Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bansos PKH September 2026 Belum Cair? Cek Status Penerima Lewat HP Cukup Pakai NIK

Kamis, 1 Oktober 2026 08:26 WIB

Gelarnya Nyaris Lengkap! Desak Made Kembali Harumkan Nama Indonesia Usai Sumbang Emas ke-4 di Asian Games 2026

Kamis, 1 Oktober 2026 07:54 WIB

Rekomendasi Kuliner Malam Bekasi: Tempat Nongkrong & Makan Enak yang Buka Seharian

Kamis, 1 Oktober 2026 06:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bansos PKH September 2026 Belum Cair? Cek Status Penerima Lewat HP Cukup Pakai NIK
  • Gelarnya Nyaris Lengkap! Desak Made Kembali Harumkan Nama Indonesia Usai Sumbang Emas ke-4 di Asian Games 2026
  • Rekomendasi Kuliner Malam Bekasi: Tempat Nongkrong & Makan Enak yang Buka Seharian
  • Bikin Ngiler! 4 Nasi Goreng Bandung dengan Racikan Unik dan Topping Melimpah
  • Kabar Baik Jelang Lawan Port FC, 4 Pemain Persib Kembali Bergabung
  • Rekomendasi 10 Surga Tersembunyi di Kuningan untuk Healing Tenang dan Jauh dari Penat
  • Mengejutkan! Pelatih Kiper Persib Mario Jozic Pulang ke Kroasia, Singgung Soal ‘Masa Depan Tak Jelas’
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 1 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Olahraga

Gelarnya Nyaris Lengkap! Desak Made Kembali Harumkan Nama Indonesia Usai Sumbang Emas ke-4 di Asian Games 2026

By Aga GustianaKamis, 1 Oktober 2026 07:54 WIB6 Mins Read
Desak Made Rita Kusuma Dewi. Foto: Instagram @desakmaderita01.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nama Desak Made Rita Kusuma Dewi kembali mengguncang panggung olahraga internasional. Atlet panjat tebing kebanggaan Indonesia ini sukses mempersembahkan medali emas keempat bagi kontingen Merah Putih pada ajang Asian Games 2026. Tampil di Portmesse Nagoya Exhibition Hall 1, Jepang, Rabu (30/9/2026), Desak membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu ratu speed dunia setelah mencatatkan waktu impresif 6,062 detik di partai puncak. Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan supremasinya di level Asia, tetapi juga sekaligus memecahkan rekor Asian Games dan rekor Asia yang sebelumnya ia pegang sendiri.

Di balik gemerlap medali emas yang dikalungkan di lehernya, tersimpan sebuah narasi panjang tentang ketangguhan mental, dinamika pembinaan atlet nasional, hingga pasang surut dukungan yang mewarnai perjalanan sang juara. Artikel feature mendalam ini mengupas tuntas perjalanan sang atlet kebanggaan Bali, mulai dari detik-detik menegangkan di Nagoya hingga lika-liku di balik layar olahraga panjat tebing Indonesia.

Menaklukkan Nagoya: Ketegangan di Babak Penentuan

Perjalanan Desak Made menuju podium tertinggi di Aichi-Nagoya 2026 tidak diraih dengan mudah. Sejak babak perempat final, atmosfer persaingan sudah terasa begitu ketat. Tampil di heat keempat, perlombaan sempat diwarnai drama ketika atlet Korea Selatan, Sung Hanareum, didiskualifikasi akibat melakukan false start. Memanfaatkan situasi tersebut, Desak tampil tenang dan mengunci catatan waktu 6,39 detik untuk melangkah mulus ke babak semifinal.

Namun, ketegangan semakin memuncak di babak semifinal. Rekan senegaranya, Berthdigna Devi Surya Kusuma, yang tampil di heat pertama, sempat menghadapi penundaan akibat kendala teknis yang menghentikan jalannya pertandingan untuk sementara waktu. Setelah persoalan teknis tersebut diselesaikan, perlombaan dilanjutkan, namun sayangnya langkah Devi harus terhenti dan gagal melangkah ke partai puncak.

Tidak ingin terpengaruh oleh insiden di heat pertama, Desak tampil sangat dominan di heat kedua semifinal. Berada di Line 3, ia melesat bak kilat begitu bel berbunyi dan membukukan catatan waktu 6,36 detik. Angka tersebut menjadi yang tercepat di antara seluruh semifinalis, sekaligus memastikan tiket ke babak final nomor speed putri dalam genggamannya.

