bukamata.id – Sosok Ridwan Kamil kembali didorong untuk bisa mendampingi Prabowo Subianto di kontestasi Pilpres 2024.
Hal ini tidak terlepas dari namanya yang ‘harum’ di samping pernah menduduki posisi strategis di Jawa Barat sehingga diyakini bisa mendongkrak suara pemilih di tempat itu.
Kendati begitu, Partai Golkar, partai politik yang dimasukinya, tidak merestui Ridwan Kamil menjadi bakal cawapres Menteri Pertahanan RI tersebut.
Emil, sapaan Ridwan Kamil, ditugaskan partai untuk berkontestasi pada pemilihan gubernur antara wilayah Jakarta atau Jawa Barat lagi.
Ridwan Kamil sendiri hanya satu dari sekian banyak ‘urang Sunda’ yang ditokohkan di samping punya kiprah di dunia politik maupun pemerintahan.
Jauh sebelum Ridwan Kamil terdapat juga orang Sunda yang namanya terangkat hingga kancah nasional. Contohnya adalah Umar Wirahadikusumah.
Bahkan Umar mempunyai posisi strategis di dunia politik dan pemerintahan semasa hidup. Dia diketahui pernah menjadi Wakil Presiden ke-4 yang mendampingi Presiden ke-2 RI, Soeharto.
Umar terlahir pada 10 Oktober 1924 di Situraja, Sumedang, Jawa Bara dari pasangan Raden Rangga Wirahadikusumah dan Raden Ratnaningrum.
Status keluarga bangsawan membuatnya bisa menempuh pendidikan di masa pemerintahan kolonial Belanda. Meski begitu, Umar dewasa berkarir di dunia militer.
Itu pula yang mengantarnya menjadi salah satu jenderal TNI hingga karirnya terangkat menjadi wakil presiden semasa pemerintahan Soeharto.
Karir militernya bermula dari pelatihan Dai Nippon, Seinendojo, di Tangerang. Dia kemudian memasuki Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) pada 1943.
Meskipun pasukan-pasukan itu berafiliasi dengan Jepang, namun di kemudian hari Umar bergabung Tentara Keamanan Rakyat yang menjadi cikal bakal TNI.
Pengalaman militer Umar bertambah tatkala ditugaskan di Jawa Barat dengan penempatan di Kodam III/Siliwangi.
Di tempat tersebut karirnya melesat setelah menumpas pemberontakan PKI tahun 1948 serta membantu memerangi PRRI di Sumatera.
Di Kodam III/Siliwangi pula, dia pernah menjadi ajudan Abdul Haris Nasution saat menjabat komandan divisi.
Umar pula tercatat pernah menjabat Panglima Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam V/Djayakarta) pada 1959.
Dia pun tercatat mendukung Soeharto yang memutuskan mengambil Angkatan Darat sebagai usaha menindak usaha kudeta saat peristiwa Gerakan 30 September (G30S).
Karena dugaan perisitwa itu didukung oleh PKI, Umar pula menyetujui pembentukan KAP-GESTAPU untuk membasmi PKI.
Di masa orde baru, Umar menjadi salah satu orang kepercayaan Soeharto. Karirnya pun melejit di dunia militer hingga pemerintahan.
Dia tercatat menjadi Panglima Kostrad menggantikan Soeharto. Lalu dia juga pernah menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat sebelum ditunjuk kemudian menjadi kepalanya.
Pada 1973, Umar pensiun dari dunia militer. Namun dirinya mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai Ktua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama 10 tahun.
Setelah itu, pada 1983 dirinya dipilih menjadi wakil presiden untuk mendampingi Soeharto yang kembali ditetapkan menjadi presiden oleh MPR.
Dia menjalani jabatan dari tanggal 11 Maret 1983 dan lengser lima tahun kemudian tepat di tanggal tersebut pada 1988.
Usai itu dirinya tidak lagi aktif di dunia politik, hingga akhirnya pada 21 Maret 2003, Umar dinyatakan meninggal karena masalah kesehatan di RSPAD Gatot Subroto.
Umar sendiri hanyalah satu dari sekian banyak orang Sunda yang berhasil berkancah di panggung nasional.
Kini kesempatan untuk ‘orang Sunda’ mungkin ada lagi pada tangan Ridwan Kamil setelah jabatan wakil presiden di masa Umar Wirahadikusumah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










