berasal dari korsleting arus pendek listrik.
Operasi pemadaman dan sterilisasi lokasi ini melibatkan sinergi lintas pihak, mulai dari DPKP Kabupaten Cirebon (Sektor Palimanan dan Arjawinangun), Bhabinkamtibmas Polsek Ciwaringin, Babinsa Koramil Ciwaringin, aparat Desa Babakan, hingga solidaritas tinggi dari para santri dan warga setempat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