Baca Juga:  15 Negara Berebut Medali, Ini Jadwal Lengkap Sepak Bola Asian Games 2026

Partai puncak mempertemukan Desak dengan wakil kuat asal China, Deng Lijuan. Ketegangan mencapai puncaknya ketika laga final nyaris diwarnai drama susulan; lawan mainnya yang berada di Line 4 sempat melakukan false start. Di jalur sebelah, Desak tetap fokus penuh pada dinding vertikal di hadapannya. Begitu aba-aba dibunyikan, ia mengerahkan seluruh tenaga dan teknik sempurnanya, menyentuh tombol finis di angka 6,062 detik. Ia unggul tipis dari Deng Lijuan yang mencatat waktu 6,064 detik. Sementara itu, medali perunggu diamankan oleh atlet Korea Selatan, Jeong Jimin, dengan catatan waktu 6,18 detik.

Kemenangan dramatis dengan selisih dua milidetik ini langsung memantik reaksi emosional dari para pendukung Indonesia. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir turut menyampaikan apresiasi tinggi melalui media sosialnya:

“Medali Emas Keempat untuk Indonesia! Luar biasa, Desak Made Rita Kusuma Dewi! Terima kasih sudah berjuang, menaklukkan setiap detik, dan mengumandangkan Indonesia Raya di pentas internasional.”

Riuh Polemik Dukungan: Dari Krakow hingga Klarifikasi Publik

Sebelum gemerlap kemenangan di Nagoya, nama Desak Made sempat menjadi pusat perhatian publik akibat pernyataan kontroversialnya usai merajai World Climbing Series Krakow 2026 di Polandia, awal Juli lalu. Saat itu, ia sukses merebut medali emas nomor speed individu putri dengan catatan waktu 6,54 detik, mengalahkan nama-nama besar dunia seperti Natalia Kalucka dan Aleksandra Miroslaw dari Polandia, serta Emma Hunt dari Amerika Serikat.

Namun, di tengah euforia kemenangan bersejarah di Eropa tersebut, Desak secara terbuka mengungkapkan kendala non-teknis yang dhadapinya sebelum keberangkatan. Dalam wawancara seusai pertandingan, ia menyebutkan bahwa tim sempat menghadapi kesulitan karena minimnya dukungan finansial dari pemerintah. Pernyataan tersebut langsung viral dan memicu perdebatan luas di jagat maya. Warganet mempertanyakan komitmen negara terhadap atlet elite yang berjuang mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.

Beberapa hari berselang, Desak mengeluarkan pernyataan klarifikasi resmi melalui akun media sosialnya. Ia menegaskan bahwa ucapannya sama sekali tidak dimaksudkan sebagai bentuk kritik menjatuhkan kepada pihak mana pun, melainkan sebagai wujud ekspresi determinasi seorang atlet dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tetap memberikan dukungan berarti bagi perjalanan para atlet nasional.

Baca Juga:  Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Turun di 21 Cabor, Esports Mulai Buru Medali

Kendati demikian, klarifikasi tersebut justru menuai reaksi beragam dari warganet. Kolom komentar di akun Instagram pribadinya dibanjiri dukungan moral. Sebagian besar publik berpendapat bahwa seorang atlet berprestasi tinggi berhak menyuarakan kondisi riil di lapangan demi perbaikan sistem olahraga nasional secara menyeluruh.

Penjelasan FPTI: Realitas “Pelatnas Prihatin” di Tengah Efisiensi Anggaran

Polemik seputar dukungan finansial ini akhirnya menemui titik terang setelah Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, angkat bicara. Ia membenarkan bahwa sebelum keberangkatan tim ke Polandia dan rangkaian seri Piala Dunia lainnya, sempat terjadi ketidakpastian anggaran akibat kebijakan efisiensi nasional.

“Iya, jadi memang ini dampak dari pemotongan anggaran yang sampai 70 persen. Jadi semua jadi dikurangi budget-nya. Cuma kami sudah memperjuangkan, dan dari Kemenpora juga mencoba membantu semampunya mereka,” jelas Yenny.

Yenny mengungkapkan bahwa FPTI harus memutar otak dan bekerja ekstra keras agar program pembinaan atlet tetap berjalan. Keterbatasan anggaran memaksa federasi merombak sistem pemusatan latihan nasional (pelatnas) menjadi format yang lebih efisien, atau yang ia sebut sebagai “pelatnas prihatin”. Meskipun dukungan akhirnya cair menjelang detik-detik keberangkatan atlet ke luar negeri, ketidakpastian semacam ini dikhawatirkan dapat mengganggu konsentrasi mental para atlet yang seharusnya bisa fokus penuh pada latihan dan teknik.

