bukamata.id – Nama Bonnie Blue kembali memantik amarah publik Indonesia. Sosok kreator konten dewasa asal Inggris ini kembali menjadi sorotan setelah sebuah video provokatif yang menampilkan dirinya di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, Bonnie Blue terlihat menyeret bendera Merah Putih di trotoar, sebuah tindakan yang dinilai banyak pihak sebagai penghinaan terhadap simbol kedaulatan negara.
Namun, kontroversi ini tidak berdiri sendiri. Aksi tersebut menjadi potret paling mutakhir dari perjalanan panjang Bonnie Blue—atau Tia Billinger—yang sejak awal kariernya kerap membangun popularitas lewat sensasi, pelanggaran batas, dan provokasi yang berulang.
Video yang memicu kemarahan publik Indonesia itu pertama kali viral setelah diunggah ulang oleh sejumlah akun media sosial, salah satunya akun Instagram @canggulosophy. Rekaman malam hari tersebut memperlihatkan Bonnie Blue berjalan santai di trotoar tepat di depan gedung KBRI London. Ia mengenakan rok, sementara sehelai bendera Merah Putih diselipkan di bagian belakang tubuhnya hingga menjuntai dan terseret di permukaan jalan.
Adegan tersebut sontak memicu reaksi keras. Bagi masyarakat Indonesia, bendera Merah Putih bukan sekadar kain dua warna, melainkan simbol perjuangan, pengorbanan, dan harga diri bangsa. Perlakuan Bonnie yang menyeretnya di jalanan dianggap sebagai bentuk pelecehan yang disengaja dan merendahkan.
Situasi semakin kontroversial karena Bonnie tidak sendirian. Ia berjalan di antara sekelompok pria yang mengenakan penutup kepala. Mereka terdengar memberi sorakan dan dukungan, seolah menjadi bagian dari produksi konten tersebut. Hal ini memperkuat dugaan bahwa aksi itu bukan spontan, melainkan dirancang untuk memancing perhatian.
Dalam potongan video yang sama, Bonnie Blue melontarkan pernyataan yang mengaitkan tindakannya dengan pengalaman masa lalunya di Indonesia. Ia menyebut pernah didenda dan dituduh menghina budaya Bali.
“Saya datang ke sini untuk membayar denda karena sebelumnya saya dianggap menghina budaya Bali. Tidak apa-apa, di sini saya akan tunjukkan apa yang para pria ini lakukan kepada saya yang jauh lebih menghina,” ucapnya dikutip Selasa (23/12/2025).
Ia bahkan mengakui pemilihan lokasi di depan KBRI London dilakukan secara sadar. “Dan saya pilih lokasi ini, agar mereka bisa menyaksikannya,” katanya dengan nada menantang.
Ucapan tersebut membuat banyak pihak menilai bahwa aksi ini bukan sekadar konten provokatif, melainkan ekspresi dendam dan perlawanan yang diarahkan langsung kepada Indonesia, dengan simbol negara dijadikan alat sensasi.
Untuk memahami mengapa Bonnie Blue berulang kali terjerat kontroversi lintas negara, publik pun kembali menoleh ke latar belakang hidupnya. Bonnie Blue adalah nama panggung dari Tia Billinger, perempuan kelahiran 1999 di Stapleford, Nottinghamshire, Inggris. Sebelum dikenal luas sebagai figur kontroversial, hidupnya jauh dari sorotan.
Ia pernah bekerja di bidang rekrutmen keuangan untuk National Health Service (NHS) Inggris. Di luar pekerjaannya, ia mengajar tari—balet, freestyle, hingga tap dance. Kehidupan pribadinya kala itu terbilang stabil. Ia bahkan sempat menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga yang relatif normal.
Namun, pernikahan tersebut berakhir pada 2021. Perceraian itu menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Sejak saat itu, Tia Billinger perlahan bertransformasi menjadi Bonnie Blue dan banting setir ke industri hiburan dewasa. Keputusan ini membawanya pada popularitas luar biasa—sekaligus kontroversi tanpa henti.
Pada 2023, di usia 24 tahun, Bonnie memulai debutnya di platform OnlyFans. Hasilnya nyaris instan. Dalam minggu pertama, ia mengklaim memperoleh US$5.000. Di bulan pertama, pendapatannya melonjak hingga US$10.000. Kesuksesan ini mendorongnya fokus penuh pada konten dewasa.
Dalam waktu singkat, Bonnie Blue menjelma menjadi salah satu kreator OnlyFans teratas. Pendapatan bulanannya dikabarkan mencapai US$900.000 atau sekitar Rp15 miliar. Ia tampil di berbagai platform dewasa lain dan masuk nominasi ajang penghargaan film dewasa internasional seperti XMA Fan Awards 2025.
Namun, kesuksesan itu datang bersama pola kontroversi yang konsisten. Bonnie kerap menciptakan konten ekstrem, melibatkan banyak pria, dan selalu menegaskan bahwa usia para kolaborator telah diverifikasi. Meski demikian, tindakannya berulang kali memicu masalah hukum.
Sebelum kasus di Indonesia, Bonnie dilaporkan pernah dideportasi dari Fiji dan Australia pada 2024 karena memproduksi konten dewasa yang dianggap melanggar aturan setempat. Di Bali, ia kembali bermasalah. Penangkapannya terkait dugaan pelanggaran izin tinggal dan norma budaya lokal. Kasus tersebut berujung pada deportasi dan larangan masuk ke Indonesia selama 10 tahun.
Alih-alih meredam langkahnya, pengalaman itu justru tampak menjadi bagian dari narasi personal yang ia gunakan untuk membangun citra pemberontak. Pada Januari 2025, ia kembali menggegerkan dunia maya dengan klaim telah berkencan dengan 1.057 pria dalam waktu 12 jam di sebuah mansion mewah di London. Aksi tersebut diklaim sebagai upaya memecahkan rekor dunia, meski tidak diakui Guinness World Records.
Meski menuai kritik, cerita itu viral dan mendatangkan keuntungan besar. Bahkan, kisah tersebut diangkat menjadi dokumenter Channel 4 berjudul “1000 Men and Me: The Bonnie Blue Story” yang dirilis pada Juli 2025.
Dalam konteks inilah, aksi menyeret bendera Merah Putih di depan KBRI London dipandang banyak pihak sebagai kelanjutan dari pola lama. Bonnie Blue kembali menggunakan simbol, kontroversi, dan kemarahan publik sebagai bahan bakar eksistensi. Bedanya, kali ini yang dijadikan objek sensasi adalah simbol negara lain—sebuah tindakan yang menyentuh ranah martabat dan kedaulatan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari KBRI London maupun Kementerian Luar Negeri RI. Namun, tekanan publik terus menguat. Bagi masyarakat Indonesia, tindakan Bonnie Blue bukan sekadar konten viral, melainkan penghinaan simbolik terhadap bangsa.
Kisah Bonnie Blue menunjukkan bagaimana perjalanan hidup, pilihan karier, dan strategi mencari perhatian dapat berkelindan hingga melampaui batas etika dan budaya. Dari pegawai NHS dan pengajar tari, ia berubah menjadi figur global yang hidup dari sensasi—dan dalam prosesnya, meninggalkan jejak kontroversi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








