bukamata.id – Para peneliti berhasil memecahkan kode Imago Mundi, sebuah lempengan batu dari Babilonia berusia 3.000 tahun. Batu ini dianggap juga sebagai peta tertua di dunia.
Pada batu tersebut tertulis huruf-huruf paku dari abad ke-6 SM. Kemudian terukir juga tampilan udara Mesopotamia, wilayah sarat sejarah yang berada di Sungai Eufrat dan Tigris, atau sekarang dikenal sebagai negara Irak.
Mesopotamia yang ada di peta tersebut dikelilingi oleh sebuah cincin ganda, para pembuat peta mungkin melabeli hal itu sebagai ‘sungai pahit’, atau sungai yang menciptakan perbatasan di sekitar dunia yang dikenal sebagai bangsa Babilonia.
Kemudian, di dalam sungai pahit terdapat lingkaran-lingkaran kecil dan persegi panjang yang melambangkan berbagai kota dan suku di Mesopotamia, termasuk Babilonia, dan persegi panjang lainnya melambangkan Sungai Efrat.
“Anda telah merangkum dalam diagram melingkar ini seluruh dunia yang dikenal di mana orang-orang hidup, berkembang dan mati,” kata Irving Finkel, kurator British Museum dan ahli tulisan paku, mengutip New York Post.
“Namun, peta ini lebih dari sekadar itu,” ujarnya.
Peta ini berukuran 12,2 cm x 8,2 centimeter dan dibuat kira-kira pada abad keenam sebelum masehi. Saat ini, Imago Mundi disimpan oleh pihak British Museum.
Peta ini menggambarkan orang-orang Babilonia memandang dunia ribuan tahun lalu, serta gagasan orang-orang masa lampu terhadap dunia di masa sebelumnya.
Contohnya, dunia kuno ditampilkan sebagai cakram tunggal, yang dikelilingi oleh cincin air yang disebut sungai pahit. Sementara, pusat dunia yang digambarkan peta tersebut terdapat Sungai Efrat dan kota kuno Mesopotamia, Babilonia.
Mengutip Live Science, Imago Mundi juga menggambarkan penciptaan dunia oleh Marduk, dewa utama Babylonia. Deskripsi ini menyebutkan lebih dari selusin hewan, seperti kambing gunung, singa, macan tutul, hyena, dan serigala.
Selain itu, peta tertua di dunia ini juga menceritakan kisah Utnapishtim, seorang raja yang selamat dari banjir besar. Menurut Finkel, hal tersebut merupakan kisah Nabi Nuh dan bahteranya, yang identik dalam agama Samawi atau Abrahamik.
Finkel mengatakan orang-orang Babilonia kuno mempercayai bahwa sisa-sisa bahtera raksasa yang dibangun pada tahun 1800 SM oleh Nabi Nuh versi mereka yang bernama Utnapishtim.
Kisah tersebut mengungkap Utnapishtim membuat bahtera raksasa atas perintah Tuhan di seberang sungai di bagian belakang sebuah gunung- yaitu gunung yang sama dengan tempat Bahtera Nuh karam, menurut Alkitab.
“Itu adalah hal yang cukup penting, hal yang cukup menarik untuk dipikirkan karena hal itu menunjukkan bahwa ceritanya sama, dan tentu saja, yang satu mengarah ke yang lain,” jelas Finkel.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










