bukamata.id – Pada malam penobatan Miss Universe 2025 di Bangkok, sorotan lampu panggung memantul pada mahkota megah yang akhirnya bertengger di kepala Fatima Bosch. Wanita 25 tahun asal Meksiko itu tampak menahan emosi ketika pemenang tahun sebelumnya, Victoria Kjær Theilvig dari Denmark, meletakkan mahkota tersebut di atas rambut hitam legamnya. Namun di balik tepuk tangan meriah, kisah kemenangan Bosch bukanlah kisah yang berjalan mulus. Ia datang membawa badai—badai yang mewarnai kompetisi paling bergengsi di dunia pageant itu hingga menit-menit terakhir.
Fatima Bosch, relawan kemanusiaan yang dikenal karena kepiawaiannya berbicara dan keberaniannya dalam advokasi sosial, memenangkan hati juri lewat pesonanya yang tenang namun tegas. Dalam sesi tanya jawab final, ia menekankan pentingnya keaslian diri. “Percayalah pada kekuatan Anda yang otentik. Impian Anda penting, hati Anda juga penting. Jangan pernah biarkan siapa pun meragukan harga diri Anda,” ujarnya di atas panggung, disambut sorakan bergema dari ribuan penonton.
Namun, bagi mereka yang mengikuti perjalanan panjang Miss Universe 2025, kata-kata itu terasa seperti lebih dari sekadar pesan inspiratif. Ia terdengar seperti refleksi dari apa yang dialaminya sendiri selama kompetisi—khususnya insiden panas dengan Nawat Itsaragrisil, Direktur Miss Universe Thailand sekaligus salah satu tuan rumah kompetisi tahun itu.
Dari Favorit Publik Menjadi Pusat Kontroversi
Sejak awal masa karantina tiga minggu di Thailand, Fatima Bosch sudah menjadi salah satu kandidat favorit. Keberaniannya berbicara dan sikap profesionalnya di setiap acara publik membuat publik memandangnya sebagai finalis yang kuat. Namun nama Bosch tiba-tiba mencuat bukan hanya karena prestasinya, melainkan karena perseteruan terbuka dengan Nawat—sebuah episode yang mengguncang dunia pageant internasional.
Kejadian itu terjadi pada 4 November 2025, dalam sebuah sesi siaran langsung yang mempertemukan Nawat dan para finalis. Di menit-menit awal, suasana masih akrab dan penuh gurau, namun hanya dalam 13 menit segalanya berubah.
Nawat menegur Bosch secara langsung, menuduhnya tidak mengikuti aturan promosi media sosial yang mewajibkan finalis mengunggah konten tentang Thailand sebagai tuan rumah acara. Ia menduga bahwa direktur nasional Miss Universe Meksiko melarang Bosch melakukannya. Bosch segera membantah. Semua, tegasnya, hanyalah kesalahpahaman.
Namun penjelasan itu dipotong secara kasar. Di hadapan kamera yang masih menyala, Nawat menginterogasinya: “Pertanyaanku, kamu bisa mengikuti aturan kami atau tidak? Kamu bisa posting atau tidak? Bisa bantu promosikan Thailand atau tidak? Ya atau tidak?”
Bosch menjawab, “Ya.”
Namun respons Nawat berikutnya membuat seluruh ruangan membeku: “Kalau kamu mengikuti perintah dari direktur nasionalmu, kamu sangat bodoh.”
Kata “bodoh”—atau “dumbhead” seperti yang kemudian dibahas publik—menjadi pemicu ledakan besar. Bosch berdiri, menatap Nawat dengan wajah tegang, lalu berkata lantang: “Aku di sini mewakili negaraku, dan bukan salahku kalau kamu punya masalah dengan organisasiku.”
Ia kemudian berjalan keluar ruangan, sebuah aksi yang jarang terjadi dalam sejarah Miss Universe. Lebih dramatis lagi, beberapa finalis lain—Miss Universe Kanada, Armenia, dan Palestina—ikut bangkit, meninggalkan siaran langsung sebagai bentuk solidaritas. Bahkan Victoria Kjær Theilvig, Miss Universe 2024 yang saat itu berada di lokasi, dikabarkan turut walkout.
Nawat Membalas, Situasi Memanas
Bukannya mereda, ketegangan meningkat ketika Nawat memanggil tim keamanan. Di hadapan finalis yang tertegun, ia menegaskan: “Kalau ada yang mau lanjut ikut kompetisi, silakan duduk. Kalau kamu keluar, peserta lain akan tetap melanjutkan.”
Publik menyaksikan tayangan tersebut dengan campuran kaget dan marah. Sikap Bosch dinilai berani, sementara Nawat menuai badai kritik dari berbagai negara. Meksiko, Thailand, dan sejumlah komunitas pageant internasional menjadi medan perdebatan sengit.
Di balik semua itu, Bosch memilih tidak memberikan komentar tambahan. Ia tetap melanjutkan kompetisi, meski jelas bahwa luka emosional dari insiden itu masih membekas.
Permintaan Maaf dan Klarifikasi yang Dipertanyakan
Hanya sehari kemudian, Nawat akhirnya muncul di acara penyambutan peserta. Wajahnya tampak lebih tenang ketika ia menyampaikan permintaan maaf terbuka: “Aku harap kalian bisa memahami bahwa tekanannya sangat besar. Aku juga manusia. Kadang aku tidak bisa mengendalikan diri.”
Ia juga menambahkan, “Aku sama sekali tidak berniat menyakiti siapa pun karena aku menghormati kalian semua… Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi.”
Namun kontroversi belum selesai. Di sebuah konferensi pers, Nawat membantah pernah mengatakan “dumb head,” menyatakan bahwa ia sebenarnya berkata “damage.”
“Aku tidak pernah bilang ‘dumb head’, bahkan satu detik pun… Aku bilang ‘damage’. Kalau dia percaya dan mengikuti perintah direktur nasionalnya, itu artinya ‘merugikan’.”
Publik meragukan klarifikasi tersebut. Bahkan setelah itu, melalui Instagram, ia menulis:
“Kebebasan berbicara memang penting, tapi kalau yang diucapkan adalah kebohongan, itu tidak bisa disebut kebebasan berbicara.”
Unggahan itu memicu gelombang reaksi baru—sebagian mendukungnya, sebagian lagi menganggapnya menambah bensin ke api.
Kemenangan di Tengah Badai
Tatkala malam final tiba, tidak ada yang tahu apakah polemik itu akan memengaruhi peluang Fatima Bosch. Namun perempuan ini justru tampil lebih kuat. Ia melewati babak semifinal, peragaan busana renang, dan sesi wawancara dengan kepercayaan diri yang memukau. Dari 120 peserta, ia melaju ke lima besar bersama perwakilan Thailand, Venezuela, Filipina, dan Pantai Gading.
Ketika namanya disebut sebagai Miss Universe 2025, sorak-sorai menggema di arena. Bagi Meksiko, itu adalah momen kebanggaan. Bagi dunia pageant, itu adalah klimaks dari kisah penuh ketegangan yang telah mereka ikuti selama berhari-hari.
Dan bagi Fatima Bosch sendiri, kemenangan itu terasa seperti pernyataan bahwa integritas dan suara seorang perempuan—apa pun tantangannya—tidak akan pernah bisa dibungkam.
Di malam penobatannya, kata-katanya kembali terngiang: “Impian Anda penting… Jangan pernah biarkan siapa pun meragukan harga diri Anda.”
Sebuah pesan yang kini terasa jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










