bukamata.id – Jawa Barat (Jabar) menjadi provinsi dengan angka kejadian bencana hidrometeorologi tertinggi di Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 10 Maret 2025.
Hal ini diungkapkan oleh Plt. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, Anne Hermadiane Adnan, di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Selasa (11/3/2025).
Menurut Anne, sejak awal tahun 2025, sembilan daerah di Jabar telah ditetapkan dalam status tanggap darurat akibat berbagai bencana.
Daerah-daerah tersebut meliputi Indramayu yang terdampak banjir, Tasikmalaya yang mengalami pergerakan tanah, serta Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi yang dilanda banjir. Selain itu, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bandung juga mengalami bencana banjir dan longsor.
“Berdasarkan data BNPB, Jawa Barat saat ini menempati urutan pertama sebagai provinsi dengan kejadian bencana hidrometeorologi tertinggi di Indonesia dari 1 Januari hingga 10 Maret 2025,” ujar Anne.
Antisipasi Hujan Lebat dengan Modifikasi Cuaca
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa periode 11 hingga 20 Maret 2025 akan diwarnai hujan dengan intensitas tinggi di seluruh wilayah Jabar. Sebagai langkah mitigasi, BPBD Jabar bekerja sama dengan BMKG, TNI AU, dan Pemprov Jabar melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi dampak bencana.
“Daya tampung sungai dan tanah di Jabar sudah jenuh. Walaupun intensitas hujannya sama dengan sebelumnya, potensi banjir tetap tinggi karena daya serap tanah sudah berkurang,” jelas Anne.
Modifikasi cuaca ini bertujuan untuk mengurangi intensitas hujan dengan mengalihkan sebagian curah hujan ke laut. Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir risiko bencana hidrometeorologi di daerah yang sudah rentan terdampak.
Teknik Modifikasi Cuaca dengan Penyemaian Garam
Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa operasi ini dilakukan dengan menerbangkan pesawat milik TNI AU dari Bandara Husein Sastranegara untuk menaburkan garam pada awan. Teknik ini bertujuan untuk menurunkan intensitas hujan sebelum awan mencapai wilayah yang berisiko tinggi terkena bencana.
“Modifikasi cuaca ini tidak bertujuan untuk menghilangkan hujan, tetapi untuk mengurangi intensitasnya. Kami mempercepat proses turunnya hujan agar awan tidak berkembang lebih besar di daerah rawan bencana. Diperkirakan, curah hujan dapat berkurang antara 30-60 persen,” ungkap Tri Handoko.
Dengan langkah-langkah antisipatif ini, diharapkan potensi bencana hidrometeorologi di Jawa Barat dapat ditekan, sehingga dampak buruk terhadap masyarakat dapat diminimalisir.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










