bukamata.id – Jagad media sosial kembali dihebohkan oleh video viral berjudul “Cukur Kumis” yang ramai diperbincangkan di TikTok dan X (sebelumnya Twitter).
Video ini memicu lonjakan pencarian daring, di mana warganet berburu tautan lengkap dari konten yang sebenarnya sederhana ini.
Fenomena ini menjadi studi kasus menarik mengenai bagaimana algoritma media sosial dan psikologi rasa penasaran publik dapat membuat konten biasa menjadi sensasi digital.
Konten Sederhana, Judul Provokatif
Video ‘Cukur Kumis’ menampilkan rutinitas seorang pria yang sedang mencukur kumisnya. Tidak ada adegan terlarang, konflik, atau kejadian dramatis, konten ini murni dokumentatif. Kontras antara judul yang provokatif dan isi yang biasa inilah yang menjadi inti viralisasi.
Fenomena ini menegaskan bahwa dalam ekosistem media sosial, curiosity gap atau rasa ingin tahu audiens sering kali lebih kuat daripada nilai konten itu sendiri.
Peran Algoritma dan Clickbait
Algoritma TikTok dan platform media sosial lain memprioritaskan konten dengan interaksi tinggi, klik, komentar, dan berbagi.
Judul provokatif seperti ‘Cukur Kumis’ mendorong klik dan pencarian masif, yang kemudian diinterpretasikan sebagai “sinyal popularitas” oleh algoritma. Akibatnya, konten ini menyebar luas, meskipun nilai informatifnya rendah.
Fenomena ini juga menunjukkan perilaku psikologis warganet yang ingin menemukan versi lengkap atau tidak disensor dari konten viral. Judul ambigu memberi ruang bagi imajinasi publik, yang memicu gelombang pencarian yang besar dan cepat.
Dampak terhadap Literasi Digital
Kasus ini menyoroti beberapa hal penting:
- Video viral tidak selalu berkualitas: Konten sederhana bisa viral hanya karena judul yang memancing penasaran.
- Risiko clickbait: Pengguna internet rentan terhadap judul yang menyesatkan, yang bisa dimanfaatkan untuk penipuan atau malware.
- Pentingnya literasi media digital: Publik harus dilatih bersikap kritis terhadap judul provokatif dan berhati-hati saat mengakses tautan dari sumber tidak jelas.
Pelajaran dari “Cukur Kumis”
Viralisasi kini lebih dipengaruhi oleh mekanisme psikologis dan algoritmis daripada nilai intrinsik konten. Rutinitas sederhana seperti mencukur kumis, ketika dikemas dengan narasi yang tepat, dapat mendominasi ruang digital.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua video viral itu sensasional kadang, yang viral hanyalah kegiatan sehari-hari yang dibungkus dengan strategi clickbait efektif.
Bagi kreator konten dan jurnalis, fenomena ini menegaskan pentingnya pemicu rasa penasaran untuk menarik perhatian audiens.
Sementara bagi publik, ini menjadi peringatan agar tidak mudah terjebak clickbait dan tetap mengedepankan penilaian kritis terhadap konten yang dikonsumsi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