Suara dan Apresiasi Netizen: Ketajaman Teknik hingga Harapan untuk Masa Depan Atlet

Aksi gemilang Desak di jalur panjat tebing tidak lepas dari pengamatan jeli para pecinta olahraga di tanah air. Banyak warganet yang takjub melihat bagaimana Desak mampu mengatur strategi di detik-detik akhir perlombaan, yang seringkali membuahkan hasil dramatis namun manis.

Gelombang dukungan dan desakan apresiasi pun mengalir deras di media sosial untuk sang atlet andalan Indonesia. Salah satu komentar netizen yang mewakili perasaan publik menyita banyak perhatian:

Baca Juga:  Dapat 5 Medali Sekaligus, Indonesia Malah Terjun ke Peringkat 23 Asian Games 2026

“Desak itu cerdik. Dia keliatan paling akhir tp plg cepet gapai tombol. Pak @erickthohir Desak ini tittle nya sudah hampir lengkap. Tinggal Olimpiade aja. Jarang2 atlet yg prestasinya spt itu lho Pak. Kemenpora ga pengen do something good buat atlet2 seprestisius itu apa Pak? Biar jadi pemantik semangat bagi atlet2 lain spy kejar prestasi spt Desak,” ujar netizen.

Komentar tersebut merefleksikan harapan besar publik agar prestasi luar biasa yang ditorehkan oleh atlet sekaliber Desak Made mendapatkan perhatian, penghargaan, serta jaminan pembinaan jangka panjang yang setimpal dari negara melalui Kemenpora.

Profil Singkat: Dari Buleleng untuk Indonesia

Lahir di Buleleng, Bali, pada 24 Januari 2001, Desak Made Rita Kusuma Dewi telah mendedikasikan sebagian besar masa mudanya untuk dunia panjat tebing. Mengenal olahraga ekstrem ini sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia menempa diri melalui disiplin latihan yang ketat hingga menjelma menjadi salah satu atlet speed paling konsisten di planet ini.

Deretan prestasi internasional yang telah ia kumpulkan mencakup medali emas di berbagai ajang bergengsi:

  • Medali Emas Asian Games 2026 (Nagoya, Jepang)
  • Medali Emas World Climbing Series 2026 (Krakow, Polandia)
  • Medali Emas Piala Dunia IFSC 2025 (Krakow)
  • Medali Emas Kejuaraan Dunia 2023 (Bern, Swiss)
  • Medali Emas Asian Games Hangzhou 2022
  • Medali Emas World Games 2025 (Chengdu, China)
  • Medali Emas Kejuaraan Asia 2026 (Meishan, China)
  • Medali Emas Asian Beach Games 2026 (Sanya, China)

Konsistensi di atas dinding vertikal setinggi 15 meter menempatkan Desak sebagai ikon baru olahraga Indonesia. Keberhasilannya di Nagoya tidak hanya memperkaya perolehan medali kontingen Merah Putih, tetapi juga menjadi pengingat penting bahwa di balik setiap catatan waktu yang memecahkan rekor dunia, terdapat ketahanan mental luar biasa dari seorang atlet putri asal Bali yang terus berjuang membawa nama Indonesia berdiri di puncak tertinggi dunia.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Asian Games 2026 Desak Made Rita Panjat Tebing Indonesia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Rekor Asia Pecah! Desak Made Persembahkan Emas Ke-4 Indonesia di Asian Games 2026

Sisihkan Ratusan Pemain! Kisah Inspiratif Anak Bandung yang Sukses Pikat Pemandu Bakat Barcelona

Garuda di Ujung Taduk! Menang Atas Bangladesh Belum Cukup, Ini Skenario Lolos Final

Jadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Laga Penentu Juara Grup A

Garuda Kembali Beraksi! Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Jam Mainnya

Piala Dunia 2026 Bawa Petaka Privasi? Curhatan Jujur Vozinha yang Kehilangan Ketenangan

Terpopuler
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Lirik Pemimpin Muda Otentik untuk Jabar, Gema Bangsa Pasang Target Mutlak di Pemilu 2029
  • Penuhi Panggilan Sidang PT BDS, Bupati Dadang Supriatna Tegaskan Posisi Pemegang Saham
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.