Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Waktu Imsak Bandung Hari ke-26 Ramadhan, Pastikan Sahur Tepat Waktu

Senin, 16 Maret 2026 03:00 WIB
Viral video ukhti mukena pink.

Warganet Penasaran Video Mukena Pink Tanpa Sensor, Hati-Hati Link Berbahaya

Senin, 16 Maret 2026 01:00 WIB
Persib Bandung

Persib Gagal Menang, tapi Poin Tetap di Puncak Klasemen Super League

Minggu, 15 Maret 2026 22:48 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Waktu Imsak Bandung Hari ke-26 Ramadhan, Pastikan Sahur Tepat Waktu
  • Warganet Penasaran Video Mukena Pink Tanpa Sensor, Hati-Hati Link Berbahaya
  • Persib Gagal Menang, tapi Poin Tetap di Puncak Klasemen Super League
  • Ledakan Misterius Hancurkan Kontrakan 19 Kamar di Cileunyi, Satu Penghuni Terluka
  • Atur WFA Saat Libur Nyepi–Lebaran 2026, Pemkab Bandung Pastikan Pelayanan Publik Tetap Jalan
  • Pulang Umrah, Bupati Bandung Dadang Supriatna Langsung Tinjau Banjir Bandang Desa Panyadap Solokanjeruk
  • Ramadan 2026 Heboh! Link Video Mukena Pink No Sensor Tersebar, Begini Isi Videonya
  • Bukan Main Layangan, Bocah 10 Tahun Ini Malah Sibuk Masak dan Urus Orang Tua Sakit!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 16 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kunci Masa Depan Bandung, Farhan Yakini Pembangunan Berkelanjutan Harus Terukur dan Teruji

By Putra JuangKamis, 6 November 2025 13:15 WIB2 Mins Read
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan meyakini pentingnya pembangunan yang berkelanjutan dan terukur bagi masa depan Kota Bandung.

Setiap langkah pembangunan harus memiliki arah keberlanjutan yang bersifat struktural, agar tidak berhenti hanya karena adanya pergantian pemimpin atau kebijakan.

Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Bandung Sustainability Summit 2025 yang digagas bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (6/11/2025).

“Satu hal yang luar biasa adalah kita mulai sadar bahwa apapun yang dibuat di Kota Bandung ini harus berkelanjutan. Keberlanjutan itu harus bersifat struktural, sehingga siapapun nanti yang memimpin, konsep pembangunan tetap berjalan secara konsisten,” ujar Farhan.

Baca Juga:  Didominasi Roda Empat, Arus Lalin di Kota Bandung Ramai Lancar pada H+3 Lebaran

Menurutnya, Bandung Sustainability Summit menjadi forum penting karena membahas keberlanjutan bukan hanya sebagai ide atau wacana, melainkan juga sebagai pengukuran yang nyata dan terukur.

“Sustainability itu tidak hanya jadi kesepakatan bersama, tapi juga harus jadi ukuran yang bisa dihitung. Kita mulai dulu dari sektor infrastruktur, karena ini fondasi dari banyak hal lainnya,” jelasnya.

Untuk itu, Farhan mengajak kalangan akademisi, terutama dari ITB, untuk menjadikan wilayah-wilayah di Kota Bandung sebagai living lab atau laboratorium hidup dalam pengembangan solusi berkelanjutan.

Baca Juga:  Menjelajahi Destinasi Wisata Sejarah di Kota Bandung

“Saya sekarang setiap hari berkantor di kelurahan lewat program Prakarsa Utama. Dari sana saya lihat, tiap RW punya permasalahan yang unik. Saya mengundang teman-teman akademisi untuk datang ke wilayah, bantu cari solusi. Dari 1.597 RW ini nanti kita jahit jadi sistem yang berkesinambungan,” tuturnya.

Ia mencontohkan, setiap wilayah di Bandung memiliki karakter geografis dan tantangan lingkungan yang berbeda.

Mulai dari Punclut di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, hingga Cimincrang yang berada di 680 MDPL, masing-masing memiliki karakter hidrometeorologi dan persoalan infrastruktur tersendiri.

Baca Juga:  Prakiraan Cuaca Bandung Sabtu, 29 Maret 2025: Hujan Ringan di Beberapa Wilayah

“Ini yang menarik dari Bandung. Kondisi alam dan masyarakatnya beragam, jadi penyelesaiannya juga harus khas tapi tetap punya arah yang sama yaitu keberlanjutan,” tambah Farhan.

Hal tersebut juga berlaku untuk penanganan sampah di tiap kawasan. Farhan menjelaskan, setiap daerah memiliki karakter sampah berbeda, sehingga perlu penanganan yang tepat sesuai jenis dan sumbernya.

“Misalnya di kawasan Ciwastra dan Gedebage banyak sampah organik, sedangkan di Cigondewah lebih banyak limbah tekstil dan plastik. Semua itu harus diselesaikan dengan sistem yang berkelanjutan, bukan hanya solusi sesaat,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Kota Bandung Muhammad Farhan pembangunan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Waktu Imsak Bandung Hari ke-26 Ramadhan, Pastikan Sahur Tepat Waktu

Ledakan Misterius Hancurkan Kontrakan 19 Kamar di Cileunyi, Satu Penghuni Terluka

CPNS Kemenag

Atur WFA Saat Libur Nyepi–Lebaran 2026, Pemkab Bandung Pastikan Pelayanan Publik Tetap Jalan

Pulang Umrah, Bupati Bandung Dadang Supriatna Langsung Tinjau Banjir Bandang Desa Panyadap Solokanjeruk

Bukan Main Layangan, Bocah 10 Tahun Ini Malah Sibuk Masak dan Urus Orang Tua Sakit!

Doa Buka Puasa dan Jadwal Adzan Maghrib Bandung 15 Maret 2026

Terpopuler
  • Viral Video Kebun Sawit Ibu Tiri vs Anak Tiri, Apa Isinya? Hati-hati Jebakan Batman!
  • Video Aksi Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Viral, Link Diburu Netizen
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Fenomena Ukhti Mukena Pink Viral di TikTok, Pakar Ingatkan Bahaya Tersembunyi di Balik Link Video
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.