bukamata.id – Musim kemarau berdampak terhadap sektor perikanan di kawasan Waduk Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Penyusutan volume air waduk memicu penurunan kualitas perairan yang berimbas pada kemerosotan hasil panen ikan dari keramba jaring apung (KJA).
Dampak tersebut dirasakan langsung para pelaku usaha perikanan, termasuk Enuh (45), distributor ikan di Dermaga Gandasoli, Desa Margalaksana, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat.
Enuh mengungkapkan, penurunan produksi ikan menjadi persoalan yang semakin membebani aktivitas usaha di tengah kondisi kemarau. Selain berkurangnya hasil panen, para pembudidaya juga menghadapi risiko kematian ikan akibat perubahan kondisi perairan.
“Target produksi ikan berkurang,” kata Enuh kepada Tim PR di Gandasoli, Kamis (8/10/2026).
Menurut Enuh, menyusutnya permukaan air membuat kondisi lingkungan budidaya semakin rentan terhadap penyebaran penyakit dan serangan virus. Akibatnya, kematian ikan dilaporkan terjadi setiap hari dan meningkatkan risiko kerugian bagi para peternak.
Di wilayah Gandasoli, tingkat kematian ikan diperkirakan mencapai 10 hingga 20 kilogram per hari pada setiap unit keramba. Kondisi ini membuat pembudidaya harus mencari cara untuk menekan kerugian agar usaha mereka tetap bertahan.
Peternak KJA Waduk Cirata Beralih ke Ikan Lele
Untuk mengurangi risiko kematian ikan, sejumlah pelaku usaha keramba jaring apung mulai melakukan efisiensi dengan mengganti jenis ikan yang dibudidayakan.
Ikan mas dan nila yang dinilai sensitif terhadap perubahan kualitas air mulai ditinggalkan oleh sebagian pembudidaya. Sebagai alternatif, mereka beralih memelihara ikan lele yang dianggap lebih tahan terhadap kondisi lingkungan dan serangan penyakit tertentu.
Meski demikian, perubahan komoditas belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kerugian. Tingginya angka kematian ikan dan menurunnya hasil panen tetap membayangi keberlangsungan usaha perikanan di kawasan Waduk Cirata.
Enuh menilai penguatan permodalan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelaku usaha agar mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi selama musim kemarau.
Tanpa dukungan modal yang memadai, pembudidaya akan semakin kesulitan mempertahankan operasional, terutama ketika hasil panen tidak sesuai target dan biaya produksi tetap harus ditanggung.
Produksi Ikan KJA Bandung Barat Turun 902 Ton
Penurunan produksi ikan keramba jaring apung selama musim kemarau juga dikonfirmasi Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti.
Menurut Wiwin, dampak kekeringan tidak hanya dirasakan di Waduk Cirata, tetapi juga terjadi di kawasan Waduk PLTA Saguling.
Berdasarkan pencatatan Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Bandung Barat, produksi ikan KJA pada Triwulan I 2025 mencapai 9.922 ton. Sementara itu, pada periode yang sama tahun 2026, produksinya turun menjadi 9.020 ton.
Dengan demikian, produksi ikan KJA tercatat menyusut sebanyak 902 ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Khusus di Waduk Cirata, Disnakan KBB memperkirakan penurunan produksi ikan KJA berada pada kisaran 10–20 persen, dengan estimasi sementara sekitar 15 persen akibat penyusutan volume air selama musim kemarau.
“Untuk Waduk Cirata secara khusus, kami memperkirakan penurunan produksi ikan KJA sekitar 10-20 persen, dengan taksiran sementara sekitar 15 persen akibat penyusutan volume air selama musim kemarau,” kata Wiwin.
Meski demikian, Wiwin menegaskan bahwa perkiraan tersebut masih memerlukan verifikasi melalui pemeriksaan lapangan lebih lanjut. Tingkat penurunan produksi dapat berbeda di setiap lokasi, bergantung pada kedalaman air, kualitas perairan, serta aktivitas budidaya yang berlangsung.
Penyusutan Air Waduk Cirata Ganggu Pertumbuhan Ikan
Wiwin menjelaskan, penurunan volume air Waduk Cirata berpotensi memperburuk kualitas lingkungan perairan dan mengganggu kegiatan budidaya ikan.
Dampaknya meliputi terbatasnya ruang budidaya, melambatnya pertumbuhan ikan, hingga meningkatnya risiko kematian bibit. Perubahan kondisi perairan juga menjadi tantangan bagi pembudidaya dalam menjaga produktivitas keramba.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas, Disnakan KBB terus mengoptimalkan pemantauan kondisi lingkungan perairan dan hasil produksi harian.
Petugas lapangan juga meningkatkan pendampingan teknis kepada pembudidaya. Pendampingan tersebut mencakup penyesuaian kepadatan ikan dalam keramba, efisiensi pemberian pakan, serta pengaturan kembali jadwal siklus budidaya agar sesuai dengan kondisi perairan.
Selain itu, koordinasi dengan pengelola waduk dan instansi terkait dinilai penting untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap keberlangsungan sektor perikanan.
“Koordinasi dengan pengelola waduk dan pihak terkait juga penting untuk mengantisipasi dampak kekeringan,” ujar Wiwin.
Penurunan produksi ikan di Waduk Cirata dan Saguling menjadi tantangan bagi pembudidaya maupun pemerintah daerah. Pemantauan kualitas air, penyesuaian pola budidaya, serta dukungan bagi pelaku usaha diperlukan untuk menekan risiko kerugian selama musim kemarau berlangsung.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










