bukamata.id – Di tengah hiruk-pikuk linimasa media sosial, sebuah kisah cinta dari Kota Prabumulih, Sumatra Selatan, mendadak mencuri perhatian publik. Bukan sekadar pernikahan biasa, melainkan sebuah cerita lintas negara yang mempertemukan dua latar budaya berbeda—Indonesia dan Australia—dalam satu ikatan suci. Sosok mempelai wanita yang anggun, mempelai pria asal negeri kanguru, serta mahar bernilai fantastis menjadi kombinasi yang membuat kisah ini viral dalam waktu singkat.
Pernikahan tersebut menyatukan Princessilia Edsha Rianto (27), perempuan asal Prabumulih, dengan Christopher John Laffy (32), pria berkewarganegaraan Australia. Akad nikah berlangsung pada Senin, 29 Desember 2025, di Kota Prabumulih. Informasi ini pertama kali ramai dibagikan oleh akun media sosial lokal dan kemudian menyebar luas ke berbagai platform, memancing rasa penasaran warganet dari berbagai daerah.
Sorotan publik tak hanya tertuju pada perbedaan latar belakang keduanya, tetapi juga pada mahar pernikahan yang disebut-sebut mencapai nilai miliaran rupiah. Dalam prosesi sakral tersebut, Christopher menyerahkan mas kawin berupa uang tunai Rp1,2 miliar, sebuah rumah mewah senilai Rp10,8 miliar, emas seberat 8,9 gram, serta berlian. Nilai mahar yang luar biasa ini sontak memicu berbagai reaksi, mulai dari kekaguman hingga perbincangan hangat soal makna mahar dalam pernikahan.
Namun, di balik angka-angka fantastis itu, tersimpan cerita yang jauh lebih dalam tentang keseriusan, komitmen, dan penghormatan lintas budaya. Christopher tidak datang sendiri ke Prabumulih. Ia memboyong seluruh keluarga besarnya dari Australia untuk menghadiri pernikahan tersebut. Kehadiran keluarga mempelai pria ini menjadi simbol kuat bahwa pernikahan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan ikatan yang disambut dan direstui oleh kedua belah pihak.
Bagi masyarakat setempat, langkah Christopher dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap adat dan keluarga besar Princessilia. Di tengah perbedaan bahasa, budaya, dan kebiasaan, pernikahan ini justru memperlihatkan bagaimana dua dunia bisa bertemu tanpa saling meniadakan identitas masing-masing.
Kisah cinta keduanya sendiri bukanlah cerita instan. Hubungan mereka mulai memasuki tahap serius sejak Agustus 2025. Pada momen penting itu, Christopher memutuskan untuk memeluk agama Islam. Prosesi mualaf tersebut berlangsung khidmat dan disaksikan langsung oleh ayah Princessilia, Eddy Rianto, yang turut menjadi saksi. Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam perjalanan hubungan mereka, sekaligus menunjukkan kesiapan Christopher untuk menyelaraskan keyakinan demi membangun rumah tangga bersama.
Sebelum akad nikah digelar, pasangan ini terlebih dahulu melangsungkan prosesi lamaran pada Minggu, 28 Desember 2025. Acara berlangsung di kediaman keluarga Princessilia di kawasan Prabumulih Timur. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa kental, dengan kehadiran keluarga besar serta kerabat dekat dari kedua belah pihak. Prosesi lamaran tersebut menjadi momen pertemuan resmi dua keluarga besar yang berasal dari latar budaya berbeda, namun disatukan oleh tujuan yang sama.
Tak hanya itu, demi memastikan keabsahan pernikahan secara hukum internasional, Christopher dan Princessilia juga telah lebih dulu menyelesaikan pernikahan di Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Langkah ini diambil untuk mengurus seluruh administrasi pernikahan lintas negara, sebuah proses yang kerap memerlukan waktu, ketelitian, dan kesabaran ekstra.
Resepsi pernikahan yang digelar di salah satu hotel di Prabumulih pun berlangsung meriah. Dekorasi elegan berpadu dengan sentuhan adat lokal, menciptakan suasana sakral sekaligus hangat. Para tamu yang hadir tidak hanya menyaksikan kemewahan acara, tetapi juga merasakan keintiman dan kebahagiaan yang terpancar dari kedua mempelai.
Tak mengherankan jika video dan foto pernikahan ini langsung menyebar luas di media sosial. Beragam komentar membanjiri unggahan tersebut. Sebagian warganet menyoroti nilai mahar yang fantastis, sementara yang lain justru terfokus pada makna keseriusan dan keberkahan pernikahan itu sendiri.
“Ini bukan kaleng-kaleng bulenya orang kaya, total mahar Rp12 miliar,” tulis sig*********.
Komentar lain menyoroti bagaimana mahar dipandang sebagai bentuk tanggung jawab dan niat baik. “Masya Allah uang mahar minta izin istri buat usaha jadi berkah,” tulis lsb*****************.
Tak sedikit pula yang menanggapi dengan nada ringan dan humor khas media sosial. “Yang penting bisa bahasa inggris ga sih biar dapat bule,” tulis _fth*********.
Di balik komentar beragam tersebut, kisah Christopher dan Princessilia seakan menjadi cermin bagaimana pernikahan lintas budaya masih memiliki daya tarik besar di mata publik. Bukan semata soal kemewahan atau perbedaan kewarganegaraan, melainkan tentang proses saling memahami, berkomitmen, dan menghormati pilihan hidup masing-masing.
Pernikahan ini juga mengingatkan bahwa di era globalisasi, batas-batas geografis semakin kabur. Pertemuan dua insan dari latar belakang berbeda kini bukan lagi hal mustahil. Namun, yang membuat kisah ini istimewa adalah bagaimana perbedaan itu dijembatani dengan kesungguhan, penghormatan terhadap keluarga, serta kesiapan untuk menjalani kehidupan bersama dengan penuh tanggung jawab.
Lebih dari sekadar viral, pernikahan Christopher dan Princessilia menjadi cerita tentang keberanian memilih jalan hidup, tentang cinta yang dirawat dengan komitmen, dan tentang bagaimana nilai-nilai budaya serta agama tetap mendapat tempat di tengah perbedaan. Sebuah kisah yang, di balik kemewahannya, menyimpan pesan sederhana: bahwa pernikahan bukan hanya soal siapa yang dinikahi, tetapi juga bagaimana dua dunia bersedia berjalan beriringan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










