Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ilustrasi begal

Driver Ojol di Garut Ngaku Dibegal dan Dibacok, Ternyata Bohong!

Sabtu, 19 September 2026 20:03 WIB

Waspada Lonjakan Influenza A: Kenali Gejala, Risiko Komplikasi, dan Cara Ampuh Pencegahannya

Sabtu, 19 September 2026 19:51 WIB

Skandal Pungli Alkid Jogja Memanas! Owner Bolosego Skakmat Klarifikasi Jukir di Depan Wawali, Publik Geram!

Sabtu, 19 September 2026 19:08 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Driver Ojol di Garut Ngaku Dibegal dan Dibacok, Ternyata Bohong!
  • Waspada Lonjakan Influenza A: Kenali Gejala, Risiko Komplikasi, dan Cara Ampuh Pencegahannya
  • Skandal Pungli Alkid Jogja Memanas! Owner Bolosego Skakmat Klarifikasi Jukir di Depan Wawali, Publik Geram!
  • Insiden Memalukan di Asian Games 2026, Korea Selatan Diputarkan Lagu Korea Utara
  • Daftar Lokasi Nobar Resmi Persijap vs Persib Bandung: Titik Kumpul Bobotoh Akhir Pekan Ini
  • Kronologi Lengkap Mahasiswa UPI Tewas Usai Kecelakaan di Jalan A.H. Nasution Bandung
  • Karma Dibayar Kontan? Deretan Kontroversi Jule dari Lepas Hijab hingga Berakhir di Sel Tahanan
  • Jejak Pengabdian Danny Setiawan: Dari Camat di Lebak hingga Kursi Gubernur Jawa Barat
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 19 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Keraton Kasepuhan Cirebon, Istana Tertua di Jawa dengan Arsitektur Multibudaya

By Putra JuangSelasa, 22 Agustus 2023 16:26 WIB2 Mins Read
Keraton Kasepuhan Cirebon. (Foto: Kemdikbud)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Cirebon merupakan salah satu daerah yang berada di Provinsi Jawa Barat. Daerah yang dikenal sebagai Kota Udang ini terletak di pinggir pantai utara Jawa.

Julukan Kota Udang yang melekat pada Cirebon berasal dari etimologi Cirebon yang merupakan singkatan dari dua kata yaitu “Ci” dan “Rebon”. Dalam bahasa Sunda, ci atau cai berarti air, sedangan rebon berarti udang.

Selain disebut Kota Udang, Cirebon juga dijuluki sebagai Kota Wali. Hal ini disebabkan, Cirebon merupakan tempat penyebaran Islam yang dibawa oleh salah seorang dari Wali Songo.

Sosok penyebar Islam di sana bernama Fatahillah atau Syekh Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Baca Juga:  Soal Pj Wali Kota Bandung, Pemkot Tunggu Putusan Kemendagri

Bukti kejayaan Sunan Gunung Jati dalam penyebaran Islam di Cirebon dapat dilihat hadirnya bangunan masjid dan keraton yang saat ini berada di Kasepuhan.

Saat ini, Cirebon memiliki empat buah Keraton yang merupakan warisan berharga dari kerajaan Islam, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon.

Keseluruhan keraton tersebut menunjukkan perpaduan arsitektur dari Hindu ke Islam, dan seterusnya diresapi dengan pengaruh Cina dan Belanda, menciptakan sebuah arsitektur gaya Cirebon yang unik.

Keraton Kasepuhan terletak di Kecamatan Lemahwungkuk di Kota Cirebon yang dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II. Oleh karena itu, keraton ini adalah istana tertua di Jawa dengan sejarah terpanjang.

Baca Juga:  Tak Hanya Duduk Manis, Pj Gubernur Jabar Harus Mampu Bersinergi

Keraton Kasepuhan adalah yang terbesar, berada di atas lahan seluas 10 hektar, dan terbaik di antara istana-istana Cirebon lainnya, di mana setiap sudut memiliki makna tersendiri.

Bangunan dalam semua dicat putih di mana terdapat ruang tahta, ruang tamu rumah tangga kerajaan dan area resepsi untuk menemui para tamu.

Seperti biasa dengan keraton di Jawa, istana berdiri di sisi selatan menghadap ke alun-alun. Sedangkan di sisi baratnya terdapat masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Baca Juga:  Cimin Maut di KBB Bikin Nyawa Anak Melayang, Dinas KUK Jabar: Sulit Awasi UMKM

Hal lain yang menarik dari istana ini adalah bangunan Lawang Sanga yang terletak di sisi selatan, langsung di tepi sungai Krayan.

Bangunan ini adalah kantor pajak dan bea cukai pada masa pemerintahan kerajaan Cirebon. Semua barang dari luar negeri yang memasuki kerajaan harus melewati sungai Krayan di mana pejabat raja akan memungut bea cukai yang diperlukan.

Oleh karena itu, bangunan ini memiliki peran penting untuk kesejahteraan kerajaan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

cirebon Featured
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Waspada Lonjakan Influenza A: Kenali Gejala, Risiko Komplikasi, dan Cara Ampuh Pencegahannya

Karma Dibayar Kontan? Deretan Kontroversi Jule dari Lepas Hijab hingga Berakhir di Sel Tahanan

Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api

Rekomendasi 10 Anime Pendek Terbaik yang Bisa Ditamatkan dalam Sehari, Cocok Buat Maraton Weekend!

Ngeri Dipalak Sejuta Sehari! Pengakuan Blak-blakan Korban Pungli Jogja yang Bikin Satu Indonesia Murka

8 Tahun Disimpan, Erin Ungkap Dugaan Perselingkuhan Andre Taulany dengan Sinden OVJ

Terpopuler
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Karpet Merah Mobilitas Publik atau Kuburan Ekonomi Rakyat: Menelisik Polemik di Balik Megaproyek BRT Bandung Raya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.