bukamata.id – Hanya satu kilogram yang memisahkan Rahmat Erwin Abdullah dari lifter Thailand Weeraphon Wichuma. Namun, satu kilogram itulah yang mengubah pertarungan sengit di Nagoya menjadi pesta emas bagi Indonesia.
Rahmat memilih beban 206 kilogram pada percobaan clean and jerk terakhirnya. Barbel terangkat, terkunci di atas kepala, dan papan skor menunjukkan total 366 kilogram.
Sebelumnya, Weeraphon telah mengangkat 205 kilogram dan mengoleksi total 365 kilogram.
Rahmat menjawabnya dengan satu kilogram lebih berat.
Hasil akhirnya, Rahmat berdiri di podium tertinggi nomor 75 kilogram putra angkat besi Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Ia mencatat 160 kilogram pada snatch dan 206 kilogram pada clean and jerk. Weeraphon meraih perak dengan total 365 kilogram, sedangkan Ri Chong Song dari Korea Utara memperoleh perunggu dengan 357 kilogram.
Lebih dari sekadar emas, catatan 366 kilogram total angkatan dan 206 kilogram clean and jerk juga menjadi rekor dunia baru kelas 75 kilogram.
Bagi Indonesia, emas tersebut menjadi emas kedua di Asian Games 2026.
Tetapi bagi Rahmat, kemenangan di Nagoya terasa seperti sebuah halaman baru dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
Perjalanan itu bermula dari Makassar.
Dari keluarga lifter, Rahmat mengenal barbel sejak kecil
Rahmat Erwin Abdullah lahir di Makassar, 13 Oktober 2000. Ia tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan olahraga angkat besi.
Ayahnya, Erwin Abdullah, merupakan mantan lifter nasional yang kemudian menjadi pelatih Rahmat. Sementara ibunya, Ami Asun Budiono, juga pernah menjadi atlet angkat besi.
Dengan latar keluarga tersebut, dunia barbel bukan sesuatu yang asing bagi Rahmat.
Sejak usia muda, ia sudah menjalani proses pembinaan dan mengikuti berbagai kejuaraan. Catatan kariernya kemudian berkembang dari level junior hingga panggung internasional.
Rahmat tercatat tampil pada IWF Youth World Championships 2017 dan 2018, sebelum berkompetisi di berbagai kejuaraan junior dan senior. Pada 2019, ia mulai memperlihatkan potensi besar dengan meraih emas Asian Junior Championships di Pyongyang serta emas SEA Games Filipina.
Dari sinilah perjalanan Rahmat menuju jajaran elite angkat besi dunia mulai terbentuk.
Perunggu Olimpiade Tokyo menjadi titik penting
Salah satu pencapaian besar Rahmat datang di Olimpiade Tokyo 2020, yang digelar pada 2021.
Ketika itu, Rahmat meraih medali perunggu kelas 73 kilogram dengan total angkatan 342 kilogram.
Medali tersebut menjadi salah satu penanda bahwa lifter asal Makassar itu mampu bersaing di panggung olahraga terbesar dunia.
Namun Rahmat tidak berhenti pada medali.
Kekuatan utamanya justru semakin terlihat ketika ia mulai mengejar angka-angka yang sebelumnya dianggap sulit ditembus.
Pada Kejuaraan Dunia 2022 di Bogotá, Kolombia, Rahmat mengangkat 200 kilogram clean and jerk di kelas 73 kilogram dan mencatat rekor dunia.
Setahun kemudian, pada Asian Games Hangzhou 2022 yang berlangsung pada 2023, ia kembali mempertajam rekor clean and jerk menjadi 201 kilogram sekaligus mencatat total 359 kilogram.
Namanya semakin dikenal ketika mencoba kelas 81 kilogram.
Pada Kejuaraan Dunia 2023 di Riyadh, Rahmat mengangkat 209 kilogram clean and jerk. Rekor tersebut kemudian tercatat sebagai salah satu pencapaian penting dalam kariernya.
Guinness World Records pada 2025 bahkan secara resmi mengakui dua catatan Rahmat, yakni clean and jerk 209 kilogram kelas 81 kilogram pada 2023 dan 205 kilogram kelas 73 kilogram pada 2025.
Ketika rekor terus naik, persaingan internal justru semakin ketat
Jalan Rahmat menuju Asian Games 2026 tidak sepenuhnya mulus. Salah satu momen penting terjadi menjelang Olimpiade Paris 2024.
Rahmat harus bersaing dengan sesama lifter Indonesia, Rizki Juniansyah, untuk memperebutkan tiket kelas 73 kilogram.
