Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
CPNS

BREAKING! Pemerintah Tunda Seleksi ASN 2026, Formasi Belum Diumumkan

Minggu, 29 Maret 2026 16:00 WIB

Live Streaming! Indonesia vs Bulgaria Malam Ini, Klik Link Resmi Nonton Final FIFA Series 2026

Minggu, 29 Maret 2026 15:25 WIB

Gila! Persib Siapkan ‘Skuad Monster’ 2026/2027, 4 Pos Krusial Langsung Disikat

Minggu, 29 Maret 2026 14:18 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • BREAKING! Pemerintah Tunda Seleksi ASN 2026, Formasi Belum Diumumkan
  • Live Streaming! Indonesia vs Bulgaria Malam Ini, Klik Link Resmi Nonton Final FIFA Series 2026
  • Gila! Persib Siapkan ‘Skuad Monster’ 2026/2027, 4 Pos Krusial Langsung Disikat
  • Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 ‘7 Menit’ Ramai Dicara, Ada Link Telegram?
  • Fisik Terbatas, Tekad Tanpa Batas! Adinda Adprilaa: Bukti Nyata Gunung Bukan Hanya Milik Mereka yang Sempurna
  • Duel Panas! Indonesia Bentrok Bulgaria di Final FIFA Series 2026, Siapa Lebih Unggul?
  • Pria Gagal Bunuh Diri di Flyover Kiaracondong Bandung, Motif Asmara Terungkap
  • Persib Gerak Cepat Amankan Bojan Hodak, Negosiasi Kontrak Baru Dimulai
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 29 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Menanti Gebrakan Dedi Mulyadi Dongkrak Ekonomi Warga Jabar, Setop Gimmick!

By Aga GustianaSenin, 30 Juni 2025 09:00 WIB3 Mins Read
Dedi Mulyadi
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (Demul). (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sejumlah kebijakan populis dan simbolis Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dinilai belum mampu menyentuh akar persoalan ekonomi masyarakat di tengah tekanan perekonomian yang kian berat.

Alih-alih menghadirkan kesejahteraan bagi warga Jawa Barat, mantan Bupati Purwakarta dua periode itu malah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang mengancam kelangsungan hidup masyarakat.

Salah satu kebijakan terbaru yang menjadi sorotan adalah larangan rapat dinas di hotel, meskipun Kementerian Dalam Negeri telah membolehkan kembali kegiatan tersebut. Ia berdalih bahwa keputusan ini bertujuan untuk efisiensi anggaran serta bentuk keadilan fiskal bagi daerah dengan pendapatan terbatas.

“Kantor yang ada sudah cukup untuk rapat. Seluruh keputusan pun banyak yang diambil di ruang kerja, bukan di rapat,” ujar Dedi dalam unggahan videonya di Instagram, Kamis (12/6/2025).

Tidak hanya itu, Gubernur Dedi Mulyadi pun melarang study tour bagi sekolah-sekolah di Jawa Barat. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/Kesra tentang 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat Menuju Terwujudnya Gapura Panca Waluya.

Kebijakan-kebijakan tersebut justru menimbulkan efek domino, seperti sektor pariwisata dan perhotelan. Banyak pelaku usaha mengaku kehilangan pendapatan akibat sepinya kegiatan sejak kebijakan itu diterapkan.

Baca Juga:  Mengintip Ancaman di Balik Keindahan Bandung: Sesar Lembang dan Potensi Gempa Besar yang Mengintai

Setali tiga uang, larangan study tour juga nyatanya berdampak terhadap ribuan pelaku usaha yang menggantungkan hidupnya pada sektor terkait, mulai sektor angkutan hingga para pedagang kecil di kawasan wisata yang terdampak langsung akibat sepinya pembeli.

Di lain sisi, Jawa Barat juga dihadapkan pada persoalan terus menurunnya daya beli masyarakat, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga tingginya angka pengangguran.

Namun, hingga saat ini, Gubernur yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu rupanya masih senang dengan kebijakan-kebijakannya yang populis dan simbolis belaka. Padahal, solusi kongkret untuk menyelesaikan akar persoalan ekonomi masyarakat secara menyeluruh sangatlah dinantikan.

