bukamata.id – Jalan Asia Afrika di jantung Kota Bandung bukan sekadar ruas lalu lintas biasa. Kawasan ini menyimpan nilai sejarah tinggi sebagai lokasi digelarnya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955, sekaligus menjadi salah satu jalan tertua dan paling ikonik di kota berjuluk Paris van Java ini.
Sejak masa penjajahan Belanda, jalur ini telah menjadi poros utama transportasi dan dikenal sebagai bagian dari proyek besar Daendels, Jalan Raya Pos (Groote Postweg), yang membentang dari Anyer hingga Panarukan sejauh 1.000 kilometer.
Pembangunannya melibatkan kerja keras rakyat pribumi dan menjadi simbol sejarah pergerakan zaman.
Sebelum bernama Jalan Asia Afrika, kawasan ini pernah dikenal dengan sebutan Jalan Raja Timur. Namun, perhelatan akbar Konferensi Asia Afrika pada April 1955 menjadi tonggak perubahan nama sekaligus memperkuat identitas kawasan ini sebagai titik penting dalam diplomasi dunia.
Kini, Jalan Asia Afrika menjelma menjadi magnet wisata kota. Keindahan bangunan bergaya Art Deco yang masih terawat menghadirkan suasana vintage yang memikat.
Tak heran, tempat ini kerap menjadi lokasi berfoto favorit para pelancong, hingga menjadi spot populer untuk sesi foto prawedding.
Jalan ini juga dikenal sebagai titik nol kilometer Kota Bandung, menandai pusat awal perkembangan wilayah kota.
Salah satu spot ikoniknya adalah jembatan penyeberangan orang (JPO) dengan kutipan puitis dari M.A.W Brouwer yang berbunyi, “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” Kutipan ini seolah menjadi gambaran tepat akan pesona dan kehangatan Kota Bandung.
Dari masa kolonial hingga era modern, Jalan Asia Afrika tetap berdiri sebagai saksi perjalanan waktu.
Tak hanya menyimpan memori sejarah, tapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang kaya akan budaya dan keindahan arsitektur klasik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