Pada World Cup IWF di Phuket 2024, Rahmat membukukan total 355 kilogram. Rizki mencatat 365 kilogram dan kemudian mendapatkan tiket Indonesia untuk Paris.
Rahmat akhirnya tidak tampil di Olimpiade Paris. Rizki justru kemudian membawa pulang emas dari Paris 2024.
Situasi tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan Rahmat sebagai atlet. Setelah gagal mendapatkan tiket Olimpiade, ia tetap melanjutkan karier dan terus berkompetisi.
Pada Kejuaraan Asia 2025 di Jiangshan, China, Rahmat mencatat tiga emas sekaligus mempertajam rekor clean and jerk kelas 73 kilogram menjadi 205 kilogram.
Perjalanan di kelas 73 kilogram pun ditutup dengan catatan yang sangat kuat. Rahmat kemudian memasuki babak baru dengan kelas 75 kilogram. Dan babak baru itu mencapai puncaknya di Nagoya.
206 kilogram menjadi jawaban Rahmat di Nagoya
Final angkat besi kelas 75 kilogram Asian Games 2026 berlangsung ketat.
Rahmat membuka persaingan di sesi snatch dengan catatan 155 kilogram, kemudian 158 kilogram, sebelum berhasil mengangkat 160 kilogram.
Catatan itu belum membuatnya berada di posisi teratas. Pertarungan kemudian beralih ke clean and jerk. Rahmat membuka dengan 201 kilogram.
Weeraphon Wichuma mampu mengangkat 205 kilogram dan membuat totalnya menjadi 365 kilogram. Posisi teratas sementara menjadi milik lifter Thailand tersebut.
Rahmat kemudian mendapat kesempatan terakhir. Beban yang dipilih: 206 kilogram. Hanya satu kilogram lebih berat dari Weeraphon.
Namun dalam olahraga yang kemenangan dan kekalahannya bisa ditentukan oleh selisih sangat kecil, satu kilogram bisa berarti segalanya.
Rahmat berhasil.
Total angkatannya menjadi 366 kilogram. Indonesia mendapatkan emas. Rahmat juga menorehkan rekor dunia baru untuk total angkatan dan clean and jerk kelas 75 kilogram.
Ada bonus Rp3 miliar di balik emas Rahmat
Prestasi tersebut juga membawa konsekuensi penghargaan dari pemerintah.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menjanjikan bonus Rp3 miliar bagi setiap atlet Indonesia yang meraih medali emas Asian Games 2026. Besaran tersebut lebih tinggi dibandingkan bonus emas SEA Games yang disebut mencapai Rp1 miliar.
Dengan demikian, angka 206 kilogram yang diangkat Rahmat bukan hanya menjadi angka dalam papan skor.
Angkatan itu menjadi bagian dari rekor dunia sekaligus pencapaian yang mendapat apresiasi pemerintah.
Namun, jauh sebelum sampai ke podium Nagoya, Rahmat pernah berada dalam situasi yang sangat berbeda.
Pernah memilih mundur dari Sulawesi Selatan
Pada Februari 2024, nama Rahmat Erwin Abdullah sempat menjadi sorotan bukan karena rekor atau medali.
Kali itu, ia dikabarkan memutuskan tidak lagi memperkuat Sulawesi Selatan.
Keputusan tersebut disampaikan melalui ayah sekaligus pelatihnya, Erwin Abdullah.
Erwin mengungkapkan kekecewaannya terhadap dukungan pemerintah daerah dan persoalan fasilitas latihan. Ia menyatakan pihaknya sudah tidak memiliki harapan terhadap pemerintah daerah maupun organisasi olahraga di Makassar.
Dalam pernyataannya, Erwin juga menyebut persoalan tempat latihan sebagai salah satu masalah yang mereka hadapi.
Ia mengatakan pihaknya bahkan siap mencari daerah lain yang bersedia menaungi Rahmat dan memberikan dukungan terhadap kariernya.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi perbincangan publik.
Namun terdapat pula perspektif dari Pemprov Sulsel. Pemerintah provinsi menyatakan persoalan perpindahan atlet bukan sepenuhnya berada pada kewenangan pemerintah provinsi, melainkan berkaitan dengan mekanisme KONI dan PABSI. Pemprov Sulsel juga menyebut Rahmat telah memperoleh sejumlah bonus atas prestasinya, termasuk capaian di SEA Games, Olimpiade Tokyo, PON, dan SEA Games Kamboja.
Artinya, polemik tersebut tidak hanya memiliki satu versi.