Kebijakan Populer, tapi Minim Dampak Ekonomi

Pakar ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi menilai bahwa pendekatan yang diambil Dedi terlalu berfokus pada pencitraan dan kebijakan jangka pendek alias gimmick. Menurutnya, larangan rapat di hotel memang bisa mengurangi pemborosan, namun tetap harus dilaksanakan secara proporsional.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Bakal Kaji Pengelolaan Tanah Bantar Gebang dan Pembangunan Dermaga

“Hotel itu salah satu sumber pajak daerah. Jika semua kegiatan dilarang di hotel, kabupaten dan kota bisa kehilangan pemasukan. Jadi perlu ada relaksasi,” kata Acuviarta kepada bukamata.id, Minggu (29/6/2025).

Acuviarta menekankan perlunya kebijakan yang lebih strategis dan jangka panjang, termasuk membuka peluang investasi asing yang dapat menciptakan lapangan kerja di Jawa Barat.

“Pak Dedi sebaiknya mulai membuka peluang kerja sama luar negeri. Jangan melihat perjalanan ke luar negeri sebagai pemborosan. Justru dengan promosi yang tepat, Jawa Barat bisa menarik investasi yang menciptakan lapangan pekerjaan baru,” tambahnya.

Padahal, menurut data, anggaran belanja modal Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini mencapai Rp5 triliun. Namun, tanpa strategi investasi yang matang, potensi penciptaan lapangan kerja tetap sulit diwujudkan secara maksimal.

Langkah Dedi lainnya yang sering viral di media sosial, seperti pembagian bantuan, juga tidak luput dari kritik. Acuviarta menilai bahwa bantuan semacam ini hanya bersifat sementara dan tidak menjawab masalah struktural.

Baca Juga:  Candaan Dedi Mulyadi Bikin Gubernur Malut Tersipu Saat Jalan Sore di Subang

“Bagi saya tidak cukup jika hanya kegiatan seperti itu. Karena apa? mungkin yang tersorot hanya satu atau dua orang, padahal kan banyak orang yang mengalami persoalan yang tidak tersorot dan itu butuh solusi yang komprehensif,” tegasnya.

Dengan berbagai kritik yang mengemuka, masyarakat kini menantikan langkah korektif sekaligus gebrakan dari Gubernur Dedi Mulyadi agar ekonomi warga Jabar kembali bergeliat. Di tengah kompleksitas tantangan ekonomi, pendekatan simbolik dinilai tidak cukup untuk menjawab kebutuhan warga Jawa Barat secara menyeluruh.

Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I tahun 2025 tercatat sebesar 4,98% (year-on-year), sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 4,87%. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi tersebut bersifat makro dan tantangan struktural masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk diselesaikan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Ekonomi Jabar fiskal daerah HL investasi kebijakan Jawa Barat kritik kebijakan Larangan Rapat di Hotel pariwisata study tour
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

CPNS

BREAKING! Pemerintah Tunda Seleksi ASN 2026, Formasi Belum Diumumkan

Fisik Terbatas, Tekad Tanpa Batas! Adinda Adprilaa: Bukti Nyata Gunung Bukan Hanya Milik Mereka yang Sempurna

Pria Gagal Bunuh Diri di Flyover Kiaracondong Bandung, Motif Asmara Terungkap

Pengelola Wisata Rahong Sigap Tangani Bencana Pohon Tumbang di Pangalengan, Evakuasi Berjalan Cepat

Berani Banget! Sambil Mandi Lumpur, Bocah Gemoy Ini Kritik Pedas Jalan Rusak

Donald Trump

Bukan Selat Hormuz, Donald Trump Kini Beri Nama Baru ‘Selat Trump’ di Tengah Konflik Iran

Terpopuler
  • Mumpung Masih Aktif! Sikat Kode Redeem FF 28 Maret 2026: Peluang Dapat M1887 SG Ungu dan Bundle Sultan Gratis
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Netizen Penasaran! Video Viral Kebun Sawit Ini Bisa Mengandung Risiko Digital
  • Heboh! Link Telegram Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit Ramai Diburu, Ini Fakta Sebenarnya
  • Link Video Ojol vs Bule 17 Menit Viral, Ternyata Settingan WNA di Bali demi Konten
  • Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit: Dari TikTok Hingga Ancaman Pidana UU ITE
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.