bukamata.id – Perbincangan tentang rotasi Bumi kembali muncul setelah beredar klaim bahwa suatu saat panjang satu hari bisa melebihi 24 jam. Meski terdengar mengejutkan, isu ini sebenarnya berangkat dari riset ilmiah jangka panjang yang menelusuri bagaimana planet kita perlahan-lahan mengubah kecepatannya saat berputar.
Bukan perubahan yang akan kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, melainkan proses bertahap yang terjadi dalam skala waktu geologis—rentang yang begitu panjang hingga melampaui umur peradaban modern.
Putaran Bumi: Tidak Sesederhana 24 Jam
Ketika Bumi menyelesaikan satu putaran penuh terhadap bintang-bintang, waktu yang dibutuhkan sekitar 23 jam 56 menit. Itu disebut hari sideris. Namun manusia memakai acuan Matahari untuk mengatur kalender dan jam, sehingga durasi harian disepakati menjadi kira-kira 24 jam.
Perbedaan kecil ini muncul karena Bumi tidak hanya berputar pada porosnya, tetapi juga bergerak mengelilingi Matahari. Akibatnya, dibutuhkan tambahan waktu agar posisi Matahari terlihat sama dari hari ke hari.
Mengapa Rotasi Bumi Bisa Melambat?
Selama milyaran tahun, putaran Bumi bertahap mengalami perlambatan. Penyebab utamanya bukan mesin raksasa atau fenomena misterius, melainkan tarikan gravitasi Bulan.
Pasang surut laut yang dipengaruhi Bulan menciptakan gesekan yang bekerja seperti rem halus. Dampaknya sangat kecil dari tahun ke tahun, tetapi jika dijumlahkan dalam rentang sangat panjang, rotasi Bumi terus menurun kecepatannya.
Perubahan Mikro yang Berdampak Makro
Data pengamatan geofisika menunjukkan bahwa panjang rata-rata hari bertambah sekitar 1,7–2 milidetik setiap abad. Angka ini terdengar sepele, namun inilah dasar ilmiah yang membuat para ahli memperkirakan bahwa pada masa depan yang sangat jauh, durasi sehari bisa mencapai sekitar 25 jam.
Tapi tenang: prediksi ini berada pada kisaran ratusan juta tahun—tidak terjadi dalam kehidupan manusia sekarang, ataupun generasi yang akan datang dalam waktu dekat.
Rotasi Bumi Bisa Berubah Mendadak, Tapi Tidak Terasa
Selain perlambatan jangka panjang, ada faktor yang membuat rotasi Bumi berfluktuasi dalam waktu lebih singkat. Beberapa di antaranya adalah:
- Gempa besar yang mengubah distribusi massa planet
- Pelelehan atau penumpukan es di kutub yang memengaruhi bentuk Bumi
- Gerakan logam cair di inti planet yang memengaruhi momentum rotasi
Fluktuasi ini hanya terjadi dalam hitungan milidetik. Kita tidak merasakan perubahan tersebut, tetapi ilmuwan dan sistem waktu internasional harus mengantisipasinya—misalnya dengan menambahkan leap second agar jam atomik tetap sinkron dengan rotasi Bumi.
Bumi Terus Berputar—Dan Waktu Ikut Mengikutinya
Kesimpulannya, isu tentang sehari yang menjadi 25 jam bukanlah kabar bohong, tetapi prediksi ilmiah yang baru akan relevan pada masa depan yang sangat jauh. Saat ini, jam di dinding rumah, jadwal kerja, hingga kalender internasional masih berjalan nyaman dengan ritme sekitar 24 jam.
Namun bagi para astronom dan ahli geofisika, rotasi Bumi tetap menjadi teka-teki menarik: gerakan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan perubahan kecil yang terus mengubah cara kita menghitung detik demi detik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