Di satu sisi, keluarga Rahmat menyampaikan keluhan mengenai dukungan dan fasilitas. Di sisi lain, Pemprov Sulsel menyatakan telah memberikan sejumlah bentuk penghargaan dan menjelaskan bahwa persoalan pembinaan serta perpindahan atlet memiliki mekanisme organisasi tersendiri.
Warganet kembali mengingat polemik lama
Kemenangan Rahmat di Asian Games 2026 membuat kisah tersebut kembali muncul di media sosial.
Sejumlah warganet mengaitkan kesuksesan Rahmat di Nagoya dengan polemik dukungan terhadap atlet Sulawesi Selatan yang pernah muncul pada 2024.
Komentar itu terlihat di kolom komentar Instagram @vidiosports.
“Inikah atlet yg kluar dari PON SULSEL krn tdk diperhatikan?” tulis akun @and***.
Komentar lain menyindir persoalan yang sama.
“PON SULSEL LIHAT iniiii maluu g Tuhhhh,” tulis akun @ast***.
Sementara akun @ren*** menyoroti kontribusi cabang olahraga yang dinilai belum selalu mendapat perhatian besar
“Wowww, cabor yg kurang diperhatikan selalu berkontribusi Indonesia,” tulisnya.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bagaimana kemenangan Rahmat di Nagoya kembali membuka ingatan publik terhadap persoalan pembinaan atlet daerah.
Namun, komentar warganet merupakan respons personal di media sosial dan tidak dengan sendirinya membuktikan keseluruhan persoalan pembinaan olahraga di Sulawesi Selatan.
Dari polemik daerah menuju podium dunia
Ada ironi yang menarik dalam perjalanan Rahmat.
Pada satu titik, nama atlet asal Makassar ini muncul dalam pemberitaan karena persoalan dukungan daerah.
Dua tahun kemudian, namanya kembali menjadi perhatian karena berdiri di podium tertinggi Asian Games.
Tetapi jika perjalanan Rahmat dilihat secara utuh, kisahnya tidak hanya tentang polemik tersebut.
Ada proses panjang sejak level junior. Ada ayah dan ibu yang mengenalkan angkat besi. Ada perunggu Olimpiade Tokyo. Ada emas SEA Games. Ada emas Asian Games Hangzhou.
Ada rekor dunia 200 kilogram, 201 kilogram, 204 kilogram, 205 kilogram hingga 209 kilogram pada kelas berbeda.
Dan kini ada 206 kilogram di Nagoya.
Perjalanan itu juga memperlihatkan betapa tipisnya jarak antara keberhasilan dan kegagalan dalam angkat besi.
Di Nagoya, Weeraphon berada di posisi pertama sebelum Rahmat melakukan angkatan terakhir.
Selisihnya hanya satu kilogram. Rahmat mengangkat satu kilogram lebih berat. Medali emas pun berpindah ke tangan Indonesia.
Rahmat dan cerita yang belum selesai
Usai pertandingan, Rahmat tidak hanya berbicara tentang dirinya.
Ia menyebut keluarga sebagai pihak yang menjadi tujuan persembahan prestasinya.
“Untuk anak, sama istri, sama orang tua di rumah,” kata Rahmat seusai pertandingan.
Kalimat sederhana tersebut menjadi penutup yang kuat untuk sebuah perjalanan panjang.
Sebab di balik seorang atlet yang mengangkat 206 kilogram, terdapat keluarga, pelatih, proses latihan, kegagalan, persaingan, perubahan kelas, serta perjalanan panjang menuju level internasional.
Rahmat kini telah melewati banyak fase.
Dari Makassar, ia menapaki kompetisi junior.
Dari panggung junior, ia menuju SEA Games.
Dari sana, ia sampai ke Olimpiade.
Ia kemudian membangun reputasi sebagai pemecah rekor dunia, menghadapi persaingan internal menuju Paris, berganti kelas, dan akhirnya kembali menemukan panggung emas di Asian Games 2026.
Nagoya menjadi tempat di mana seluruh perjalanan itu bertemu.
Rahmat Erwin Abdullah mengangkat 206 kilogram.
Hanya satu kilogram lebih berat dari rival terdekatnya.
Tetapi satu kilogram itu cukup untuk membuat Merah Putih kembali berkibar di podium tertinggi Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Dan kali ini, di balik emas tersebut, ada sebuah cerita panjang tentang anak Makassar yang tumbuh dari keluarga lifter, sempat diterpa polemik dukungan daerah, gagal mendapatkan tiket Olimpiade Paris, lalu bangkit dan kembali memecahkan rekor dunia di panggung Asia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










