bukamata.id – Di sebuah ruangan yang hening di RSUD Geneng, Ngawi, seorang pria dengan jas putih khas dokter duduk tegak di balik meja konsultasinya. Di hadapannya bukan hanya tumpukan hasil laboratorium atau citra radiologi yang menunjukkan keganasan sel kanker, melainkan sebuah tanggung jawab kemanusiaan yang besar. Namun, ada yang berbeda dari cara dr. Supandi Hasan, Sp.PD, KHOM (Onk) mengawali dan mengakhiri harinya. Di sela-sela napas panjang menangani pasien, bibirnya tak henti bergerak pelan, melafalkan ayat demi ayat Al-Qur’an dengan tartil yang sempurna.
Sosok dr. Supandi Hasan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial. Bukan sekadar karena profesinya sebagai spesialis penyakit dalam konsultan onkologi—sebuah gelar yang sangat langka dan sulit diraih—tetapi karena ia adalah seorang Al-Hafizh, penjaga 30 juz Al-Qur’an di dalam dadanya. Di tengah stigma bahwa profesi dokter spesialis sangat menyita waktu dan melelahkan, dr. Hasan muncul sebagai antitesis: seorang profesional medis yang sukses di dunia, tanpa melepaskan pegangan ukhrawinya.
Harmoni di Lorong Rumah Sakit
Bagi sebagian orang, rumah sakit adalah tempat yang penuh dengan ketegangan. Namun bagi dr. Hasan, setiap sudut rumah sakit adalah tempat untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta. Melalui akun media sosialnya, ia sering membagikan momen-momen sederhana namun sarat makna. Kadang ia terlihat sedang murojaah (mengulang hafalan) saat berdiri di koridor, kadang sembari duduk menunggu pergantian pasien, atau saat berpindah dari satu bangsal ke bangsal lainnya.
Suaranya yang “empuk” dan tenang sering kali membuat netizen terkesima. Banyak yang menyamakan gaya bacaannya dengan Syekh Bandar Balela, salah satu imam besar di Masjidil Haram. Rupanya, sang imam memang menjadi inspirasi utama bagi dr. Hasan dalam melantunkan ayat suci. Keindahan suaranya bukan sekadar estetika, melainkan cerminan dari ketenangan batin seorang dokter yang setiap hari berhadapan dengan hidup dan mati pasiennya.
Seorang warganet, @tuyulpersia, memberikan kesaksian virtualnya: “Masya Allah, ternyata dokter bisa lantunin ayat suci mirip Syekh Bandar Balela. Suaranya memang sangat menyentuh hati, apalagi kalau dengar langsung… bawaannya betah banget.” Sanjungan ini bukan tanpa alasan; dalam dunia medis yang sering kali terasa mekanis dan kaku, kehadiran sosok yang komunikatif sekaligus religius seperti dr. Hasan memberikan warna baru yang menyejukkan.
Akar Pendidikan: Dari Ma’had ke Kedokteran
Kefasihan dr. Hasan dalam menjaga hafalan tidak datang begitu saja. Ia adalah produk dari sistem pendidikan yang seimbang. dr. Hasan merupakan alumnus dari Ma’had Isykarima Tahfidhul Quran, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. Lembaga ini dikenal luas sebagai kawah candradimuka bagi para penghafal Al-Qur’an yang juga didorong untuk berprestasi di bidang sains dan profesional.
Setelah menyelesaikan hafalan dan pendidikan menengahnya, ia melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan lulus pada tahun 2008. Tak berhenti di sana, ia melanjutkan spesialisasi Penyakit Dalam di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Dedikasinya di dunia medis kemudian membawanya meraih beasiswa Fellowship Onkologi dari Kementerian Kesehatan RI di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang.
Perjalanan akademis ini menunjukkan bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an bukanlah penghalang untuk meraih gelar akademik tertinggi. Sebaliknya, disiplin yang ia pelajari saat menghafal 30 juz menjadi modal utama dalam menempuh pendidikan kedokteran yang dikenal sangat berat. Menghafal Al-Qur’an melatih daya ingat, fokus, dan ketahanan mental—tiga hal yang sangat krusial bagi seorang dokter spesialis.
Onkologi: Medan Dakwah Melalui Empati
Sebagai seorang konsultan onkologi medik (KHOM), dr. Hasan menangani pasien-pasien kanker—sebuah penyakit yang tidak hanya menyerang fisik, tapi juga mental dan semangat hidup seseorang. Di sinilah peran ganda dr. Hasan sebagai dokter dan hafiz bersinar. Ia tidak hanya memberikan resep obat atau protokol kemoterapi, tetapi juga memberikan ketenangan spiritual kepada pasiennya.
