bukamata.id – Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru kembali menyoroti tantangan besar dunia kerja di Indonesia. Data per Februari 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) masih didominasi oleh generasi muda, khususnya Gen Z, dengan angka mencapai 16 persen.
Menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang atau sekitar 4,76 persen dari total angkatan kerja. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja, lima di antaranya tidak memiliki pekerjaan.
Definisi pengangguran dalam Sakernas mencakup mereka yang aktif mencari kerja, menyiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja tapi belum mulai, hingga mereka yang putus asa karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
Gen Z Mendominasi Pengangguran Nasional
Rentang usia 15–24 tahun, yang sebagian besar masuk kategori Gen Z, menjadi penyumbang angka pengangguran tertinggi. Data Sakernas menyebutkan:
- Usia 15–24 tahun: 16,16 persen
- Usia 25–59 tahun: 3,04 persen
- Usia 60 tahun ke atas: 1,67 persen
Aliansi Ekonom Indonesia juga mengonfirmasi tren serupa. Vivi Alatas, perwakilan aliansi tersebut, menilai kondisi ini sebagai masalah serius.
“Pengangguran usia 15 sampai 24 tahun selama 2016–2024 selalu di atas 15%. Angka ini tiga kali lebih besar dibanding kelompok usia dewasa 25–34 tahun,” ujar Vivi dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (13/9/2025).
Lebih mengkhawatirkan lagi, lebih dari 25 persen anak muda Indonesia disebut tidak produktif, baik karena tidak bekerja, tidak sekolah, maupun tidak mengikuti pelatihan. Kondisi ini, menurut Vivi, terutama banyak dialami oleh perempuan muda.
Lulusan SMK hingga Sarjana Sulit Terserap Pasar Kerja
Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menempati posisi tertinggi dalam angka pengangguran, yaitu 8 persen. Disusul SMA 6,35 persen, serta diploma dan sarjana 6,23 persen.
Berikut rincian TPT menurut tingkat pendidikan per Februari 2025:
- SMK: 8 persen
- SMA: 6,35 persen
- Diploma IV/S1/S2/S3: 6,23 persen
- Diploma I/II/III: 4,84 persen
- SMP: 4,35 persen
- SD ke bawah: 2,32 persen
Angka tersebut menunjukkan, semakin tinggi pendidikan, tidak serta-merta menjamin peluang kerja yang lebih baik.
Jusuf Kalla: Banyak Sarjana Jadi Ojol
Fenomena ini selaras dengan pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK). Saat memberikan sambutan dalam acara wisuda Universitas Indonesia (UI) pada 11 September 2025, JK menyinggung realitas pahit lulusan perguruan tinggi di Indonesia.
“Jangan menjadi beban masyarakat dengan menganggur. Walaupun saya tahu banyak sarjana sekarang ini yang menjadi pengemudi ojol. Walaupun itu mungkin kelihatannya tidak terlalu tinggi. Tapi dia hidup karena itu,” kata JK.
Menurutnya, kondisi pasar kerja saat ini jauh lebih sulit dibanding masa lalu. Pemerintah juga membatasi rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara dunia usaha cenderung stagnan meskipun ada sektor yang berkembang.
“Bekerja sesuai profesi memang pada keadaan ekonomi bangsa seperti ini tidaklah mudah. Ini tantangan yang harus dihadapi semua lulusan,” ujarnya.
JK menekankan pentingnya kreativitas dan kemampuan membaca peluang. Ia bahkan mencontohkan sosok Chairul Tanjung, alumnus UI yang sukses menjadi pengusaha besar dengan modal logika, keterampilan, dan keberanian mengambil risiko.
“Jangan khawatir lurus pada jurusan, tapi lurus pada logika dan kemampuan anda. Itu modal besar,” tutupnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











