bukamata.id – Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya meningkatkan daya saing madrasah dengan memanfaatkan teknologi digital dalam pengawasan.
Dalam 100 hari pertama kepemimpinan Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Wakil Menteri Agama Romo HR Muhammad Syafi’i, Kemenag memperkenalkan platform Madrasah Digital Supervision (MAGIS) sebagai solusi pengawasan berbasis digital yang lebih efektif dan efisien.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amin Suyitno, menyampaikan bahwa sistem ini dirancang untuk mempermudah proses pengawasan, evaluasi, serta perencanaan pendampingan bagi satuan pendidikan madrasah.
Dengan MAGIS, pengawasan madrasah kini bisa dilakukan secara digital, memungkinkan pengawas atau pendamping untuk melaksanakan tugas dengan lebih sistematis dan terstruktur.
“Dengan sistem ini, para pengawas dapat melakukan refleksi dan menyusun rencana pendampingan dengan cara yang lebih sederhana dan efisien. Potensi penghematan biaya bisa mencapai hingga Rp680 miliar,” ujar Amin Suyitno, dikutip dari laman resmi Kemenag, Sabtu (8/2/2025).
Selain untuk pengawas, platform ini juga memberikan manfaat bagi kepala madrasah, yang dapat menggunakannya untuk mengevaluasi pengelolaan madrasah serta melakukan perbaikan berbasis data.
“Melalui refleksi berbasis digital, kepala madrasah dapat terus mengembangkan inovasi sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan,” tambahnya.
MAGIS juga memberikan keuntungan besar bagi para guru. Mereka dapat melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran di kelas dan mengimplementasikan inovasi yang lebih sesuai.
“Guru juga dapat berkonsultasi dengan pengawas jika mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran, sehingga platform ini dapat digunakan secara lebih terstruktur dan efisien,” jelasnya.
Amin Suyitno berharap seluruh pengawas, kepala madrasah, dan guru dapat memanfaatkan MAGIS sebaik-baiknya untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah.
Sementara itu, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa MAGIS adalah inovasi strategis untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas pengawasan madrasah.
“Dengan platform ini, pengawasan madrasah menjadi lebih akuntabel dan dapat menghemat anggaran hingga lebih dari Rp680 miliar dalam setahun,” ungkap Thobib.
Menurut Thobib, penghematan terbesar berasal dari pengurangan biaya fotokopi borang pengawasan. Dengan 86.343 lembaga madrasah, estimasi penghematan biaya fotokopi mencapai Rp259 miliar.
Selain itu, penghematan juga terjadi pada biaya transportasi pengawas yang diperkirakan mencapai Rp421 miliar. Perhitungan ini didasarkan pada jumlah pengawas yang ada, yaitu 4.680 orang, dengan biaya perjalanan pulang-pergi sekitar Rp500.000 per bulan, serta rata-rata kunjungan ke 15 madrasah per tahun.
“Jadi, dengan MAGIS, pengawasan madrasah dapat dilakukan secara digital, dan potensi penghematan total mencapai Rp680 miliar lebih,” tegas Thobib.
Thobib berharap kehadiran MAGIS dapat mempercepat peningkatan kualitas pendidikan madrasah, menjadikan madrasah semakin unggul, dan berdaya saing tinggi.
“Dengan transformasi digital melalui MAGIS, Kemenag berkomitmen menciptakan sistem pengawasan madrasah yang lebih adaptif, inovatif, dan berbasis data untuk meningkatkan kualitas pendidikan madrasah di seluruh Indonesia,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