Saking merdunya suara dr. Hasan saat membaca Al-Qur’an di rumah sakit, beberapa netizen sempat bercanda dan menuduhnya melakukan dubbing. Namun, tuduhan jenaka itu justru mempertegas betapa langkanya menemukan sosok dokter dengan kualitas vokal imam besar. Ia membuktikan bahwa kesibukan sebagai peserta fellowship onkologi yang sangat padat tetap bisa diselaraskan dengan aktivitas spiritual.
Inovasi Digital: Dokter 4.0
dr. Hasan bukan tipe dokter yang kaku dan tradisional. Ia adalah sosok yang adaptif dengan teknologi. Namanya tercatat sebagai peraih Juara I Tenaga Medis Inovatif 2025 di tingkat kabupaten, berkat inovasinya yang bertajuk “PKRS 4.0 Smart Hospital Communication” saat bertugas di RSUD dr. R. Soeprapto Cepu.
Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antara rumah sakit dan pasien menggunakan platform digital. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap agama tidak membuatnya antipati terhadap kemajuan zaman. Justru, ia menggunakan kecerdasannya untuk mempermudah pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas. Saat ini, pengabdiannya berlanjut di RSUD Geneng, Ngawi, di mana ia membuka praktik spesialis penyakit dalam dengan jadwal yang teratur, melayani masyarakat dengan standar profesionalisme tinggi.
Keluarga Dokter: Saling Menjaga, Saling Murojaah
Kehidupan pribadi dr. Hasan pun tak luput dari sorotan positif. Ia menikah dengan seorang wanita yang juga berprofesi sebagai dokter spesialis. Dalam salah satu video yang viral berjudul “POV: Suami Istri Dokter Spesialis Kerja Satu Rumah Sakit”, netizen diperlihatkan bagaimana harmoni rumah tangga dibangun di atas fondasi ilmu dan iman.
Ada momen menyentuh saat mereka berada di dalam mobil; sang istri menyetir sementara dr. Hasan duduk di sampingnya sambil melantunkan hafalan Al-Qur’an. Sang istri menyimak dengan khusyuk. Ini adalah potret support system yang ideal. Di tengah kesibukan menangani ratusan pasien, mereka menjadikan perjalanan menuju tempat kerja sebagai waktu untuk murojaah bersama.
“Dalam rumah tangga memang harus ‘SALING’. Saat api menyala, harus bisa jadi air,” tulis dr. Hasan dalam sebuah caption yang inspiratif. Pesan ini menegaskan bahwa kesuksesan karier tidak akan lengkap tanpa dukungan keluarga yang sevisi.
Filosofi Keberhasilan: Mengejar Akhirat, Dunia Mengikuti
Banyak orang yang bertanya-tanya, apa rahasia dr. Hasan bisa tetap konsisten? Dalam beberapa interaksinya dengan pengikut di media sosial, tersirat sebuah filosofi bahwa Al-Qur’an adalah pusat dari segala aktivitasnya. Jika Al-Qur’an diutamakan, maka urusan duniawi seperti karier dan pendidikan akan dimudahkan oleh Allah SWT.
Akun @orangbaik di TikTok meringkas perasaan banyak orang dengan kalimat: “Curang banget ini orang, udah sukses di dunia malah akhiratnya diambil juga.” Tentu kata “curang” di sini adalah bentuk pujian tertinggi (iri yang dibolehkan/ghibthah) karena dr. Hasan berhasil mematahkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia.
Ia adalah sosok dokter idaman masa kini: tampan, rapi, bersih, cerdas, inovatif, dan yang paling penting, memiliki sandaran spiritual yang kokoh. Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa kedokteran, sosok dr. Supandi Hasan adalah mercusuar harapan bahwa menjadi dokter tidak berarti harus meninggalkan impian menjadi penghafal Al-Qur’an.
Penutup: Sebuah Oase Inspirasi
Perjalanan dr. Supandi Hasan, Sp.PD, KHOM (Onk) memberikan kita pelajaran berharga tentang manajemen waktu dan prioritas hidup. Ia mengajarkan bahwa kesibukan seberat apa pun—bahkan menangani kasus kanker sekalipun—bukanlah alasan untuk menjauh dari Al-Qur’an. Sebaliknya, Al-Qur’an adalah sumber energi, ketenangan, dan kecerdasan yang membantunya menjadi dokter yang lebih baik.
Kini, setiap kali dr. Hasan melangkah di lorong RSUD Geneng, ia bukan hanya membawa stetoskop dan resep medis. Ia membawa secercah cahaya melalui ayat-ayat suci yang ia jaga dalam hatinya. Ia adalah bukti nyata bahwa profesionalisme medis dan ketaatan spiritual adalah dua sayap yang bisa membawa seseorang terbang tinggi menuju keberkahan hidup.
Bagi masyarakat Ngawi dan sekitarnya, memiliki dokter spesialis seperti beliau adalah sebuah anugerah. Dan bagi kita semua, dr. Hasan adalah pengingat: setinggi apa pun gelar di dunia, menjaga kalam Allah di dalam dada adalah mahkota yang sesungguhnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










